Penghianatan Seorang Sahabat

Penghianatan Seorang Sahabat
Suara Yang Meresahkan


__ADS_3

Aku pulang kerumah dengan wajah lesu,,bapak yang sedang berbincang bincang dengan temanya sampai menghampiriku.


"Sayang kamu kenapa kok mukanya lesu gitum,"Tanya bapak sambil mengelus kepalaku.


"Gak apa apa ko pak hanyaa capek saja,"


"Bapak itu bapak kamu jadi tahu kamu berkata jujur atau enggak,kenapa sayang cerita sama bapak?"


"Haaaaaahhhh menghembuskan nafas,kak Tristan kecelakaan pak,dan dia dirawat drumah sakit di kota ini,"Akhirnya aku cerita sama bapak soal pertemuanku dengan kak Tristan juga Erna.


"Sayang jika kamu ingin menjenguk boleh saja bapak tidak melarang tetapi alangkah baeknya ajaklah Beni untuk mengaantar kamu,"


"Ya pak,ya sudah bapak kembali ke temen bapak dulu ya kamu istirahat,"


Aku lalu merebahkan tubuhku dikasur"Haahhh haruskah aku menjenguk kak Tristan ya,apa aku minta saran temen temen ya?tapi pasti mereka malah gak setuju,aduuhh kok jadi pusing sendiri seh,tauk lah mau tidur aja besak kan kerja,"


"Aku mencoba memejamkan mata,lama kelaamaan aku tertidur juga,samar samar aku mendengar suara paman membangunkan aku.


"Ra bangun,tumben lo jam segini belum bangun.Haloooo spadaa bangun udah siang woiii,"Teriak paman dari luaar.


"Isshhh apaan seh paman teriak teriak,"Aku membuka pintu dan mendapati paman didepan pintu.


"Paman apaan seh teriak teriak kayak dihutan aja,"


"Anak gadis jam berapa ini baru bangun,tuh lihat jam,"Lalu aku menoleh dan terkejut ternyata sudah setengah enam pagi aku lalu buru buru masuk mandi dah shalat subuh walau hampir telat.


"Kenapa gak bangunin dari tadi seh paman,"


"Dasar dodol aku udah teriak teriak dari tadi kamu gak bangun bangun makanya jangan pacaraan melulu dasarr?"


Aku tak menghiraukan paman ngomel ngomel aku langsung mandi,mandi bebek tepatnya karena memburru waktu keburu telat,setelah siap aku keluar lalu berangkat tanpa sarapan hanya menyapa tante dan bapak.


"Ra kamu gak sarapan dulu kok cuma minum susu aja,"


"Gak tan keburu telat udah jam segini,"Sambil mengambil susu dan meminumya.


"Tumben sayang kamu terlambat bangun. biasanya rajin apa gara gara semalam?"


"Bahas nanti aja ya pak aku berangkat kerja dulu,byeee Assalamualaikum,"Aku berlalu meninggalkan meja makan dan berangkat bekerja.


"Walaikumsalam,"Jawab mereka


Sedangkan dimeja makan bapak ngobrol bersama tante juga paman.


"Memangnya semalam ngobrol apa pa,kok tumben Ara telat bangun?"


"Dia galau ma,mantan pacarnya itu kecelakaan dan koma,dia dirawat dikota ini juga,"


"Tristan maksud mas?"


"Iya Her,"


"Kok bisa dikota ini juga,padahal aku berangkat kesini dia masih dirumah lo mas,"


"Aku juga gak tahu Her,mungkin kerja disini,"


"Trus Ara sedih pa,tapi tadi biasa biasa aja,"


"Ya sedih pastilah ma,hanya dia bingung mau menjenguk atau enggak,"


"Semoga gak seperti dulu ya pa,"

__ADS_1


"Ya ma amiin,ya sudah aku berangkat bersama Heru dulu ya,"


"Iya pa hati hati,"


Sepeninggal bapak dan paman bekerja tante lalu membereskan meja makan dan menyirami taman disamping rumah.


Aku tiba ditempat kerja,dengan terburu buru untung kak Ros tidak marah dan mas Beni belum datang,lega rasanya gak dapat omelan.


"Huffttt untung cuma telat lima menit kak,"Aku lalu duduk dan mulai bekerja,sedangkan kak Ros sudah didepan untuk promosi.


Tak terasa jam istirahat tiba,kini giliran aku yang makan siangnya akhir,kak Ros yang lebih dulu makan siang.


"Ra kamu belum istirahat?"Mas Bayu mendekat kearahku dan duduk disampingku.


"Belum mas,masih nunggu kak Ros gantian makanya,"Jawabku sambil menoleh ke arah mas Beni.


"Ini kamu makan bekal aku kebetulan Yuwan disini dia bawaain makanan kesukaan aku,"Sammbil menyerahkan kotak makan.


"Cowok judes itu disini mas,ngaapain?"Kamu udah makan mas,aku menerima kotak makan itu.


"Udah kamu makan saja,biar aku tunggu disini,kamu makan dibelakang sana,"


"Makasih ya mas,"Aku lalu mencium pipi mas Beni,dia nampak terkejut dengan ulahku.


"Aduhh kenapa jantungku deg degkan kini,makin gak karuan gini rasanya,aku makin gemes sama kamu Ra,"Gumam mas Beni sambil memegangi dadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku sudah pulang bekerja saat ini aku sedang ngobrol sama mas Beni diruanganya aku akan minta ijin unttuk menjenguk Kak Tristan.


