PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )

PENGANTIN YANG TERTUKAR ( TRAGEDI MALAM PERTAMA )
HADIAH PERNIKAHAN


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam mereka semua kembali ke kamar hotel masing-masing.


Bahkan Tristan berjalan dengan terpincang-pincang Karena rasa ngilu di kakinya akibat tendangan dari Arjuna.


" Nggak usah lebay deh lo! terlihat sekali kalau kamu ini lemah, disenggol begitu saja sampai terpincang-pincang, jika begitu mana ada cewek yang mau sama kamu!", ujar Arjuna dengan sedikit Ketus pada Tristan dengan ada mengolok-olok.


" Aissttt.... dasar bos arogan!,", Sungut Tristan dengan kesal tidak peduli jika bosnya itu akan marah karena bekas tendangan itu benar-benar masih ngilu.


Mutia merasa iba melihat Tristan seperti dianiaya oleh suaminya, tidak menyangka jika tendangan itu sampai membuat Tristan berjalan hingga terpincang seperti itu.


" Ayah! Ayah tadi menendang Tristan nya pakai tenaga dalam? Kasihan hingga terpincang begitu", Mutia merasa kasihan dengan asisten suaminya tersebut.


" Iya galak banget kamu Jun", bu Arianti pun merasa prihatin.


" Dibilang juga dianya yang lebay, padahal juga tidak sampai sekaras itu kali tendangan ku", Arjuna membela diri.


" Coba Aku lihat", Mutia yang penasaran ingin melihat bekas tendangan suaminya di betis Tristan.


Tristan pun berhenti hendak menunjukkan bekas tendangan bosnya tersebut.


" Mau apa? dibilang gak usah lebay emang lu siapa, berani-beraninya mau nunjukin betis jelek lo sama istri aku!", Ketus Arjuna tidak terima jika Mutia berjongkok untuk melihat betis Tristan.


" iisshhh.... apaan sih Ayah aku kan cuma ngelihat aja enggak akan pegang", ujar Mutia lembut menyingkirkan dengan suaminya yang tengah memegang pergelangan tangannya.


" Tuh kan lebam ayah!", Mutia merasa prihatin dengan petis Tristan.


" Galak sekali kamu ini Jun", bu Arianti pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.


" Udah sana nggak usah cengeng lo minta obat gosok sama pegawai hotel sono, atau pesen ke tukang pijat plus-plus jika mau", laki-laki Arjuna berucap Ketus.

__ADS_1


" Udah Mutia bawa suamimu ke kamar, biar Tristan nanti dicarikan obat anti memar", ini Pak Abdul yang berbicara.


Sebetulnya tendangan Arjuna memang tidak begitu parah hanya saja Tristan memang tengah melebih lebihkan aktingnya.


Dengan sigap Arjuna pun menuntun sang istri menuju kamarnya.


" Ayah kasihan sekali Tristan!".


" Bunda tendangan Ayah nggak sekeras itu percaya deh dia cuma akting saja, biar pada diperhatikan".


" Aku jadi takut jika Ayah kasar gitu", lirih Mutia.


" Bisa tidak jika hanya berdua panggil sayang atau Mas!".


Mendengar titah suaminya yang tak terbantahkan Mutia hanya menjepitkan bibir satu hal yang Mutia tahu tentang Arjuna adalah tak terbantahkan segalanya harus dituruti.


" Maaf", suara Mutia lirih, malas berdebat dengan sang suami yang baru saja menikah nya.


Akhirnya Mutia memilih membersihkan diri di kamar mandi dan sekalian mengganti baju, tidak peduli lagi mau dilihat atau mau di intip oleh sang suami hatinya sedang sedikit kesal.


Saat keluar dari kamar mandi yang mendapati Arjuna tengah menyandarkan dirinya di atas tempat tidur.


" Sudah?".


' He-em", jawab Mutia singkat.


Arjuna kemudian bergegas juga untuk ke kamar mandi dan mengganti pakaian.


Mutia tengah asyik membersihkan muka dan melakukan perawatan yang lain didepan meja rias ketika tiba-tiba Arjuna berdiri dibelakangnya kemudian merengkuh bahunya sambil menundukkan badannya.

