
" Begini saja mas, sebetulnya semua syarat-syarat untuk Meri berobat itu sudah mulai kami urus dari seminggu yang lalu dan kami akan berangkat itu di hari Senin jam 10 pagi karena akan bertemu dengan dokternya itu beliau menjanjikan kalau tidak Selasa jam 4 sore kemungkinan Rabu pagi jam 9, jadi sebaiknya acara ini kita adakan di hari Jumat malam Sabtu ataukah Sabtu malam Minggu atau mungkin Sabtu pagi saja, tidak masalah kan Mer? kamu tidak akan merasa capek kan dengan jeda waktu yang hanya di hari Minggu itu sebelum berangkat?", kali ini yang berbicara suami dari ibu Meri.
Bu Meri hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa yang dibicarakan oleh suaminya itu memang begitu adanya.
" Oke agar semua bisa datang khusus saudara yang masih memiliki anak sekolah maka acara diadakan Sabtu pagi agar tidak mengganggu aktivitas sekolah anak-anak mereka untuk menghadiri pernikahan Arjuna dan Mutia, bagaimana setuju tidak semuanya jika acara akan kita adakan tepat jam 8 pagi di lanjut dengan resepsi saja tidak usah malam hari pagi hari saja, takutnya sang pengantin masih trauma jika diadakan malam hari karena kecapean resepsi Akhirnya salah masuk kamar lagi", ujar Pak Abdul Muis dengan tersenyum lebar, ditimpali semua pun ikut tertawa mengenang kejadian kurang lebih 6 tahun yang lalu itu.
Arjuna dan Mutia pun hanya tersenyum, meskipun bukan senyum bahagia karena mengingat kenangan itu tetapi hati mereka merasakan kesedihan dan kepedihan tersendiri.
" Jangan salah lagi ya nanti", kak Winda menyeletuk.
" jangan dong kami semua mau mengawal sampai mereka memasuki kamar yang seharusnya ditempati oleh pengantin yang sesungguhnya", kali ini yang menjawab Pak Bahar dengan lantang.
" Iya setuju Pak kami semua akan mengawal sampai mereka masuk kamar yang sama", Pak Abdul terkekeh menimpali ucapan pak Bahar.
" Iya setuju!, kalian semua harus mengawal kami hingga memasuki kamar pengantin dan memastikan pasangan saya adalah Mutia bukan yang lain kalau dulu salah, namun kali ini pengantin yang sebenarnya adalah Mutia", sahut Arjuna dengan lantang.
" Kami akan pastikan itu tenang saja tuan muda", sahut suami Bu Meri.
Membuat semua orang tergelak.
__ADS_1
" Saya kira inti dari pembicaraan kita siang ini sudah menemukan kesepakatan dan mufakat bersama, yang mana pernikahan akan diadakan hari Sabtu besok jam delapan pagi akad nikah sampai dengan selesai kemungkinan jam 2 siang di hotel Guava Lux, untuk itu rombongan saya akan pamit, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada keluarga ibu meri yang telah menyediakan tempat serta support yang sangat besar dari keluarga besar ini mudah-mudahan Allah gantikan dengan berkah yang lebih baik amin", ujar Pak Abdul berpamitan karena semua pembicaraan sudah jelas pada inti permasalahannya.
" Sama-sama, Mutia bukan orang lain bagi kami tapi dia adalah anak pagi kami semua, rasanya senang dan lega jika kami semua bisa mengantarkan dia membina kehidupan baru saya yakin Arjuna akan hidup lebih baik bersama Mutia dan juga Hilmi", sahut Pak Bahar ramah.
" Aamiin ... ", sahut semuanya serentak.
" Mohon izin kepada Bapak Ibu semuanya selain pamit saya juga akan membawa Mutia dan Hilmi untuk melihat-lihat gaun yang akan kami kenakan nanti di sebuah butik", ujar Arjuna menyalami semua orang yang ada di situ.
