Penghianatan Seorang Sahabat

Penghianatan Seorang Sahabat
Ikhlas


__ADS_3

"Y Allah Ara,sayang kamu kenapa bangun nakm,"Bapak panik melihat aku pingsan.


"Om aku panggilkan dokter dulu om,"Yuwan berlari menghampiri dokter.


"Dok,dokter ada yang pingsan tolong dok,"Teriak Yuwan.


"Dimana mas,ayo kita kesanam,"Yuwan dan dokter berlari menuju dimana Ara pingsan.


"Mari pak baringkan sini,"Dokter mengajak bapak sambil membopongku keruangan disamping mas Beni.


"Silahkan tunggu diluar saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu,"


Bapak dan Yuwan berjalan keluar untuk menunggu aku diperiksa dokter,sekitar sepuluh menit dokter keluar dan bapak menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dok keadaan anak saya?"


"Pasien hanya shock dan kelelahan,tetapi sepertinya ada masalah dalam kepalanya,maaf apa sebelumya pasien pernah mengalami kecelakaan?"


"Yaa dok pernah dulu semasa masih sekokah pernah kecelakaan,"


"Jika tidak keberatan boleh pasien dilakukan tindakan rongsen dan scan pak untuk mengetahui lebih lanjut apa ada masalah dalam kepalanya,"


"Boleh dok,l,jika memang harus dilakukan pemeriksaan saya setuju,"


"Baik pak kami akan melakukannya,nunggu pasien sadar dulu,silahkan jika mau masuk,"


"Terimakasih dok,"


Bapak dan Yuwan sudah berada disisiku,perlahan lahan aku membuka mataku,pusing itu yang aaku rasakan.


"Sayang kamu sudah sadar nak?"


"Aku kenapa pak,auuuu pusing,"Jawabku lirih.


"Kamu pingsan Ra,jangan bangun dulu nak,kamu istirahat dulu ya,"


"Wan mas Beni gimana?"


"Kamu gak sah kawatirin dia,pikirin diri kamu dulu,"


"Apa dia akan sembuh?"


"Dia pasti sembuh Ra,,Beni kan kuat dia akan selalu menjaga kamu,"


"Haaaahhh menghela nafas,"


"Sayang sudah ya jangan mikirin Beni dulu,fikirkan kesehatan kamu,kita doakan Beni semoga cepat sembuh,ikhlaskan dia nak jika memang Beni mau berobat,"Nasehat bapak.


"Iya pak,pak jangan ngabarin ibu ya aku gak mau ibu kawatir,nanti malah kepikiran,"


"Iya sayang,"

__ADS_1


"Ra aku ke ruangan Beni dulu ya,"


"Iya Wan,salam buat mas Beni,"


"Iya Ra,kamu cepet pulih ya,nanti aku balik kesini lagi,"


"Aku mau pulang saja gak mau disini,"


"Tapi nak kamu harus menjalani serangkaian tes dulu akhir akhir ini kamu sering pingsan,"


"Aku gak apa apa pak,,ayo pulang,"Rengekku.


"Baiklah kita tunggu dokter dulu ya?"


Aku berusaha memejamkan mata dulu sebelum pulang,dalam batinku aku merasa sangat sedih dengaan kondisi mas Beni aku takut dia gak bisa sembuh lagi,aku takut kehilagan dia.Semoga mas Beni berhasil dalam pengobatannya.


Aku sampai dirumah bersama bapak sudah malam,tante yang melihat aku lemah terlihat panik.


"Sayang kamu kenapa,kok pucet banget trus kenapa sampe malam begini emang jauh rumah sakitnya,"Cerocos tante


"Aku gak apa apa tan,caapek aja,"Jawabku lesu dan langsung duduk dkursi.


"Sudah ma tanyanya nanti dulu,sekarang kammu buatkan teh hangat dulu buat Ara,"


"Iya pa,sebentar aku buatkan,"Berjalan menuju dapur.