__ADS_1


Mutia terjingkat kaget karena ulah suaminya tersebut namun yang lebih membuatnya kaget lagi dengan Arjuna membuka suatu kotak tepat didepan wajahnya seraya merengkuhnya.


" Lihatlah ", Arjuna menunjukkan isi dalam kotak tersebut dengan membukanya pelan dan meminta Mutia untuk memperhatikannya.


" Apaan Mas?", jawab Mutia grogi dengan detak jantung yang makin keras diperlakukan seperti itu oleh Arjuna.


" Ini hadiah pernikahan kita sayang, Maafkan aku seharusnya Aku melakukan ini 6 tahun silam, seharusnya saat ini kita sudah memiliki dua bahkan tiga putra bukan hanya Hilmi saja, Maafkan aku yang telah menelantarkan kalian, hadiah ini hasil kerja keras kita berdua sayang, meskipun kita belum menikah saat kemarin tapi kita sudah bekerja bersama-sama dan ini hasilnya", sebuah kotak yang cukup besar Arjuna buka yang didalamnya terdapat logam mulia dua batang yang beratnya kurang lebih 2 kg, ada kunci mobil dan juga ada kunci rumah lengkap dengan sertifikat masing-masing benda tersebut.


" Ini apa?", tanya Mutia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" ini Antam logam mulia sayang, anggaplah ini sebagai tabungan jika kamu membutuhkan, ini juga sertifikat rumah masa depan kita, hanya saja saat ini belum siap dihuni karena masih dalam perbaikan maklumlah pernikahan kita begitu mendadak, dan satu lagi ini kunci kendaraan yang akan mengantarkanmu kemanapun jika sedang tidak bersamaku", ujar Arjuna lembut seraya mengecup puncak kepala istrinya.


" Kenapa Mas memberikan semua ini padaku? ini semua barang-barang mahal layakkah aku memilikinya, sepertinya aku tak pantas", suara Mutia tercekat menahan haru.


" Kenapa tidak pantas Kamu harus ingat mulai hari ini kamu istriku, asal kamu tahu sayang selama 6 tahun ini meskipun ya aku punya riwayat depresi tapi aku tetap berusaha untuk bekerja meskipun itu di perusahaan papa tetapi hasilnya selalu aku kumpulkan aku yakin suatu hari aku akan menemukanmu, meskipun aku sempat menikahi Kania, tapi niatku menikahinya hanya menolongnya karena dalam hatiku belahan jiwaku itu kamu", kali ini Arjuna mencium pipi istrinya.


" Terima lah, mobil sudah berada di rumah papa karena besok kita akan pulang ke sana akan tinggal di sana hingga rumah kita siap di huni, untuk logam mulia nya simpan baik-baik, untuk rumahnya sendiri maaf itu akan kita tempati yang artinya aku menumpang di rumahmu sayang", Arjuna tersenyum kemudian membalikkan tubuh Mutia agar menatapnya.


" Iya saya terima terima kasih suamiku tapi kok ini besar sekali seperti mimpi", Mutia terisak jelas saja dalam mimpi sekalipun Mutia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan hal-hal seperti itu.


Bahkan ketika hendak menikah dengan Irfan ataupun dengan Arjuna kemarin dia hanya berfikir akan memiliki suami dan akan menjadi seorang istri dan bertekad akan menjadi istri yang baik untuk suaminya sedikitpun tidak pernah terpikirkan tentang harta ataupun sesuatu yang akan dia dapatkan.


Mutia terkesimah memandang kotak tersebut sesekali Dia memegang buku berupa BPKB dan sertifikat terkadang juga memegang emas batangan tersebut.


" Kok diam!, malah cuma dibolak-balik begitu, masih ragu, takut semuanya palsu? Tidak Kok itu asli, murni semurni cintaku untukmu sayangku", Arjuna membelai lembut rambut Mutia yang kini tergerai tanpa penghalang yakni kerudung di kepalanya.


" Ck!, bukan tidak percaya tentang keaslian barang barang ini, Mas Arjuna tidak salah kan memberikan ini sama saya?", saking terkejutnya mutiara dari tadi hanya bengong dan memperhatikan barang-barang tersebut sesekali memegangnya dan membukanya memastikan keasliannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2