
Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Pak Abdul.
Sepanjang perjalanan Arjuna nampak terdiam tidak banyak bicara hanya sesekali menjawab jika Mutia bertanya sesuatu.
" Bundaaaa", demi menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan ceria dan berlari merentangkan tangan pada Mutia saat melihat bundanya turun dari mobil.
" Ya ampun, kangen ya?", Mutia pun membalas merentangkan tangan dan mereka saling berpelukan melepas rindu.
" Iya Bunda Ilmi kangen sekali, Bunda kok lama sih pulangnya sampai sore", ucap bocah itu dengan wajah sedihnya.
" Hmmm, maaf tadi bunda mampir dulu ke rumah kita untuk membawakan baju ganti Hilmi Di sini biar banyak".
" Hilmi sudah punya beberapa baju di sini Oma sama Opa membelikannya untuk Hilmi".
" Oh begitu, sudah bilang terima kasih belum sama Opa Oma?".
" Sudah, Hilmi juga diberikan banyak mainan".
" Wah!, seneng dong?!".
" He-em".
" Ayaahh.... ", kemudian Hilmi menyambut Arjuna sama halnya ketika menyambut Mutia barusan.
" Ayah kangen loh sama anak ganteng ayah".
" Hilmy juga".
" Ayo masuk", Arjuna kemudian merangkul pundak istrinya dengan mesra di tangan kirinya dan tangan kanannya menuntun Arjuna memasuki rumah kedua orang tuanya tersebut.
" Assalamualaikum", Arjuna mengucap salam seraya memasuki rumah besar itu
" Waalaikum salam ", jawab persamaan Ibu Ariyanti dan Pak Abdul menyambut kedatangan mereka dengan wajah yang ceria.
" Selamat datang bundanya Hilmi, akhirnya kamu memasuki rumah Ibu sebagai menantu kami, Terima kasih ya", Bu Aryanti memeluk Mutia dengan suara serak menahan tangisnya.
__ADS_1
" Iya Ibu, saya seharusnya yang berterima kasih karena Ibu mau menerima saya", Mutia pun memeluk Aryanti dengan terisak.
Kemudian beralih memeluk Pak Abdul yang sedari tadi sudah merentangkan tangan menyambut kedatangan menantunya tersebut.
" Selamat datang Putri bapak, di sini ini rumahmu, rumah tempat kamu kembali ketika kamu pergi mencari sesuatu, Bapak sangat berharap kalian tidak pindah dan menetap di sini bersama kami", ujar Pak Abdul merengkuh punggung Mutia penuh kasih sayang seperti mendapatkan putri kandung.
" Terima kasih Pak, tapi saya dan Mas Arjuna belum membicarakan tentang hal ini, jadi saya nurut saja dengan mas Arjuna Pak".
" Ayo duduk dulu", Pak Abdul menuntun Mutia untuk duduk disofa dekat dengan Arjuna.
" Terima kasih pak".
" Iya Jun, sebaiknya kalian tetap tinggal di rumah ini, kami hanya berdua jika kalian pindah", ujar Bu Aryanti ketika mendengar jawaban dari Mutia.
" kita kan sudah sepakat sebelumnya Bu, Arjun mau belajar membina rumah tangga dengan semestinya, bukan Arjun tidak sayang sama bapak ibu, toh Arjun masih tinggal di dekat sini", Arjuna mencoba memberi pengertian kepada kedua orangtuanya.
" Iihhh, kamu itu keras kepala, kemarin saja waktu nikah sama Kania kamu tinggal disini Jun dan itu tidak masalah kenapa sekarang sudah ada cucu ibu malah kamu mau pindah rumah coba!", Aryanti menjawab dengan gerutuan
" Beda cerita lah Bu, bapak sama ibu kan tahu waktu aku menikah dengan Kania hanya berniat menolong tidak ingin membina rumah tangga dengannya, lagian dia kan juga jarang dirumah bahkan kadang pergi berbulan-bulan dengan urusan desainer nya itu, jika sekarang Mutia ini istri yang benar-benar aku harapkan selama hampir 6 tahun ini aku ingin pacaran Bu sama Mutia tidak ingin diganggu kalian", jar Arjuna seraya cemberut kepada kedua orangtuanya.
