
Mutia menghela nafas panjang, hari ini atasannya menyuruhnya nya untuk pengerjaan suatu proyek.
Mutia takut nanti pulangnya kesorean, tentu hal itu membuat dia risau akan keadaan putranya jika nanti telat menjemput di daycare.
" Sus..... Maaf sebelumnya bisakah saya menitipkan Hilmi hingga sore atau bahkan malam soalnya saya ada pekerjaan tambahan mungkin akan telat menjemput Hilmi", Mutia mengirimkan pesan kepada pengasuh Hilmi di daycarenya.
" Gelisah banget ada apa sih?", Irfan yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan kerja Mutia dan melihat Mutia seperti sedang banyak pikiran akhirnyapun menegurnya.
" Iya nih aku jam 2 nih harus keluar menemui klien di proyek baru kita".
" Oh proyek pembangunan gedung sekolah luar biasa itu? ", tanya Irfan.
" iya, kata big boss kita proyek itu akan dikerjakan seminggu lagi dan saya harus mengasihi anggaran dana yang diajukan karena sudah fix segitu hasil dari rapat kemarin ya mau enggak mau cuma lagi mikirin Hilmi nih jika aku telat menjemput pasti dia akan marah.
Ting
Ponsel Mutia bergetar menandakan ada pesan masuk, dan benar saja itu adalah pesan jawaban dari suster yang mengasuh Hilmi.
" Baik bu, tetapi saya hanya bisa sampai jam 8 dan ibu tahu kan peraturan di daycare ini setiap jam tambahannya biayanya lebih besar mohon maaf jika saya harus mengingatkan hal ini bu, terima kasih".
Setelah membaca pesan itu pun kemudian Mutia membalasnya kembali.
" Iya Sus, Saya mengerti, saya titip Hilmi dulu ya Sus, terima kasih".
Setelah membalas pesan dari suster yang menjaga Hilmi kemudian Mutia kembali melanjutkan obrolan nya bersama dengan Irfan.
__ADS_1
" Sorry mut, kali ini sepertinya kita beda proyek bos mengirimku untuk menangani proyek yang di luar Jawa kemungkinan satu bulan aku di sana semoga dalam satu bulan selesai", ucap Irfan.
" oke tak masalah, semoga proyek yang di sana lancar, Aku di sini bersama dengan Pak Jodi".
" Pak Jodi?", Irfan memiringkan kepalanya mengingat tentang sosok yang disebutkan oleh Mutia.
" itu Pak Jodi yang di bagian perencanaan, bos mengirim dia untuk menemaniku di proyek ini", jawab Mutia yang langsung dianggap suci oleh Irfan sebab langsung mengerti maksud orang yang disebutkan.
" Oh aku tahu, meskipun orang yang seperti sinis begitu tapi dia orangnya tegas Mutia bagus jika kamu dikirim bersama dengan Pak Jodi semoga proyekmu sukses dalam waktu cepat sebelum target, Pak Jodi itu udah senior dan tepat perhitungannya jangan khawatir", Irfan merasa jika Mutia dikirim bersama dengan Pak Jodi maka hati Irfan merasa tenang sebab Mutia bersama seorang patrner kerja yang tepat.
" Memang dia orangnya seperti apa Fan?", Mutia ingin lebih tahu mengenai Pak Jodi karena belum pernah mengerjakan proyek bersama-sama dengan beliau ini.
" Orangnya tegas, rinciannya itu harus teliti dan tepat, disiplinnya tinggi, namun sebetulnya orangnya baik meskipun kelihatan menyeramkan seperti itu, jangan lihat orangnya yang pendek tapi lihat nanti cara kerjanya kamu pasti menyukainya dan kagum dengan segala pemikirannya, aku tenang jika kamu bekerja dengan dia soalnya orangnya ngomong bang selain memang sudah usianya udah matang dah memang orangnya kebapaan sekali".
