
Aku mulai membuka mataku tempat yang asing,,dimana ini batinku,sampai suara seorang perempuan mengalihkan pandangan aku.
"Kamu sudah sadar nak,"
"Kamu si siapa,ini dimana,"
"Apa kamu belum ingat nak?".
Aku kembali mengingat dan ternyata aku baru ingat jika aku dirumah mas Beni,ya mas Beni udah menjnggal .
"Hkks hiks mas Beni,"
"Ikhlaskan nak,Beni pasti sudah disurga yang tabah dan kuat ya,"
"Ibu ini siapa?"
"Saya Aminah tantenya Beni,"
"Saya Ara tante,"
"Oh jadi kamu yang namanya Ara,Beni cerita banyak tentang kamu,"
"Benarkah tan,tan kenapa mas Beni meninggaL bukannya pengobatannya berhasil ya,"
"Dokter sudah nyerah untuk menangani Beni karena obat obatan sudah gak bisa masuk lagi,"
"Hiks Hiks,"Aku hanya menangis tak bisa berkata apa apa lagi.
"Permisi nyonya ini ada surat dari tuan untuk diserahkan kepada nona ini,"
"Oh iya Bi makasih ya,"
"Sama sama nyonya,saya permisi,"
__ADS_1
"Ra ini surat dari Beni buat kamu,"
"Makasih tan,tan aku mau keluar,"
"Kamu yakin mau ikut makamin Beni,"
"Ya tan tolong ya,"
Aku akhirnya ikut keluar dan rencananya aku akan ikut memakamkan mas Beni.Aku berjalan keluar dan duduk didepan keranda yang berisi maayat mas Beni.
Pemakaman mas Beni tidak jauh dari rumahnya sekita sepuluh menit telah sampai kakiku melangkah dengan berat aku histeris saat mas Beni dimasukkan kedalam liang lahat,tak kuat menahan kesedihan aku pingsan kembali.
Reno selalu setia mendampingi aku tak sedikitpun meninggalkan aku.Aku dibawa kedalam rumah mas Beni lagi,serasa duniaku berhenti berputar tak menyangka mas Beni pergi secepat ini.
"Ra sadar dong jangan kayak gini,beruntung banget seh laki laki itu dicintai kamu,"Gumam Reno.
Sekitar duapuluh menit aku sadar tatapan mataku kosong,lagi dan lagi aku kehilangan orang yang aku sayangi dulu mas Aldo sekarang mas Beni,apa aku ini pembawa sial batinku.
"Ra kamu makan ya,"
"Gak Ren terimakasih,"
"Nanti kamu sakit,"
"Gak aku gak lapar,"
"Muka kamu pucet banget lo,ayok makan aku suapin ya boleh sedih Ra tapi jangan berlarut larut seperti ini, kita doakan Beni agar tenang disana,"
Aku menoleh ke arah Reno,benar kata Reno aku gak boleh terpuruk lagi,,aku gak boleh terus terusan sedih kasihan orang orang terdekatku.
"Ren aku mau ikut makan,"
"Benarkah,ayuukk ke warung makan langganan aku pasti kamu akan ketaagihan,"
__ADS_1
"Emang iya,boleh kita coba,"
Aku berjalan bersama Reno menuju rumah makan sederhana,tiba disana ternyata sangat ramai sekali,Reno lalu memesankan Ku makanan,dan makanan itu kesukaanku.
Dengan sabar Reno menungguku makan sampai aku selesai."Kok kamu gak makan Ren?"
"Nanti saja ,aku masih kenyang tadi makan roti,"
"Kapan kok aku gak tahu,"
"Jelas gak tahu orang kamu melamun aja kok,"
"Hehe, "Nah gitu dong tersenyum kan cantik.
Suasana kembali seperti semula kesedihanku terhaPus oleh hiburan dari Reno.Dia paling bisa membuatku selalu tertawa.
Hari ini ibu datang bersama paman dan Elisa,mereka akan tiba sebentar lagi,aku menyuruh mereka kerumaH Reno karena memang aku menginap dirumahnya Reno.
"Ara Ya Allah kamu gak apa apa kan ,"Elisa panik.
"El,,Hik hiks mas Beni dia udah ninggalin aku,"Aku kembali menangis.
"Kamu yang sabar dan ikhlas ya semua sudah diatur sama yang diatas Beni sudah gak merasakan sakit lagi Ra sekarang pasti sudah tersenyum diatas sana,"
"Udah ya jangan nangis lagi,"
"Makasih ya El sudah mau ikut kesini,"
"Ya sama sama itung itung sekalian bulan madu hehe,"
"Dasar kamu,"Aku tersenyum.
Ibu memelukku dan juga menenangkanku,aku sedikit terhibur dengan kehadiran mereka.
__ADS_1