PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Sudah menikah?


__ADS_3

" Serius kamu Mutia? dia mengenalimu tidak? kenapa kamu nggak mencari pekerjaan yang lebih aman dan tidak bersinggungan lagi dengan keluarga Pak Abdul, kamu tidak takut lama-lama dia akan mengetahui kedok kamu, apalagi sekarang ada Hilmi diantara kalian, jika sampai Arjuna tahu sia sia usaha kita selama ini", ujar Bu Meri panjang lebar penuh dengan nada kekawatiran.


" Terus apa yang bisa Mutia lakukan Bu?", Mutia menata pemerintah dengan wajah kebingungan serta kepasrahan.


" Sebisa mungkin kamu jangan bertemu dengannya jika tidak dalam kondisi yang sangat kepepet, lebih baik kamu hindari jika perusahaan mengadakan pertemuan dengan perusahaan milik Pak Abdul", ucapku Meri penuh kekhawatiran.


" Semoga belum terlambat bu, soalnya sepertinya dia sudah mulai mencurigai Mutia, padahal Muti aku sudah berusaha untuk menyembunyikan diri, seperti penampilan Mutia saat ini juga sudah berubah Bu, Mutia sekarang pakai hijab, ditambah jika perusahaan akan bertemu dengan perusahaan milik Pak Abdul Mutia selalu memakai masker agar tidak terlihat keseluruhan wajahku, dan sebisa mungkin Mutia juga menundukkan pandangan, tetapi Pak Arjuna sepertinya penuh selidik selalu menatap Mutia dengan tajam", ucap Mutia pada Bu Meri seraya membayangkan setiap kali bertemu Arjuna tatapan Arjuna tidak pernah lepas dari wajahnya.


" Jangan-jangan dia mulai curiga dengan mu, tapi kalian kan semenjak kejadian itu tidak pernah bertemu lagi, dari mana dia bisa mengenali wajah mu?", Bu Meri pun memikirkan sesuatu menebak-nebak dalam pikirannya.


" Berapa kali kalian bertemu setelah kejadian itu?", tanya Bu Meri.


" Seingat aku hanya dua kali bu, saat dikumpulkan itu, dan saat malam sialan itu, itu saja".


" Seharusnya dia enggak mengingat mu sih, ataupun jika dia masih mengingat mungkin karena ada sesuatu yang mempengaruhi alam bawah sadarnya untuk mengingat Mu", jawab Bu Meri.


" Mutia sangat berharap Arjuna sedikitpun enggak mengingatku lagi, ? seandainya itu terjadi..... ", Mutia menjeda ucapannya kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, " maafkan aku ibu, mungkin aku harus pindah dari kota ini, aku tidak mengenal Arjuna sebelumnya dan kami hanya bertemu dua kali sebelum akhirnya terjadi kerjasama ini, tapi jika pertemuan kami kemudian mengusik hidupku lebih baik aku menyingkir sejauh mungkin Ibu, Aku hanya ingin berenang bersama dengan Hilmi", ucapan mutiara terdengar bergetar menahan kepiluan tidak sanggup jika terpisahkan dari anak kesayangannya.


" Dan ibu akan mendukung segala keputusan mu nak, meskipun harus berjauhan denganmu dan harus merindukan Hilmy, ibu akan berusaha tegar". Bu Meri mengusap lembut punggung Mutia.


" Untuk apa coba jika dia mengusik kehidupanku Bu, toh dia sudah punya anak istri, tapi semoga dugaanku ini salah, buat apa juga ada mengusik hidupku, Iya kan Bu... aneh bukan jika dia sampai mengusikku?", Mutia mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri.


" Iya sih sebetulnya, namun kamu harus tetap waspada Ra", Bu Meri mengingatkan.


" Iya bu pasti mutiara akan selalu waspada Bu".


" Ya sudah ini di makan dulu tadi ibu bikin cake", Bu Meri mengeluarkan cake rasa keju yang telah ia buat dari dalam lemari pendingin.


" Wah sepertinya enak sekali", mata Mutia langsung terbelalak air liurnya pun langsung memenuhi rongga mulutnya kudapan itu begitu menggoda selera nya.


" ayo cicipin, potongin juga buat Hilmi", Bu Meri menyadarkan pisau sekaligus piring kecil untuk tempat cake tersebut.


