
Sudah seminggu aku bekerja di toko mbak Hana dan selama itu pula kak Tristan tidak pernah membalas chat maupun panggilan aku,kebetulan hari minggu aku libur aku memutuskan untuk kerumah Erna aku akan mencari tahu apakah Erna mengadu kepada kak Tristan atau tidak.
"Assalamualaikum tante,"Aku menyapa mamanya Erna kebetulan berada diteras rumah.
"Walaikumsalam eh Ara,tumben kemari ada apa nak?"Tanya mama Erna.
"Ya tante kebetulan saya sudah mulai kerja tante,Ernanya ada tante?"Tanyaku.
"Erna lagi keluar nak paling sebentar lagi pulang,katannya mau mengantarkan baju nya Tristan,"
"Apa tante baju kakTristan?"Tanyaku terkejut.
"Ya Ra dulu pesen baju,tante banyak pesenan jadi baru bisa jadi kemaren dan tante menyuruh Erna mengantarkan kerumah Tristan mumpung dirumah,"Tante menjelaskan dan aku dibuat kaget lagi tante bilang kak Tristan dirumah,artinya kak Tristan pulang,apa sebenci itu kak Tristan pulang tidak mau menemuiku,batinku sedih.
"Ra kok melamun,"Mamanya Erna menegurku.
"Eh ya tante,gak melamun tante lagi mikir aja jangan jangan Erna ada hubungan dengan kak Tristan tante hehe,"Aku sengaja bertanya tentang itu aku yakin mamanya Erna tahu sesuatu.
"Tante kurang tahu Ra,Erna memang sedang jatuh cinta tetapi Erna tidak bicara sama tante,siapa laki laki itu,kalian kan deket apa Erna tidak cerita sama kamu,"
"Enggak tante,akhir akhir ini aku sibuk dan gak sempat bertanya tanya ke Erna,"Aku menjawab kikuk padahal memang hubunganku dengan Erna gak bagus.
"Ohhh,ya tante paham,itu Erna datang Ra kayaknya sama Tristan,"Tante menunjuk ke jalan.
deg
"Kok bisa mereka boncengan berdua benarkah mereka ada hubungan?"Aku bergumam sendiri sakit rasanya hati.
"Ra,Ara,,,,kok melamun lagi,"
"Eh ya tante hehe kaget saja tante melihat mereka,"Aku menunjuk Erna dan kak Tristan.
"Ya sudah sana kamu temuin mereka tante mau masak dulu,"Mamanya Erna masuk kedalam rumah,sedangkan aku terpaku diteras sambil melihat kedatangan mereka,satu sahabat karibku satu orang yang aku cintai,setelah mereka sampai dan Erna turun darri motor kak Tristan mereka terlihat terkejut juga melihatku berdiri diteras rumah Erna.
"A r a ngapain kamu disini?"Erna bertanya dengan tergagap.
__ADS_1
"Memangya kenapa?aku gak boleh maen kerumah sahabat aku,oohhhh aku tahu atau kamu gak mau ketahuan lagi jalan bersama pacar orang,"Aku menjawab dengan menahan amarah.
"Ini gak seperti fikiran kamu Ra,kamu salah paham,"Erna menjawab dengan mata mulai berkaca kaca.
"Biarkan saja dek,toh dia juga jalan sama laki laki laen kan,kakak kan cuma mengaantar kamu sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantar baju kakak,"
Kak Tristan menjawab dan membela Erna didepannku dengan menyudutkan aku seolah olah aku yng bersalah disini.
"Kak aku sudah jelasin semuanya ke kakak,kalau kakak gak percaya kakak boleh tanya sama Tika atau ibu,"Aku menjawab dengan mulai menangis.
"Aku gak perlu tanya mereka bukti itu sudah jelas,sebaiknya kita jalan sendiri sendiri dulu saling intropeksi diri,"Jawab kak Tristan
Bagai disambar petir disiang hari kak Tristan tega berbicara seperti itu,tanpa menjawab apa yang diomgin kak Tristan aku menangis dan berlari pulang aku tak memperdulikan Erna yang manggil manggil aku sesampainnya dirumah aku menangis sejadi jadinya didalam kamar.
...----------------...
Setelah kepergianku Erna memarahi kak Tristan
"Kak kamu itu kenapa berbicara seperti itu sama Ara,kamu tega kak,"Erna berbicara sambil menangis dan memukuli kak Tristan.
