
" Yank, aku lihat dari aplikasi ini ketik nggak jauh dari kita saat ini, di situ aja yuk kita cari bajunya", ujar Arjuna dengan tetap menggandeng mesra tangan istrinya.
" Iya Mas lagian di sini ini kita harus jalan kaki kalau nggak naik angkutan umum kalau jauh-jauh capek kali ya", Jawab Mutia yang lumayan sudah merasa cape.
" Ya begitulah Tapi kan enak kita bisa menikmati pemandangan kota ini".
" Iya sih jalan kaki ini kan memang pilihan kita".
" Boetiek Mooi ", Mutia mengeja nama butik tersebut.
" Yuk kita masuk ", Arjuna menuntun Mutia memasuki butuk tersebut.
Mereka disambut dengan ramah oleh seorang wanita bule cantik dengan rambut sedikit kemasan yang terlihat diikat rapih dengan memakai rok diatas lutut serta blazer dengan warna senada.
" Selamat pagi tuan dan nyonya, Ada yang bisa saya bantu mari silakan", sapanya lembut pada Arjuna dan juga Mutia.
" Pagi, sayang akan mencarikan kan malam untuk istri saya yang akan dikenakan nanti malam".
" Oh silahkan, mari ", pegawai itu pun menunjukkan Di mana tempat deretan baju-baju gaun yang sangat indah bergantung berjajar rapih.
Arjuna pun melihat-lihat kemudian memilihkan satu baju untuk istrinya.
Sedikit susah memang, mencari gaun yang tertutup yang sesuai dengan ukuran Mutia.
" Mas, semuanya terbuka, sudah begitu panjang semua, jelas ini mah aku kepanjangan", lirik Mutia pada Arjuna yang membuat suaminya itu terkikik.
" kenapa juga enggak bawa baju sendiri dari negeri kita yank", jawab Arjuna dengan setengah berbisik.
" Mas sih bilangnya ngedadak mau bertemu klien, tahu begitu kan aku bawa baju dari rumah", jawab Mutia dengan bersengut sebal.
__ADS_1
" ya maaf, Mas lupa bilang, soalnya waktu aku bikin janji sama dia untuk bertemu itu tidak seperti ini ceritanya, harusnya dia yang datang ke negara kita, tetapi karena Bapak memberikan tiketnya bulan madu ke negara ini Ya sudah daripada dia repot-repot Mas berinisiatif yang menemui dia, Maaf ya", Arjuna mengusap lembut kepala istrinya.
" jika begitu Aku tidak usah terlalu pakai baju yang aneh-aneh Mas cukup yang muat di badanku saja aku bawa manset jadi disesuaikan saja warnanya yang masuk dengan manset dan kerudung aku yang ada di koper".
" Siap sayang apapun penampilanmu nggak jadi masalah kamu pasti kamu itu sudah cantik dan yang lebih penting hatimu yang luar biasa", Arjuna menarik pelan hidung istrinya dengan gemas.
" Iih sakit mas".
" Ya sudah kamu coba ini kira-kira masuk tidak dengan warna manset mu?", Arjuna memberikan satu buah gaun yang nampak sederhana tapi terlihat sangat indah
" ya boleh aku coba yang itu mas bajunya sangat bagus dan sepertinya itu masuk deh di badanku dan juga senada dengan manset yang aku bawa", Mutia pun dengan senang hati menerima baju yang Arjuna tunjukkan dan segera membawanya ke ruang ganti.
" Mas ", Mutia memanggil Arjuna dengan membuka sedikit pintu ruang ganti.
" Lihat coba lebih dibuka lagi pintunya", Arjuna jalan mendekari ruang ganti.
" Haiii... Jun!", suara panggilan seseorang memanggil Arjuna ketika mereka tengah membayar baju yang menjadi pilihan Arjuna.
Sontak saja Mutia dan Arjuna langsung menoleh mengarahkan pandangan mereka pada sumber suara yang memanggil nama Arjuna tersebut.
" Haiii Kania?!", spontan Arjuna pun menjawab panggilan Kania tersebut dengan wajah yang terkejut bahkan Mutia pun sampai hanya bengong saja karena tidak menyangka mereka akan bertemu di butik tersebut.
