
Suara kokok ayam membangunkaanku dari tidur lelapku,perlahan lahan aku membuka mata,pertama aku lihat ibu tetapi ternyata ibu sudah tidak ada pasti sudah bangun duluan.
Aku bergegas bangun mandi dan shalat,setelah itu aku menyusul ibu pasti sedang didapur membuat sarapan.
"Pagi bu,"Sapaku lalu mencium pipi ibuku
"Pagi sayang,heem udah wangi aja,anak ibu ini,"
"Ya dong bu,ibu kok gak bangunin aku seh,"
"Ibu gak tega nak,kamu tidurnya lelap banget pasti kamu capek,"
"Bapak udah bangun belum bu?"
"Sudah,lagi olahraga keluar itu tadi ibu lihat didepan,"
"Ohh,aku bantuin ya bu?"
"Gak usah kamu jalan jalan pagi sana aja,ibu tau kamu masih capek,"
"Malas ah bu,ntar siang aja lah sekalian kerumah Elisa,oh ya Elisa kapan bu mau tunangan sama paman,"
"Kata paman kamu langsung nikah aja gak pakai tunangan tunangan segala,"
"Bagus itu bu,langsung gas hehe,"
"Dasar kamu,oh ya gimana hubungan kamu sama Beni lancar kan?"Tanya ibu,ibu belum tahu jika mas Beni sakit serius karena aku belum cerita.
"Mas Beni sakit bu,"Jawabku sedih
"Sakit apa nak,kok ibu gak tahu kamu belum cerita sama ibu,"
Aku lalu menangis memeluk ibuku,setelah ibu menenangkan aku.
,aku menceritakan semuanya ke ibu,dan ibu begitu terkejut dan ikut sedih,tetapi ibu memberi nasehat yang kurang lebihnya sama seperti bapak dan tante.
"Kamu sabar sayang,ikhlaskan dan selalu doakan yang terbaek untuk Beni ya,karena saat ini hanya doa dan dukungan dari orang orang terdekatnya yang dia butuhkan,"
"Iya bu,itu pasti,"Saat tengah berbincang bincang bapak muncul dan memghampiri kami.
"Lagi ngobrolin apa kok serius bener,"
"Soal mas Beni pak,aku belum cerita sama ibu,"
"Ohh,apa sudah ada kabar dari keluarga Beni Ra?"
"Belum pak,aku hubungi Yuwan belum bisa,"
"Ya kamu sabar dulu,mungkin mereka tengah ffokus dengan Beni,"
"Iya pak,oh ya bapak jadi balik hari ini,"
"Iya sayang jadi,kasihan tante kamu ditinggal sendiri,"
__ADS_1
"Heleh kasihaan apa kangen pak,"Ledekku.
"Kamu itu ya,"Sambil melirik ibu mungkin bapak sungkan ada ibu.
Aku tertawa melihat ekpresi bapak,selesai membuat sarapan aku membantu ibu menyiapakan sarapan dan sarapan bareng terasa hangat jika sedang berkumpul seperti ini,serasa lengkap,tapi,yaahh takdir berkata laen,ibu sama bapak tidak berjodoh.
"Pak,bu aku mau kerumah Elisa dulu ya,"
"Kamu mau naek apa Ra,sepeda motor dibawa paman kamu ke desa sebelah,"
"Yaahhh,memang ada acara apa bu?"
"Pamanmu disuruh mbenerin mobil pak lurah,"
"Y sudah aku pesan ojol aja bu,"
Sekitar lima belas menit ojol pesananku datang,aku segera pamit dan berangkat menuju rumah Elisa.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai dirumah Elisa,tak banya berubah ternyata,tetapi ada yang menarik perhatianku,rumah depan Elisa sudah nampak berpenghuni karena setahuku rumah itu kosong bertahun tahun.
"Assalamualaikum Elisa?halo permisi spadaa,"Panggilku didepan rumah.
"Ya tunggu sebentar,"Lalu membuka pintu dan terkejut melihat kedatanganku.
"Ya amppuun Araaaaaa,haaaa ini beneran kamu Zahra kan?"Elisa malah histeris sendiri.