"Tapi gak begini caranya kak,aku sudah merasa bersalah menghianati persahabatan ini,aku jahat kak aku yang membuat hubungan kalian hancur,aku yang sudah menghncurkan hubungan kalian,lebih baek kita sudahi saja hubungan ini kaak kalian balikan lagi aku yang mundur dan mengalah kak,"Erna menangis tergugu dipelukan Tristan.
"Aku yang salah dek aku yang membuat hubungan kalian berantakan,tapi cinta ini mengalir begitu saja tidak ada paksaan atau dipaksa,aku yakin Ara lama lama akan paham dengan keadaan kita,"Tristan memegang kedua pipi Erna.
"Saat Erna dan kak Tristan larut dalam kesedihan tiba tiba Elisa datang,"
"Prok prok prok,"Elisa bertepuk tangan.
"Bagus,bagus banget kalian ya,tega teganya menusuk teman dari belakang,teman macam apa kamu hah,apa kamu gak ingat gimna perjuangan Ara saat kamu kesusahan,apa kamu gak ingat saat kamu hampir mati Ara menyelamatkan kamu,dan ini balasan untuk Ara Er,ini balasan kamu hah penghianat!!!"Elisa marah marah menghampiri Erna dan Tristan.
"Hiks hiks hiks ini gak sepertti yang kamu lihat El,"Erna membela diri.
"Gak seperti yang kamu lihat apa hah,apa,,atau masih banyak kebusukan kamu yang belum dketahui Ara begitu,"Plak Elisa menampar pipi Erna.
"Cukup Elisa kamu gak berhak ikut campur,"Tristan membentak Elisa.
__ADS_1
"Diam kamu penghianat,apa gak cukup satu wanita sampai sampai kamu pacarin wanita murahan itu hah,"Elisa balas melotot ke arah Tristan.
"Apa kalian tidak terima hah,,,kalian mau menampar aku ayo tampar,ayo,biar semua orang disini melihat kelakuan kalian seperti apa,"
"Aku pastikan Ara akan melihat semua kelakuan kalian,"Elisa berlalu pergi meninggalkan rumah Erna dengan meninggalkan dua pecundang yang tidak bisa berkata apa apa.
Saat aku pulang dari rumah Erna ternyata Elisa ada dirumah sedang mengobrol dengan paman Heru,tapi aku tak menghiraukan mereka aku tetap berlari sambil menangis kekamar,mungkin karena aku menangis Elisa mencari tahu penyebab kenapa aku menangis,lalu Elisa menuju rumah Erna.
"Meskipun hati sedang kacaau aku tetap berangkaat kerja,aku berusaha tersenyum didepan ibu dan paman Heru aku tahu mereka ingin bertanya tentang aku tetapi mungkin mereka membiarkan aku bercerita terlebih dahulu,"
"Tidak sampai satu jam aku sudah sampai ditempat kerjaku karena aku mengendarai sepeda dengan kecepatan lumayan kencang.
"Pagi neng cantik rajin baanget sudah sampai,"Sapa pak satpam.
"Pagi juga pak satpam,"Aku menjawab dan berusaha tersenyum
"Pagi Ra,,pagi pagi udah melamun aja,"Sapa rekan kerjaku yang laen.
"Eh pagi juga mas,mbak,hehe gak kok sapa yang melamun,"Jawabku mengelak dan berusaha tetap tersenyum.
Tanpa terasa jam makan siang telah tiba tetapi aku fokus merapikan barang barang yang baru sampai,memang aku tidak ada niatan untuk makan siang,sampai suara seseorang menegurku.
"Rajin banget mbak sampai jam makan siang gak tahu,"Ternyata mas Aldo sudah berdiri dibelakang aku.
"Eh mas Aldo,tadi udaah makan roti mas masih kenyang,Jawabku berbohong sambil menoleh ke arah mas Aldo,"
"Kamu ada masalah Ra,jangan bohong aku tahu dari tadi pagi kamu kelihatan gak seperti biasa apa kamu sadar jika aku ada disini dari tadi pagi,"Mas Aldo duduk disampingku.
"Ada apa Ra cerita sama aku jika ada masalah,"Mas Aldo menghentikan kegiatan aku merapikan baju.
"Hiks hiks hiks tanpa bisa menjawab pertanyaan mas Aldo aku langsung tergugu,"
"Tiba tiba mas Aldo menarik tanganku dan membawa aku pergi ke atas bangunan toko,"Tanpa bertanya akupun mengikuti langkah mas Aldo sambil menangis.
"Menangislah Ra jika memang itu membuat beban fikiraanmu berkurang,disini aman kok,"Mas Aldo sempet sempetya bergurau.Aku menaangis sejadi jadinya sambil bersandar dipundak mas Aldo.
__ADS_1