PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
Kedatangan pak Abdul


__ADS_3

" Terus cucuku bagaimana? puas kamu sekarang Arjuna, kesombongan kamu, kelemahan kamu sebagai lelaki sangat mengecewakan papa, nikmati sekarang rasa sakitmu itu dasar anak tak berguna, terlalu lembek kamu jadi lelaki, di sini papa tahu jika Aini itu wanita yang cerdik, dia pantas melakukan semua itu untuk lelaki sepertimu, jika sudah seperti ini apa yang bisa kamu lakukan sekarang kamu menyesal kan??", Pak Abdul benar-benar menatapnya dengan mata yang merah memancarkan aura kecewa yang begitu dalam pada Arjuna seakan kata-katanya tidak ada belas kasih sedikitpun mengingat sang putra tunggal tengah berada di brangkar rumah sakit.


" Pa sabar pa... ", Bu Aryanti meraih tangan parcuna dan mengusapnya lembut untuk meredakan kemarahan sang suami.


" Sekarang kamu tahu kan ma akibat kamu terlalu memanjakan anak ini apa yang terjadi sekarang? Hah! dia menjadi seorang lelaki yang pengecut tidak bertanggungjawab dan cenderung memanjakan keinginannya sendiri papa benar-benar kecewa", Pak Abdul kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruang inap Arjuna.


" pa .. papa... ", waryanti berteriak histeris memanggil suaminya namun sudah tidak digubris sedikitpun oleh Pak Abdul yang terus saja berjalan bahkan meninggalkan rumah sakit tersebut.


Kring


kring


kring


" Iya Pak assalamualikum", sebuah panggilan masuk ke ponsel Tristan yang masih berada di ruangan ini Arjuna dengan wajah kebingungannya.


" kamu kirim alamat Mutia sekarang juga ke ponsel bapak", suara di seberang sana penuh dengan penekanan yang dalam pada Tristan.


" Baik Pak dengan segera akan saya kirim, Tut tut.... ", begitu Tristan menjawab perkataan tersebut ponsel langsung dimatikan oleh Pak Abdul.


Tristan dengan segera mengetik alamat tempat kos Mutia pada Pak Abdul.


" Siapa Tris?", tanya Bu Aryanti.


" Bapak bu ", jawab Tristan jujur.


" menanyakan apa?".


" Hemmm... alamat bu Mutia Bu", sedikit ragu-ragu Tristan untuk menjawab jujur pada Bu Aryanti.


" kamu sih Mas! jadi Bapak marah ke ibu, makanya kamu tuh jadi lelaki yang tegas jangan bisanya nya hanya merepotkan orang tua saja, kalau sudah begini membikin semua orang menyesal tahu, puas kamu sekarang, ibu mendidikmu tapi begini hasilnya Ibu merasa sedih dan kecewa Mas sama kamu", sebetulnya Bu Aryanti tidak ingin memarahi Arjuna namun karena kekesalannya setelah dimarahi oleh Pak Abdul sehingga diapun melampiaskannya pada Arjuna saat ini.


" Maaf ma", Arjuna pun tertunduk tidak tahu lagi harus bicara apa.


" Mama mau lihat langkah Apa selanjutnya yang akan kamu ambil, jika sudah begini kamu tahu kan akibatnya mempersulit diri sendiri aja kamu, dengan sok-sokan menikahi Kania tapi kamu sendiri menelantarkan Mutia dan anakmu", Bu Aryanti tak habis-habisnya mengomeli Arjuna khas emak-emak jika sudah marah segalanya keluar begitu saja.

__ADS_1


Arjuna hanya diam namun mendengar dan membenarkan ocehan mamanya tersebut.


Sementara itu di tempat lain pak Abdul tengan menyuruh seseorang untuk menelusuri alamat yang diberikan oleh Tristan.


" Selamat sore pak", Sapaseseorang dari seberang sana.


" Tolong kamu cari dan pastikan alamat yang barusan aku kirim padamu, teliti dan cermati juga selidiki sebenar benarnya, tanyakan juga penghuni rumah itu dan juga identitas lengkapnya", pak Abdul langsung bicara pada masalahnya langsung kemudian menutup telpon kembali sebelum terdengar jawaban dari seberang.