" Iya betul harus gercep, nggak ada lagi waktu, manfaatkan waktu yang ada dengan baik agar pernikahan kalian terlihat sempurna", ucap mbak Winda.
" Assalamualaikum", rombongan Pak Abdul Muis kemudian meninggalkan rumah Bu Meri Pak Abdul Muis beserta istri berada di satu mobil sedangkan Arjuna membawa Mutia dan Hilmi menuju ke sebuah butik.
" Pak Bu Apa kalian mau ikut sekalian fitting baju untuk nanti resepsi?", pacar Arjuna menawarkan kepada kedua orangtuanya untuk menuju putih bersama.
" tidak perlu kamu pergilah ke tailor yang khusus untuk baju pengantin nanti bapak sama ibu biarkan ke butiknya Tante Mela, kami sudah terbiasa memesan segala keperluan baju di sana jadi sudah tahu betul lekuk tubuh ibu dan serta bapak", Ujar bu Aryanti menolak ajakan Arjuna.
" Baik bu", Arjuna kemudian mencium tangan kedua orang tuanya diikuti oleh Mutia dan juga Hilmi.
" Kalian hati-hati ya, jaga Putri dan cucu ibu, jangan kamu buat nangis", ujarku Aryanti sambil menepuk punggung Arjuna sedikit keras.
__ADS_1
" aduh ibu sakit!", suara Arjuna sedikit keras karena memang tapi kan Bu Aryanti cukup keras sehingga punggungnya terasa panas.
" Mau ke bukit mana ini?", tanya Pak Abdul.
" ke butik miliknya tante Yola Pak", jawab Arjuna atas pertanyaan bapaknya tersebut.
" Oh ya butuk milik tante Yola memang cukup terkenal sering dipakai para artis untuk nikah, Bapak setuju".
Arjuna dan Mutia mengangguk kemudian mereka berpisah Pak Abdul dan Bu Aryanti menuju pulang sementara Arjuna Mutia dan Hilmi menuju butik.
Di sepanjang perjalanan nampak Helmi tertidur karena memang kelelahan sehabis main dengan Kenzo dan memang ini adalah jam tidur siang buat Ilmi ketika di daycare nya.
" Terima kasih karena kamu sudah menerima aku sampai di tahap ini, maafkanlah kesalahanku waktu dulu, Maaf aku tak pernah ada untukmu di saat kamu mengandung dan melahirkan bahkan membesarkan Hilmi, semoga momen itu akan terulang kembali Dengan hadirnya adik adik kirimin nanti setelah kita menikah, aku janji hak untuk menjadi suami dan Bapak siaga untukmu dan untuk anak-anak kita nanti", hujan Arjuna meraih tangan Mutia dalam genggamannya.
" Bapak jangan berjanji, karena yang aku butuhkan bukti dan realisasinya, asal bapak tahu aku menerima ajakan Bapak untuk menikah karena semata-mata demi Hilmi, kalau tentang perasaan saya belum bisa mencintai Pak Arjuna tapi saya akan berusaha, maaf jika kejujuran saya ini menyakiti hati bapak", Mutia merasa jika keadaan saat ini adalah suasana yang tepat untuk berbicara dengan Arjuna tentang apa yang dia rasakan.
Arjuna sempat tergagap dan terkejut hampir dia mengerem mobilnya dengan dalam Untung saja itu tidak ia lakukan, ada rasa kecewa di hatinya ketika mendengar bahwa Mutia belum ada rasa dengannya sementara hati Arjuna sudah sangat menggebu nggebu dengan perasaannya.
" Ya.... Yaa... tidak apa-apa aku juga mengerti kok, Iya akan aku buktikan setelah kita nanti menikah, tapi kamu juga harus berusaha ya untuk cinta sama aku, dan jangan panggil aku bapak panggil aku Ayah atau Mas", Arjuna melirik kearah Mutia.
__ADS_1
Bersambung.....