"Gak usah teriak teriak juga kali El aku udah denger,jawab salam dulu ngapa,"
"Iya aku juga kangen banget sama kamu baru dapat cuti kerja juga El,"Saat tengah berpelukan ada suara seseorang yang menegur kami.
"Ikutan donk pelukan,biar kaya teletubis gitu,"
Aku dan Elisa menoleh kesumber suara,aku begitu teekejut melihat siapa yang datang.
"Kamu tuh ya,kebiaasaan ikut nimbrung aja,"Prote Elisa.
"Sensi amat buu lagi palang merah apa,ada tamu bukanya disambut dan disuruh masuk gitu,"
"Hiii ogaahh paling paling cuma numpang ngopi,"
"Hae Ra apa kabar?masih ingat aku kan,"Dia menyapaku aku kaget siapa ya dia,kayak Taufik tapi kok sekarang keren banget batinku.
"Ra ngapain bengong,kamu gak lupa kan sama si sontoloyo ini,"
"Eh iya,gak kok,kamu Taufik kan?"
"Iya Ra,aku Taufik seneng dengernya kamu masih ingat aku,"
"Sempet gak inget seh,udah lama banget gak ketemu kamu,terakhir kan pas perpisahan itu".
"Iya,gimana kabar kamu sekarang tambah cantik aja,"
"Idiihhh najis,gak mempan rayuanmu,"Samber Elisa.
__ADS_1
"Kenyataan kok siapa yang ngrayu,kamu kenapa sensi banget seh sama aku,"
"Iyalah kamu itu tetanggaa paling menyebalkan,"
" Eh tunggu tunggu,tetangga?maksud kalian,"Aku bingung sama percakapan mereka dan heran aja sejak kapan mereka jadi akrab begitu.
"Iya kita tetanggaan aku tinggal tuh didepan rumah si kunyuk itu,"
"Heh enak aja ngatain orang dia ini tinggal dirumah kosong itu Ra temenya demit demit,"Lama lama bisa stres aku jika sama kamu.
"Siapa juga yang mau sama kamu,aku kan kesini nyamperin Zahra bukan kamu,"
"Zahra juga ogah kali kenal sama cowok ngeselin dan tukang minta kayak kamu,"Gerutu Elisa.
"Kalian ini kenapa seh dari tadi debat mulu dan sejak kapan coba kalian jadi akrab,"
"Sejak tetanggan Ra,"Jawab Taufik.
"Hiihh siapa yang akrab Ra kagak,"
Aku masih terheran heran dengan dua orang itu,bisa bisa telingaku panas mendengarkan mereka lalu aku memutuskan untuk masuk saja kedalam rumah Elisa daripada mendemgarkan mereka debat.
"Ra tunggu,aku masih mau ngobrol sama kamu,"
"Kasihan deh lo ditinggal Ara,mana mau dia ngobrol sama cowok sinting kaya lo,"
"Kamu tu yang sinting bilang aja iri,"
"Sapa juga yang iri sama kamu,"
"Sudah pergi sana aku mau ngobrol sama Ara hus hus pergi,"
"Emangnya aku kucing,"
"Bapaknya kucing weeekkk,"Elisa lalu menutup pintu dan menghampiriku.
"El jangan benci benci sama dia lo ntar malah jadi benar benar cinta,"Godaku.
"Amit amit Ra,gak akan mau aku cowok menyebalkan kaya dia,"
"Ye dibilangin ko,lagian dia itu akrab juga sama paman kamu jadi tahu aku pacarnya paman kamu,"
"Loh kok bisa,"
"Ya bisa lah,tiap mas Heri kesini pasti selalu diajak itu anak maen catur lah,maen remi laah,ngopi bareng lah,masih banyak lagi kan bikin aku kesal.
"Hahahaah jadi pas diapelin digangguin dia dong,"Tawaku.
"Iya Ra kan sebel jadinya,"Cemberut.
"Sabar aja El,"
Kami menghabiskan waktu untuk saling tukar cerita,aku juga menceritakan kisahku pada Elisa,setidaknya beban fikiranku berkurang dan sedikit terhibur dengan kelakuan Elisa sama Taufik.
__ADS_1