"Sayang kamu mau ngomong apa kok tumben kesini?"Tanya mas Beni sambil mengelus kepalaku.


"Memangnya dirawat dimana Ra?"


"Deket mall ini mas,yang diujung sana itu,"Jawabku sambil menunjuk arah rumah sakit.


"Aku antar ya?"


"Tapi kerjaan kamu gimana?"


"Gak apa apa aku antar kamu dulu ya,kita berangkat sekarang saja mumpung jam besuk,"Ajak mas Beni dan beranjak mengambil kunci mobil.


"Baiklah mas,ayo,"


Kami berjalan keluaar dan menuju rumah sakit,sekitar sepuluh menit kita sampai dirumah sakit,kami turun lalu menuju meja pendaftaran dan bertanya pasien atas nama Tristan dan petugas itu pun memberi tahu.Kami berjalan menuju tempat Tristan dirawat.


"Mas kayak ya itu deh ruanganya,kamar Baugenvile no 12,"Tunjukku sama mas Beni.


"Iya sayang ayo kesana,"


"Er,apa kabar,"Aku menyapa Erna kebetulan dia duduk diluar.


"Eh Ara,kamu beneran mau kesini,"


"Iya Er,eemmm gimana kondisi suami kamu?"


"Masuk saja Ra,belum ada perubahan,"Erna menyuruhku masuk lalu aku melihat mas Beni meminta persetujuanya dan dia menganggukan kepalanya.


"Gak apa apa kamu masuk saja Ra hanya boleh satu orang,"


Aku lalu berjalan menuju ruangan kak Tristan,aku prihatin melihat keadaan dia dengan alat alat yang menempel ditubuhnya.Aku duduk dikursi samping kak Tristan,dia kelihatan pucat,kurus,seperti tidak terurus.

__ADS_1


"Assalamuualaikum kak,ini aku Ara,kenapa kamu jadi seperti ini,apa yang terjadi sama kamu,"Aku memegang tangan kak Tristan.


"Cepat sembuh dan bangun kak,apa kamu gak kasihan sama istri dan calon anak kamu,ini jalan yang kamu pilih kak,terimalah dengan lapang dada,aku sudah maafin kamu,"


"Aku balik dulu ya kak,cepet sadar kak,"Aku berbalik dan meninggalkan kak Tristan,/,setelah sampai diluar Tristan mengeluarkan aer mata.Mungkin dia bisa mendengar suara Ara.


"Sudah yang,"Tanya mas Beni padaku.


"Udah mas,Er kami balik dulu ya,kamu yang sabar pasti suami kamu cepet sembuh,ini ada sedikit buat makan kamu,"Aku memberi amplop pada Erna aku kasihan melihat dia walau bagaimanapun dia tetap sahabat aku.


"Gak usah repot repot Ra kamu masih mau menjenguk aja aku sudah berterima kasih kok,"Erna awalnya menolak tetapi aku paksa dan dia mau meneeimanya.


"Udah enggak apa apa ambil saja ya,"Aku permisi Er.


"Mari mbak permisi,"Pamit mas Beni.


Kami bergandengan tangan meninggalkan ruangaan kak Tristan,tapi tiba tiba aku kebelet buang aer kecil.


"Mas aku pengen buang aer kecil,"


"Ya sudah kita cari toilet dulu,"Lalu mas Beni bertanya pada salah satu perawat yang lewat dan memberi tahu kalau toiletnya diujung.


"Mas temenin aku takut,"Rengekku


"Ya sudah ayo aku antar,"


Sampai ditoilet aku lalu masuk dan buang aer kecil,setelah selesai aku merapikan kembali pakaian aku,tetapi di toilet sebelah seperti ada suara orang yang berduaan.


"Aaaahhhh ayo yang,,lebih dalam lagi,,uhhhhhh enak mas,ahhhh,,ahhhh,"


Kira kira seperti itulah suaranya,dan membuat aku merinding aku buru buru keluar dari dalam toilet,saat aku membuka pintu aku malah menabrak mas Beni.


"Aduh maaf mas,gak sengaja,"Aku nyengir memandang mas Beni.


"Kamu kenapa lari larian yang?"


"Emmm itu mas ,anu,emm disamping ada suara aneh,"Aku bingung maau bicara sama mas Beni.


"Ya aku sudah dengar ko makanya aku menunggu disini,kita balik yuk,"Mas Beni terlihat gugup,dan menggandeng tangan aku.


"Ada ada aja ya mas,masak begituan ditoilet seh,"Gerutuku


"Ya mungkin sudah kebelet yang dan toiletnya kan paling ujung Ra dikira aman,"


"Kaya apa aja kebelet,cari hotel kek atau rumah kosong biar gak didengar orang,"


"Kenaapa sayang kok kamu sewot pengen ya,"Goda mas Beni.


"Iya,eeehh gak ding maksutya ya kalau udah nikah pengen,"Jawabku kikuk lalu aku mengalihkan pandangan aku dari mas Beni.


"Hahah kamu kalau panik makin menggemaskan aja seh yang,"Mas Beni mencubit pipiku.


"Mass apaan seh maen cubit cubit aja sakit tauk,"Omelku.


"Berarti maunya dicium dong,"


"Gak,"Aku melotot lalu berjalan meninggalkan mas Beni aku menuju mobilnya.


"Yang tungguin,"Mas Beni menyusul langkah aku.


Sore itu kami pulang bersama,sepeda motorku aku tinggal dimall kata mas Beni aman,akupun menurut pulang bersama mas Beni.

__ADS_1


__ADS_2