"Pak apa mas Beni akan sembuh,"Tanyaku pada bapak.


"Haaahh,m,iya pak insaalah aku ikhlas apapun yang terjadi,"


Aku merebahkan tubuhku diatas kasur ingin rasanya segera terlelap tidur.


agar fikiran ini bisa tenang.Ntah jam berapa aku bisa terlelap tidur rasanya baru sebentar aku tidur udah teedengar adzan aja.


Aku bergegas bangun dan mandi lalu shalat,


setelah itu aku bersiap siap akan berangkat kerja,aku akan bekerja daripada dirumah hanya kepikiran mas Beni.


"Loh sayang kamu mau kerja?gak istirahat dulu aja Ra,"Tanya bapak


"Iya pak aku mau kerja dirumah malah kepikiran mas Beni terus,oh ya nanti aku mau mampir kerumah sakit pak,"


"Kamu sama siapa Ra,"


"Kayaknya sama kak Ros pak,"


"Ya sudah haati hati ya,"


"Ya tante,aku berangkat ya tan,pak,"Aku berdiri dan bergantian mencium tnte juga bapak,aku mau membawa sepeda motor sendiri.


Sampai ditempat kerja aku sudah disambut sama Yuwan sepertinya sedang menungguku.

__ADS_1


"Jam berapa ini baru sampai,"


"Terserah aku lah ini itu masih pagi aku tu pegawai paling rajin tauk,"


"Heleh rajin apaan ne sekarang saja baru datang,"


"Ada apa kamu disini,"


"Beni ingin ketemu kamu,"


"Yaa nanti sepulang kerja aku juga rencana mau mampir Wan,"


"Sekarang saja aku antar,nanti malam kami berangkat ke Inggris,"


"Apa?Inggris?"


"Iya Beni akan menjalani pengobatan disana,"


"Baiklah ayo berangkat kalau begitu,"


Akhirnya aku tidak jadi masuk kerja karena harus menemui mas Beni,sepanjang perjalansn kami hanya saling diam sibuk dengan fikiran masing masing.


"Sayang apa kabar,"Tanya mamanya Mas Beni


"Baek tan,aku memeluk mamanya mas Beni dan menangis,"


"Cup cup sudah nak jangan nangis nanti Beni gak suka lihat kamu nangis,"


"Iya tan,"


"Kamu masuk Beni sudah menunggumu,"


Aku berjalan masuk,kulihat mas Beni bersandar pada ranjang rumah sakit,dia berusaha tersenyum menyambutku datang dan menyuruhku duduk disampingnya.


"Hae Ra gimana kabar kamu hari ini,jangan cemberut gitu,senyum dong,"Tanyanya lirih


"Seperti yang kamu lihat mas,kamu sendiri gimana,apa yang kaamu rasain mas?"


"Aku gak apa apa ko Ra,,maafin aku ya gak bisa jagain kamu lagi,"


"Kamu bicara apa seh mas,kamu bilang akan memperjuangkan aku,"Aku mulai berkaca kaca.


"Maafin aaku Ra,,mmungkin aku gak bisa menepati janjiku sama kamu,tapi aku sudah sangat senang kamu mau memberi kesempatan untukku,Jika Tuhan mengijinkan aku sembuh aku akan segera memilikimu,doakan aku Ra,sementara aku akan berobat keluar semoga pengobatan ini berhasil ya,"


Aku menghambur memeluk mas Beni ntah kenapa perkataanya seolah olah gak akan peernh kembali,aku segera menepis pikiran buruk itu.


"Aku akan menunggu kamu mas,kamu harus sembuh ya,dan buktiin janji kamu sama aku,"


"Aku akan selalu mendoakan kamu dari sini mas,kamu semangat ya buat aku,"


Hari itu aku habiskan bersama mas Beni sebelum dia berangkat,yaah sku harus ikhlas dengan keputusan mas Beni demi kesembuhanya.

__ADS_1


__ADS_2