" Kenapa memangnya tidak boleh?", jawab Arjuna dengan cemberut kepada Hilmi.
" Malu udah tua kali ayah, teman Hilmi ada yang pernah pacaran di kelas namanya Sena sama Dicky mereka bergandengan tangan Kata Bu guru tidak boleh karena masih kecil nah kan Ayah sudah tua masa mau pacaran juga", cah itu kembali terkekeh renyah dengan riangnya.
" Kecil nggak boleh tua nggak boleh terus yang boleh siapa?", Arjuna masih cemberut pada putranya tersebut.
" yah nggak boleh pacaran itu nggak boleh Ayah, kalau Ayah sayang sama bunda ya seperti kemarin menikah masa sudah menikah mau pacaran hehehe".
" Hilmy.... ", Tegur Mutia.
" iya bun maaf, ayah sih!", Hilmi cemberut karena ditegur Mutia dengan menyebutkan namanya dan sedikit memelototi nya.
" Nah kan Bunda marah kan, Hilmi sih!".
" Ayah!", seru Hilmi dengan wajah cemberut dan tangan seperti ingin menepuk ayahnya.
__ADS_1
" Kok ayah!".
" Sudah ih kalian ini, Jun kamu sama anak sendiri juga tidak mau kalah!", Abdul kemudian menangani pertengkaran antara anak dan cucunya tersebut.
" Betul kata ibu, kalian memang tidak usah pindah dan menetap di sini saja bersama kami, Ibu tidak kebayang jika arjuna bertengkar sama Hilmi pasti Mutia pusing", ujar Bu Aryanti dengan tertawa lebar.
" Besok-besok kalau mereka bertengkar, kamu kurung aja tuh ayahnya Hilmi", ujar Pak Abdul dengan tertawa lebar.
" Ayo kita pindah ke halaman belakang saja, biar lebih enak ngobrolnya", Bu Aryanti dan paham betul beranjak dan mengajak anak serta menantu dan juga cucunya menuju ke halaman belakang.
" Bi buatkan kami 2 cangkir kopi pahit tanpa gula dua teh kental dengan sedikit gula dan 1 jus jeruk ya", Aryanti menyuruh asisten rumah tangganya dengan sopan ketika mereka hendak menuju halaman belakang.
" Iya bu", Jawab bi Eno.
" Terima kasih bi, enggak pakai lama ya sekalian kalau ada bolehlah dibuatkan cemilan apa saja", ujar Bu Aryanti kemudian menuju halaman belakang menyusul dengan yang lainnya.
" Oma Hilmi mengasih makan ikan", bocah itu dengan lincahnya sudah berlarian kesana-kemari seakan tiada pernah capek.
Sementara itu Mutia mengedarkan pandangannya melihat-lihat halaman belakang rumah mertuanya tersebut.
" Yank, sini duduk", Panggil Arjuna yang masih melihat Mutia asyik berdiri melihat halaman sekitar.
" Hem", Mutia pun perlahan mendekat kearah suaminya yang sedang berbicara dengan Bapak mertua nya di Gasibo halaman belakan.
" Adem juga ya di sini sejuk, pantes Hilmi betah sekali berada di rumah ini", ujar Mathias raya mendudukkan bokongnya tepat di samping Arjuna duduk.
" Tentang permintaan Bapak yang tadi itu bapak sangat serius, sebaiknya memang kalian tinggal di sini saja biar Hilmi selalu dalam pengawasan kami".
" Pak, orang rumah kita dekat ya setiap hari nanti Hilmi Di sini lah, aku tuh beneran pengen belajar untuk berumah tangga apa bukan tidak mau tinggal di sini", jalan Arjuna akan penuh permohonan.
" Mutia, sini deh", Bu Aryanti memanggil Mutia untuk mendekat kearah dirinya yang sekarang sedang berdiri mengamati sesuatu.
" Iya Bu".
" kamu petik beberapa bunga ini dan kamu nanti bawa ke kamar kalian, senang dong pengantin baru kamarnya harum bunga, itu ada melati besar ada juga sedap malam serta mawar petiklah dengan gunting ini dan taruh di pas bunga di kamar kalian". ujar Bu Aryanti menunjuk pada bunga dan kemudian gunting alat untuk memotong nya, Mutia pun mengangguk dengan antusias.
__ADS_1
Bersambung....