PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Reaksi Arjuna


__ADS_3

Sudah satu minggu semenjak lamaran Arjuna kepada Mutia.


Dan hari ini semua keluarga berkumpul di rumah Bu Meri, namun kali ini yang menginginkan perkumpulan itu Mutia sendiri.


Bukan hanya keluarga Pak Bahar namun juga termasuk kedua orang tua Arjuna pun hadir di sana.


Wajah bahagia terlihat pada Bu Aryanti saat datang di rumah Bu Meri bersama dengan Pak Abdul Muis dan juga Arjuna, nampak jelas pada wajah ketiganya wajah yang menampakan rasa bahagia di undang langsung oleh Mutia.


" Apa kabar Bu Meri", siapa Bu Aryanti ketika mereka bersalaman dan saling mengakrabkan antar keluarga.


" Ya seperti ini, Terima kasih atas kedatangannya", lagu marry dengan senyum ramah.


" Kapan rencana untuk berangkat berobat?", tanya Bu Aryanti kembali sementara Pak Abdul hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


" ibu, niatkan untuk berobat ke luar negeri dengan yakin seyakin-yakinnya insyaallah berhasil, jangan berfikir telah mengorbankan Mutia, tidak sama sekali karena dengan Mutia menerima lamaran Arjuna ataupun tidak saya sekeluarga pribadi ingin membantu memberikan biaya walaupun mungkin tidak bisa 100% tapi akan saya usahakan semaksimal mungkin jadi Ibu jangan pernah berpikiran sedikitpun mengenai perasaan Mutia, kami akan membiayai pengobatan ibu sebagai rasa Terima kasih kami karena Ibu telah merawat serta mendampingi Mutia saat dulu tengah terpuruk tengah mengandung melahirkan hingga membesarkan cucu kami, memang ini tetap ada hubungannya dengan Mutia tapi tidak hubungannya dengan lamaran Arjuna pada Mutia", ungkap Pak Abdul Muis dengan sangat yakin.


Bu Mary dan seluruh anggota keluarganya pun manggut-manggut mengerti memahami dengan maksud dari Pak Abdul.


" Iya Ibu, Ibu jangan ragu lagi untuk menerima penawaran ini, karena saya ya hari ini mengumpulkan semuanya di sini tidak lain dan tidak bukan ingin menyampaikan jawaban saya atas lamaran Pak Arjuna namun jawaban ini tidak ada sangkut-pautnya dengan pengobatan ibu, ini murni dari dalam hati saya, mengenai masa depan saya, tentunya saya akan berpikir masak-masak dan meminta ridhonya", Mutia menggenggam tangan Bu Meri dengan lembut serta menatapnya dengan tersenyum memberikan keyakinan pada pemerintah untuk mau berobat ke luar negeri.


" Pak Arjuna, selama 1 minggu ini saya benar-benar merenungkan semuanya saya berdoa saya memohon kepada rabbku agar saya tidak salah memberikan jawaban, dan hati saya meyakini bahwa saya menerima lamaran Pak Arjuna, namun dengan syarat Pak Arjuna harus bisa membimbingku untuk menjadi wanita yang lebih baik, lebih taat dan juga semuanya harus bernilai ibadah", jawab Mutia tegas.

__ADS_1


Mendengar jawaban Mutia semua orang yang berada di ruangan itu yang tadinya berwajah tegang langsung berubah drastis menjadi sumringah dan penuh senyum lebar serta berucap syukur yang tiada henti-hentinya.


" Alhamdulillahirobbilalamin..... Terima kasih Mutia terima kasih terima kasih sekali nak kamu mau menerima Arjuna maafkan Ibu nak Maafkan papa Maafkan Arjuna, Terima kasih karena kamu memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Ibu berjanji untuk selalu mengingatkan Arjuna agar nya bisa menjadi lebih baik lagi seperti yang kamu inginkan", Bu Aryanti langsung menghambur memeluk Mutia dengan diiringi derai air mata bahagia.


Begitupun dengan anggota keluarga yang lain bahkan tanpa mereka sadari Pak Abdul Muis pun langsung meneteskan air mata.


