PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
SAH


__ADS_3

Hari ini Mutia terlihat sangat cantik meskipun hari masih pagi dia dan Hilmi sudah berdandan sangat rapi, karena hari ini adalah hari pernikahan pujian dan pak Andre.


Mutia dan Hilmi hendak menghadiri acara akad nikahnya, ya walimatul nikah sahabat terbaiknya tentulah Mutia tidak akan melewatkan dia bahkan akan menjadi saksi mata di acara sakral sahabatnya tersebut.


Sebuah mobil berwarna putih sudah menunggunya saat Mutia sudah mulai berjalan untuk menuju ke tempat acara.


" Assalamualaikum", siapa Irvan seraya menurunkan kaca mobilnya dan menyapa Mutia serta Hilmi dengan ramah.


" Waalaikumsalam Om", Hilmi pun menjawab dengan ramah pula tidak seperti awal-awal ketika Irfan pertama kali datang ke rumah kost Mutia yang disambut dengan sinis dan acuh oleh putra Mutia itu.


" kok bisa kebetulan sih, jadi nggak perlu menunggu lagi, langsung masuk saja yuk!", ujar Irfan yang merasa senang karena secara kebetulan Mutia pun sudah siap untuk dijemput.


" iyalah aku sama Hilmi itu semangat banget buat bersiap-siap dari tadi pagi soalnya ini kan hari bahagianya Ibu Jihan ya Hilmi ya", jawab Mutia seraya mendudukkan dirinya di kursi penumpang di mobil Irfan.


" Hilmi, setelah pulang dari acara pernikahan ibu Jihan mau ya Hilmi Om bawa ke rumah Om Irfan, buat om kenalin dengan bapak ibu Om?", tanya Irfan dengan hati-hati dan dengan rasa harap-harap cemas.


" Ih apaan sih Mas, kok main bawa bawa aja buat dikenalin nggak bilang dulu dari kemarin-kemarin", mendengar perkataan Irfan Mutia langsung bereaksi keras hatinya berdebar-debar hebat dagdigdug tidak karuan meskipun ini bukan momen pertama kali dalam hidup mutiara mengenal sosok laki-laki tapi ketika akan dikenalkan dengan orang tua Irfan terus terang Dia merasa sangat takut.


" Maulah ya Hilmi, mumpung hari ini ada acara Bu Jihan dan Pak Andre maka setelahnya baru mampir ke rumah orang tua Om ya karena sudah dekat kok dari tempat acara ini", Irfan tidak menanggapi keluhan Mutia yang nampak sedikit tidak setuju.


" Tapi kalau bilang dulu kan minimal aku nggak langsung nerves seperti ini mas", jawab Mutia kembali.


" Cuma mampir bukan apa-apa kamu kan belum tahu rumah aku meskipun kita sudah bekerja bersama dan cukup lama kenal", jawab Irfan santai sementara itu Mutia kakinya sudah rasanya lemas kucing dan jantungnya seperti habis berlari maraton.

__ADS_1


" Maaf maksud Mas di sini biar kalian mengenal kedua orang tuaku Setelah itu kita segera menyusul Jihan dan pak Andre", ucap Irfan penuh keyakinan.


Mendengar perkataan seperti itu dari Irfan membuat Mutia kemudian tertunduk ada rasa senang sekaligus rasa takut.


" Jika Mereka menolak ku gimana Mas?", wajah Mutia penuh rasa khawatir.


" ya Mas akan berjuang sampai mereka merestui hubungan kita sampai ke jenjang selanjutnya", ucap Irfan seakan menggampangkan segala urusan.


Hilmi nampak tidak peduli dengan obrolan kedua orang dewasa yang duduk di depan sementara dia sendiri asyik memainkan ponsel sang Bunda dan duduk di kursi penumpang bagian tengah.


Mendengar ucapan Irfan Mutia cukup terharu bahwa pria disampingnya ini akan berjuang untuk dirinya hingga mendapatkan restu kedua orang tuanya.