" Henmm ... Enak bu", Mutia sangat menikmati cake buatan bu Mery dengan lahapnya.


" Menikahlah jika ada pria yang mendekatimu dan pria itu sangat baik padamu dan juga Hilmi, biar tidak diganggu terus oleh Arjuna", Ucap bu Mery.

__ADS_1


" Entahlah Bu, tapi pastinya Aku juga mau menikah cuma belum ketemu saja yang cocok".


" Pasti yang mendekatimu banyak pilihlah salah satu dari mereka yang menurutmu baik dan tanggung jawab".


" Tidak juga bu", ucap Mutia dengan tertunduk.


" Itu karena kamu tidak terbuka, kamu selalu menutup diri, cobalah untuk terbuka berilah kesempatan orang-orang di sekitarmu untuk mengenalmu supaya kamu tercepatnya mendapatkan pasangan".


Mutiara manggut manggut membenarkan ucapan ibu angkatnya, memang fia mengakui jikaselama ini dia memang sangat tertutup dengan siapapun kecuali pada ibu angkatnya ini dan juga pada bibi.


" Mungkin prasangka ku salah bu, sepertinya jika pak Arjuna melihatku itu hanya penasaran saja dan ingin menyapa saja tidak lebih", Ujar Mutia setrlah berdiam beberapa saat.


" Bisa jadi, untuk apa dia ingin mengganggu mu, dia kan tidak tahu jika kamu punya anak dengan nya, lebih baik santai saja, tidak usah khawatir".


" Iya bu, aku yakin kak Aldi bisa jaga rahasia ini".


Dan mereka pun melanjutkan bincang-bincang mereka nggak waktu menjelang sore.


" Hilmy pamit sama oma gih, kita pulang", ujar Mutia pada putranya.


" lain kali saja Oma".


" mainannya sudah dibereskan semua Hilmi?", tanya Mutia pada putranya.


" sudah rapih dan bersih kembali ke tempat semula Bunda", ucap bocah itu meyakinkan dan tegas.


" Bagus, pamit sama omah kalau begitu", Hilmi kemudian menyalami Omanya dan mencium punggung tangan Nya, tu Meri membalas dengan memeluk bocah itu erat.


" Sering-sering ya bermain kesini tengokin Oma".


" Baik Oma",


" Bu kami pulang dulu ya, salam buat bapak dan Mbak Winda sekeluarga", pamit Mutia kemudian mengeluarkan motornya dari garasi.


" Hati-hati di jalan jangan ngebut", pesan Bu Meri.

__ADS_1


" Iya Bu, kami pamit Assalamualaikum".


🌹


Berhubung besok paginya masih hari libur yakni hari Minggu Mutia bermaksud berbelanja di sebuah mall dengan membawa Hilmi ikut serta dengannya, sekalian mengajak anak itu untuk refreshing.


" Capek Bunda Hilmi haus", keluh bocah itu dengan kekeringan menetes dari keningnya.


" kalau begitu masih ada yang kamu inginkan nggak, jika tidak ada lagi kita segera antri untuk membayar kemudian kita menuju pujasera dan kita makan di sana ya", bocah itu mengangguk setuju.


" Kamu kok bisa keringetan gitu sih?",


" Kan kita sedari tadi berjalan terus bunda, itu buat aku capek dan berkeringat", jawab Hilmi mengutarakan alasannya dirinya berkeringat.


" Iya kamu mudah sekali berkeringat nak".


" oke beres yuk, kita menuju pujasera Kamu mau makan apa?", tanya Mutia.


" chicken aja Bun".


" ok!".


Saat Mutia dan Hilmi hendak menuju pujasera tersebut mereka berpapasan dengan Arjuna yang juga tengah berjalan-jalan dengan Kania mereka tengah mendorong stroller bayi.


Sebisa mungkin Mutia hendak menghindari pertemuan muka dengan Arjuna sehingga dia membelokkan jalannya.


Namun rupanya Arjuna sudah lebih dulu melihat Mutia dari jauh, meskipun diam Arjuna memperhatikan untuk meyakinkan yang dilihat adalah betul Mutia.


Arjuna mengerutkan keningnya saat pandangan matanya mengikuti arah jalan Mutia dan melihat Mutia tengah menggandeng seorang anak laki-laki.


" Oh rupanya dia sudah menikah dan punya anak", batin Arjuna ada rasa sedih dalam hatinya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2