" Baru kamu ceritakan saja aku sudah tenang, selama ini kita mengerjakan proyek selalu bersama Hanya Sekali saja aku bersama dengan Budi saat itu, trauma aku, nggak bisa diajak kerja maunya cepat-cepat pulang mulu jadi berantakan proyeknya meleset biayanya melambung selesainya tidak sesuai waktu yang ditargetkan, aku nggak bisa bekerja sama dengan orang seperti itu".
" Sudahlah sebentar lagi aku mau makan siang terus lanjut bertemu dengan klien, Mabar makan atau kamu udah janjian dengan orang lain?", tanya Mutia pada Irfan.
" Aku sepertinya mau makan di kantin aja, kamu mau di mana?".
" ya sama aku di kantin juga".
" Ya sudah ayo kita bareng ke sananya".
Mutia dan Irfan pun akhirnya pergi ke kantin bersama namun di sana mereka berpisah karena Mutia makan dengan teman-teman perempuannya sedangkan Irfan memilih dengan teman laki-lakinya mereka sama-sama membicarakan proyek yang akan mereka kerjakan masing-masing.
__ADS_1
" Han, siapa ini aku mau ada pertemuan dengan klien untuk membahas proyek baru perusahaan kita dengan PT MM, kamu sudah pernah ya mengerjakan proyek dengan perusahaan ini?", tanya Mutia kepada sahabat karibnya Jihan.
" Oh kau bagian mengerjakan proyek dengan PT MM, sudah aku sudah pernah, dulu aku bekerja sama dengan Pak Abdul sebagai CEOnya dan asistennya yang bernama fajar, orang orangnya baik-baik kok terus harus ontem aja jika kita sedang meninjau proyek mereka orangnya teliti", jawab Jihan yang memang sudah pernah bekerja dengan PT MM.
" semoga aku juga bertemu dengan mereka sehingga seperti sudah terhubung begitu antara perusahaan kita dengan PT MM".
" ya semoga... selamat ya mudah-mudahan proyek kali ini sukses luar biasa", kecap Jihan pada teman baiknya Mutia meskipun mereka mengenal belum berapa lama karena Mutia termasuk karyawan baru di tempat ini Mutia baru bekerja 1 tahun lebih.
" Jangan marah ya kalau aku banyak nanya nanti soalnya ini ini baru pertama menangani proyek yang sebesar ini, biasanya sama Irfan kami cuma dipercaya proyek-proyek kecil saja dan kami sekarang di pisah untuk menangani proyek yang sangat besar seperti ini", wajar Mutia yang sebenarnya merasa belum terlalu percaya diri untuk menangani proyek yang besar.
" Jangan sungkan tanya aja pasti akan aku jawab jika aku mengerti, berapa proyek yang dipegang kamu dengan PT MM?", tanya Jihan.
" Pertama pembangunan sekolah luar biasa dari TK sampai SLTA, yang kedua pembangunan hotel bintang 5 di pusat kota tapi untuk hotel ini akan dimulai 3 bulan kedepan", jawab Mutia.
" wow fantastic.... keren, rezeki kamu itu Mut, langsung dipercaya memegang project sebesar itu, sukses terus... jangan takut untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang agar bisa dieksplor dalam proyek ini", pacar Jihan yang memang sudah pengalaman lebih lama dalam menangani proyek seperti itu meskipun mereka berdua hanya sebagai pengendali keuangan namun mereka selalu ikut terjun langsung melihat proyek tersebut saat dalam pengerjaan.
" Terima kasih kakak Jihan", ucap Mutia manis.
" Panggil Jihan aja biar aku merasa muda masih seperti usia denganmu", wajah Jihan langsung berubah sinis, dari dulu pertama Mutia kerja Jihan memang tidak mau dipanggil kakak meski usia mereka terpaut lumayan jauh.
" Aku ini masih muda kamu yang udah tua kamu kan udah punya anak aku masih gadis", ucapnya.
" Iya atuh maaf.... Jihan", merekapun kemudian terkekeh berdua.
-
__ADS_1
Bersambung.....