" Alhamdulillah Mutia... mbak hanya bisa memberikan doa yang terbaik untukmu semoga hari ini adalah awal kebahagiaanmu meskipun kamu akan menjadi menantu orang kaya ingatlah bahwa kamu tetap adikku dan jika Anda apa yang terjadi dalam hidupmu ke sinilah tempat kamu pulang", Winda pun merangkul Mutia dan mengucapkan selamat dengan tangis haru.


Tak terkecuali Bu mari bu Hera Pak Bahar dan suami Bu Meri, semua meneteskan air mata haru.


Namun dibalik keharuan semua orang di ruangan itu, justru 1 orang yang penting yang seharusnya tetap berada di situ dan juga diberikan ucapan selamat oleh semuanya nyatanya sosok tinggi jangkung itu malah tidak nampak dan Entah sudah ke mana.


Iya, begitu Mutia mengucapkan kata-kata dan menerima lamaran dirinya, Arjuna langsung histeris dalam hati saking terharunya, hingga dia memilih berlari meninggalkan tempat itu dan mencari putranya kemudian memeluk sang putra di taman belakang air matanya jatuh tak tertahankan bahkan saking terharunya, Arjuna sampai sesenggukan berkali-kali ku bersujud menjatuhkan dirinya ke tanah, membisikan rasa syukurnya yang tiada tara dengan kalimat-kalimat suci untuk didengarkan langsung ke langit ke-7 dan diijabah oleh ilahi robbi.


" Kenapa ayah nangis?", tanya Hilmi yang tidak mengerti penyebab ayahnya menangis tersedu hingga seperti itu, karena sedari tadi dia memang asyik bermain di teras belakang bersama dengan Kenzo.


" Ayah! ada yang nakalin Ayah ya?", Hilmy menatap ayahnya dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.


" Tidak Nak, Ayah terharu, ayah senang sayang karena kita akan hidup bersama-sama dengan Bunda dalam satu rumah ayah dan bunda akan jadi pengantin", jawab Arjuna kembali memeluk sang putra setelah beberapa kali bersujud di tanah.


" Horee.... Kak Kenzo dengar kan? Ayah sama bunda akan jadi pengantin", Hilmi bersorak kegirangan dengan melompat dan berjoget ria dengan senyum lebar.

__ADS_1


" Iyaaaa", Jawab Kenzo ikut merayakan hiporia Hilmi.


Arjuna kemudian terduduk dan menyandarkan dirinya di dinding teras air matanya terus mengalir bahkan untuk menghampiri orang-orang yang masih di dalam dia belum terpikirkan.


" Ya ampuuunnn..... kok kamu malah disini? Kamu mencoba untuk kabur, mau menghindar setelah Mutia menerima lamaran mu, dasar....", Pak Abdul mengumpati Arjuna yang masih sesenggukan bersandar didinding.


" Pak... ", Arjuna langsung beranjak dan merengkuh bapaknya dengan erat masih dengan sesenggukannya.


" Akhirnya doa doa ku Alloh kabulkan.... padahal aku ini anak yang banyak dosa pak... Aku senang, aku bahagia sekaligus malu pada Mutia, Hilmi dan semuanya pak... hiks", Arjuna tersedu di pundah bapaknya yang membuat pak Abdul speechless kehabisan kata dan hanya bisa mengusap punggung Arjuna.


" Kenapa malu?", Akhirnya kata itu yang terlontar dari pak Abdul.


" Karena aku merasa banyak kesalahan tapi masih diberi kesempatan ini", Jawab Arjuna.


" Jika begitu belajarlah dari kesalahan itu, belajar sabar dan minta petunjuk setiap langkahmu kedepan", Nasehat pak Abdul bijak.


" Iya pak".


" Sudah sana masuk, kasihan Mutia bingung melihat reaksimu tadi, yang lain bahagia karena jawabannya tapi dia malah sedih melihat kamu lari meninggalkan dirinya, dia pikir kamu menyesal karena dia telah menerima lamaran mu", Pak Abdul menepuk pundak Arjuna dan sedikit mendorongnya agar segera menemui Mutia.


" Ya ampun maafkan aku... Astaghfirulloh..", Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar, menyesali reaksinya barusan yang malah menjauhi Mutia.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2