Seseorang yang ditelepon oleh Pak Abdul itu kemudian bergerak dengan cepat mencari lokasi yang dimaksud.


kemudian dia mengirimkan beberapa hasil yang telah ia temukan dalam penyelidikannya tersebut.


Pak Abdul yang memang sudah sangat menunggu kemudian tersenyum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Tok


Tok


Tok


" Ayo nak, bereskan semua mainan mu sudah hampir jam 9 malam, kita harus segera tidur", mode yang menyuruh Hilmi untuk membereskan mainannya yang berserakan di ruang tamu dan anak itu penurun ketika suara ketukan pintu terdengar nyaring.


" Siapa?", Mutia membuka pintu dan menatap seseorang yang berdiri di depan pintu tersebut dengan tatapan nanar dan kemudian menunduk.


" Siapa bunda?", Hilmy kemudian berdiri tempat di belakang bundanya dengan berpegangan erat pada baju Mutia.


" Hemmm.... Anda mencari siapa pak?", makanya Mutia diri hatinya bergetar getar bahkan kakinya sudah hampir melemas.


" Nak, Aini? Iya itu kamu Aini yang aku cari, boleh bapak masuk?", di sini yang terkaget dan melongo bukan hanya Mutia bahkan Pak Abdul pun dibuat kehabisan kata-kata sebelum akhirnya berbicara meski dengan hati yang tidak karuan.


Mutia menatap nanar pada sosok seorang bapak yang berdiri di hadapannya ini.


" Untuk apa Bapak ke sini?", Mutia tidak juga mempersilahkan untuk masuk ke dalam ruang tamunya.


" Boleh saya masuk?, maka pertanyaanmu akan saya jawab", Pak Abdul sedikit melangkahkan kakinya untuk menerobos masuk ke dalam ruang tamu Mutia.

__ADS_1


" Oh ya, silahkan ", meskipun mutiara ragu namun akhirnya mempersilahkan pak Abdul untuk masuk dan duduk di ruang tamunya.


" Silakan Pak!", akhirnya Mutia tidak ragu lagi untuk mempersilahkan Pak Abdul duduk terlalu sulit baginya untuk bersembunyi kali ini.


" ini siapa boleh Bapak perkenalan?", Pak Abdul menyodorkan tangannya untuk menjalani bocah yang berada di hadapannya itu, Pak Dul begitu yakin jika bocah ini adalah cucunya.


Melihat hal itu hati mutiara pun ketar-ketir ada ketakutan yang begitu besar namun tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya dia meraih air minum kemasan untuk disuguhkan pada Pak Abdul.


" Saya hanya memiliki air minum ini Pak silakan diminum, namun jika anda menginginkan teh panas saya bisa buatkan?", ujar Mutia sopan dengan menundukkan wajahnya.


" Cukup tidak usah repot-repot", jawaban Abdul.


Hilmi kemudian menyalami orang tua yang tengah duduk di sofa ruang tamu nya itu.


" Hilmy ", jawabnya lirih dengan wajah menunduk takut takut malu.


" Nama yang bagus, Usianya berapa?".


" Empat".


" Sudah sekolah?".


" Sudah, kelas TK A", Hilmi terus menjawab pertanyaan fabel dengan menunduk namun sesekali pecah itu mendongak dan menatap orang yang berada di hadapannya itu.


" Panggil saya opa, anak pintar".


" Opa?".


" Iya, Opa".


" Sini duduk didekat opa, Opa mau bicara sama bundanya dulu ya", Mutia hanya memperhatikan interaksi kedua pria beda usia fihadaapannya ini dengan wajah yang memucat, Hilmy hanya mengangguk dan menuruti ucapan pak Abdul.


" Nak Aini, saya kemari hanya ingin memastikan keadaan dan keberadaan mu dan putramu, maaf jika bapak mengejutkan kamu datang kesini malam-malam, bapak hanya tidak sabar dan ingin segera bertemu setelah mendengar kabar jika dirimu telah ditemukan, seharusnya Bapak melakukan ini 5 tahun yang lalu bukan saat ini, maafkan Bapak khususnya Arjuna Bapak tahu kami semua salah padamu".


-

__ADS_1


-


Bersambung....


__ADS_2