" Mbak Kania ", Suara Mutia sedikit mendesah saking pelannya.
" Haiii kita ketemu lagi!", Kania tersenyum lebar raya mendekati ke arah Arjuna.
" kamu kerja di sini? bukannya kamu di Italia?", tanya Arjuna.
" Iya, saya sedang ada pekerjaan di sini, tempatnya ada kontrak kerja dengan pemilik butik ini, bukannya kita kemarin ketemu di bandara, dan tujuan kita sama dong! ", Kania tersenyum lebar.
__ADS_1
" Oke selamat bekerja kami sudah selesai urusannya di butik ini, permisi dulu ya!", Arjuna kemudian menonton mutiara untuk meninggalkan butik tersebut.
" Mari mbak", Mutia pun mengangguk sebagai rasa hormatnya sama Kania seraya mengikuti langkah sang suami yang telah menuntun nya pergi untuk meninggalkan putih tersebut.
" Jun, kenapa sih kamu itu sepertinya menghindariku terus, kita kan sudah bertemu di negara ini, Apa kamu tidak ada niatan untuk kita menikmati makan malam berempat misalnya aku dengan Sheila?", Kania melangkah sedikit cepat untuk mengejar Arjuna dan Mutia seraya berkata dengan lantang.
Spontan Arjuna pun menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kania yang kini sudah berdiri di belakang mereka.
" Nanti saja jika aku ada waktu aku kabari, karena selain bulan madu kami ke sini juga ada pekerjaan, fokuskan saja dirimu dengan pekerjaan, kami permisi", ucap Arjuna tegas dan datar.
Rasanya Arjuna ingin lebih tegas lagi dari ini namun selagi Kania tidak berlebihan mengganggu dirinya rasanya Arjuna pun juga tidak perlu berlebihan menanggapi keberadaan Kania di negara ini.
Toh! Kania juga hanya menyambutnya ramah karena mereka sama-sama berada di negara kincir angin tersebut.
" Jun, tolonglah sebelum kamu pulang ke Indonesia sediakan sedikit waktu untuk kami, kalau kamu sudah benar-benar tidak ingin bertemu denganku minimal dengan Sahila, Oke!", ucapkannya penuh permohonan dengan wajah yang sedikit kecewa dan sedih.
Arjuna maju beberapa langkah untuk mendekat pada Kania, " Nia, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, aku adalah lelaki yang menjunjung tinggi sebuah hubungan jika aku punya sebuah hubungan meskipun itu tanpa rasa aku tetap akan menjaga sebisa mungkin, kamu tahu itu!, tetapi ketika sudah lepas dan aku berkomitmen dengan orang yang baru tentu aku akan menghargai pasanganku saat ini jadi tolong jangan kamu jadikan Shaila untuk mendekatkan ku padanya aku menyayangi dia tapi bukan berarti dia harus mengenalku dan menyayangiku itu tidak perlu, Aku harap kamu mengerti dan kamu segeralah membuka hati untuk orang lain kembali yang bisa menerima dirimu apa adanya", Ujar Arjuna tegas seraya memegang pundak Kania dan menatapnya tajam.
" Maaf, maaf.... Aku tidak bermaksud mengganggu kalian hanya saja... hmm, hanya saja... Aku masih berharap kamu ada untuk Shaila", Jawab Kania gugup.
" Aku ada, selalu ada untuknya, bahkan jika kami bertemu aku harap dia tetap memanggilku ayah, tapi tidak sekarang! Lagian dari kemarin kamu tidak membawa dia, kemana dia kamu titipkan?", tanya Arjuna masih dengan sorot mata tajam nya.
" Dia berada di unit ku, ada mbaknya yang memegangnya aku bawa juga dari Indonesia", kali ini suara Kania tidak gugup lagi.
" Ya sudah, kami permisi", Kali ini Arjuna dan Mutia benar benar meninggalkan butik itu tanpa menoleh lagi.
Bersambung.....
Terima kasih untuk like dan komennya ya.... Smg kalian sll sehat dan semangat....
__ADS_1