" Sudah sampai", suara Mutia memecahkan keheningan yang beberapa saat lalu terjadi setelah pembicaraan antara dirinya dengan Irfan.


Mendengar suara bundanya yang sedikit agak keras Hilmi pun kemudian mendongak menatap keluar melalui jendela kaca mobil untuk melihat suasana di luar kemudian memberikan ponselnya kembali kepada bundanya.


Mereka berjalan bertiga setelah memarkirkan mobilnya dan mereka bertiga turun menuju ke tempat acara bu Jihan dan Pak Andre menikah.


Tampak tampak serasi seperti keluarga muda Mutia dengan baju gamis brokat berwarna hijau mint dengan kerudung senada dan Hilmi dengan celana berwarna krem serta baju berwarna senada dengan ibunya sementara Irfan pun memakai celana krem dengan hem batik yang sedikit kehijauan sehingga nampaklah keserasian mereka berjalan menuju tempat diadakannya acara akad nikah yang akan segera dimulai.


Dengan berjalan pelan sedikit melirik ke kiri ke kanan untuk melihat suasana yang telah berada di ruangan yang tampak dihias sangat indah dengan berbagai macam bunga serta hiasan, dengan karpet berwarna merah terbentang lebar serta jajaran kursi yang telah ditata rapi untuk duduk para undangan, mereka bertiga melangkah pelan mencari tempat duduk yang telah diarahkan oleh MUA.


Mutia mengedarkan pandangannya mencari keluarga Jihan khususnya orang tuanya. Dan ternyata mereka sudah siap duduk di depan di dekat dengan meja yang nanti akan dipakai untuk acara akad nikah.

__ADS_1


Karena dari kejauhan Mutia hanya menganggukkan kepala tidak mau mengganggu acara yang akan dimulai nanti saja Mutia pernyatakan bersalaman dan mengucapkan selamat jika acaranya sudah selesai akad nikah.


Tak membutuhkan waktu lama acara akad nikah pun segera dimulai. Terdengar lantunan ayat suci mengalun indah dari seorang qori yang mengawali dan memberikan doa pengantar untuk kedua mempelai


Pak andre tampak gagah mengenakan kan jas berwarna silver dengan wajah yang sedikit tegang kemudian menjabat tangan dari ayah di Jihan dan dengan lantang serta lancarnya mengucapkan ijab qobul dan kemudian disambut dengan suara " SAH".


" alhamdulillahirobbilalamin", seru semua para undangan dan kemudian dilanjut dengan doa untuk kedua mempelai dari penghulu dan nampak wajah Pak Andre yang berubah menjadi sangat lega dan sumringah.


Tak lama setelah itu Bu Jihan dituntun untuk menuju dimana sang suami duduk dan bersiap-siap untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan mereka.


Mutia nampak mengamati dengan seksama ada bulir bening menetes di sudut matanya antara rasa senang dan haru sahabat terbaiknya yang telah dianggap seperti kakak kini telah menemukan tambatan hatinya dan Di sisi hatinya terdalam pun dia sedikit teringat masa di mana Dia pernah berada seperti bu Jihan saat ini.


setelah acara penandatanganan bekas-bekas selesai kemudian merekapun berfoto-foto terutama untuk kedua mempelai yang menunjukkan cincin serta buku nikah mereka di depan kamera dengan senyum yang mengembang di bibir keduanya tidak lupa pula Pak andre juga membawa kedua anaknya yang nampak serasi dengan sama ayah.


" Hilmi, lihat itu di sana ada temen kamu tuh anaknya Pak Andre suaminya Bu Jihan namanya Raka sama Ray", ucap Mutia dengan wajah berbinar pada Hilmi dan Helmi pun merasa senang dan tersenyum serta mengangguk.


" itu kakak Raka Bunda kalau yang itu Rai teman Hilmi Di sekolah", jawab Hilmi.


" Oh jadi Hilmi satu sekolah dengan anaknya Pak Andre? Dengan Rai anaknya yang kecil ya?". Tanya Irfan.


" Iya".


-

__ADS_1


-


Bersambung......


__ADS_2