
Sore hari ini Mutia pulang kerja dengan wajah yang sumringah, ya karena kabar dari Jihan barusan saat makan siang tadi akhirnya teman kerjanya yang sudah dianggap sebagai kakak itu akan menikah.
" Betul juga yang dikatakan bu Jihan tadi, ternyata takdir dia berjodoh dengan Pak Andre, Setelah sekian lama dan selalu dingin dan acuh sinis pada lelaki yang menggodanya, tapi malah kecantol sama seorang duda, pak Andre pula, duda beranak dua yang orangnya kocak habis suka bercanda dan Rama sementara pujian sendiri kalau nggak kenal akrab boro-boro mau nyapa ngelirik juga nggak akan pernah mau, sepertinya mereka memang berjodoh", Mutia terkekeh sendiri mengingat dua kepribadian teman kerjanya yang sangat berbeda itu namun mereka berencana untuk menikah.
" Bunda.... bunda sedang apa sih, harga dari tadi senyum-senyum sendiri?", tanya Hilmi penuh keheranan memperhatikan sang ibu yang tengah melamun.
" Eh, jagoan Bunda, Tidak kok! bundanya merasa senang aja karena hari ini bisa pulang kerja tidak terlalu malam", jawab Mutia dengan tersenyum geli sendiri karena alasannya atas pertanyaan sangputra.
" Oh kirain".
" kirain apa hayo?", ujar Mutia seraya mendekati sang putra dan menoleh hidung mancungnya.
" kirain Bunda lagi mikirin Om Irfan", bocah itupun dengan polosnya mengutarakan isi hatinya.
" Eh, kok Oom Irfan sih?", Mutiah terkejut tidak menyangka akan jawaban putranya.
" iya, Oom Irfan kan pacar bunda", jawab bocah itu dengan cueknya.
" Eh! Kata siapa?", tanya Mutia penuh keheranan.
" Nggak ada yang bilang Bunda, Tapi selama ini Bunda nggak pernah dekat dengan cowok kecuali Om Irfan jadi Hilmi fikir Om Irfan itu pacar bunda", jawab Hilmi polos.
" Hemmm... emang Hilmi boleh jika Bunda dekat sama Oom Irfan?", tanya mutia ragu ragu seraya mengkerutkan keningnya.
" Hemmm..... Boleh! ", cara bocah itu mantap yang diakhiri dengan senyum lebar.
Sungguh! mutiara speechless dengan jawaban sang putra, selama ini dia selalu berfikir jika putranya belum mengerti tentang urusan orang dewasa tapi nyatanya bocah ini tahu sekali apa yang selama ini terjadi di sekitarnya. Hati Mutia terharu ada rasa senang sekaligus sedih, betapa banyak momen yang telah ia lewatkan karena harus sibuk bekerja sehingga banyak momen perkembangan anaknya yang tidak pernah dia sadari.
__ADS_1
" Sungguh! Hilmi tidak marah begitu jika Bunda dekat dengan om Irfan?", Mutia mencoba meyakinkan hatinya dengan bertanya kembali kepada Hilmi.
" Hemmm", bocah itu pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban merasa tidak ada beban sama sekali dan bisa menerima kehadiran Irfan Disisi bundanya.
" Oh Terima kasih sayang", Mutia langsung menghambur memeluk haru kepada sang putra dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena merasakan keharuan yang begitu dalam.
" Gak apa-apa Bunda, Bunda nggak usah nangis", Ucap bocah itu polos seraya membelai rambut sang ibu.
" Tapi Hilmi tetep harus mendoakan ayah ya, meskipun Om yang Hilmi Panggil Ayah itu akan jarang datang ke sini", ucap Mutia pelan.
" Tidak!, Tadi ayah datang ke sekolah Hilmi dan main bersama hingga Hilmi menjelang pulang tadi, setiap hari juga ayah datang ke sekolah Hilmi jika tidak datang pasti Opa yang datang ataupun Oma, mereka selalu bergantian menemuiku di sekolah Bunda", bocah-bocah itu yang membuat Mutia sedikit terbelalak kaget.
Sungguh Mutia tidak pernah menduga jika Pak Abdul dan Bu Aryanti akan menemui Hilmi di sekolah.
" Oh begitu? Terus mereka bilang apa saja sama Hilmi?", tanya Mutia penuh hati-hati agar putranya bisa berbicara jujur dan tidak bohong.
Mutia hanya diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh putranya tersebut, ada rasa haru sekaligus bahagia karena kini ada orang yang memperhatikan putranya selain hanya dirinya.
" Kok Bunda diam! Bunda marah ya?", tanya bocah itu dengan wajah sedikit tegang karena merasa khawatir dan takut jika sang Bunda akan memarahinya.
" Tidak, Bunda tidak marah sama sekali, malah Bunda terharu karena Hilmi sekarang ada yang merhatiin bukan hanya bunda seorang, maka dari itu Hilmi tidak boleh nakal dan harus hormat kepada mereka", Mutia pun mengusap lembut rambut kepala sang putra dengan mata yang menatap pada mata sang putra.
Ya, begitulah Mutia jika berbicara serius dengan putranya dia akan selalu menatap mata putranya agar putranya mengerti apa yang dia maksud.
" He-em.... Hilmi nggak nakal kok, Hilmi baik Bunda", jawab bocah itu dengan manggut dan polosnya.
" Tapi kenapa setiap kali ayah akan pulang dan selalu melihat Hilmi lama dan sepertinya sedih gitu bunda, Hilmi juga tidak tahu mungkin Ayah mau membawa Hilmi pulang kali ya Bunda", bocah itu pun menceritakan jika setiap kali Arjuna hendak meninggalkan dirinya selalu wajahnya terlihat murung yang Hilmi artikan jika sang ayah sedih jika hendak pulang setelah menemani dirinya bermain.
__ADS_1
" Oh begitu? betul mungkin Ayah pengen membawa pulang Hilmi tetapi ayah tidak mau nanti masuk penjara gara-gara membawa Hilmi dan tidak pamit dulu sama bunda", Jawab Mutia sekenanya karena binggung sendiri dengan cerita Hilmy.
" Lak kok masuk penjara bunda? Kasihan ayah", Hilmy cemberut sedih.
" Oh maaf, maksud bunda nanti bunda nyari nyari Hilmy karena tidak ketemu akhirnya bunda minta tolong polisi, begitu", Jawab Mutia tergagap karena merasa salah berucap dengansang putra.
" Oh! Tapi jika ayah mau bawa pulang Hilmy, Hilmy juga tidak mau bunda, kan kasihan bunda sendirian", Jawab bocah itu.
" Jika Hilmi mau ikut Ayah boleh kok, tapi harus pamit sama bunda dulu biar bunda tidak bingung mrncari cari Hilmi, tapi hanyasatu mslam saja tidak boleh lama lama, bunda nanti kesepian", Mendengar bundanya berkata kata seperti itu Hilmipun terlihat sedikit diam sepertinya tengah berfikir.
" Iya nanti Hilmy akan ikut Ayah jika bunda ada teman boboknya", Jawab bocah itu seraya betlompat kesana kemari.
" Ya nanti jika Hilmi pergi ke rumah Ayah bunda tidur di rumah Oma Mery", Jawab Mutia.
" ya Bunda, di sana bunda bisa tidur bersama dengan kakak Kenzo".
" Yaa betuuulll.... pintar sekali anak bunda rupanya".
" Tapi janji Hilmi di sana tidak boleh nakal harus tetap jadi anak baik".
" Iya bunda".
ya Mutia pada akhirnya memberikan banyak waktu itu untuk keluarga Pak bapak Abdul bisa menemui putranya Hilmi setiap saat mereka mau menemui Mutia membebaskannya asal ketika sore hari ini harus berada bersamanya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.....