Penghianatan Seorang Sahabat

Penghianatan Seorang Sahabat
Terpuruk


__ADS_3

Sesampainya dirumah tante Emi aku dibaringkan mas Beni dikamar tamu dan tamte Emi mengolesiku minyak kayu putih.


Lima menit berlalu aku akhirnya siuman,semua tampak lega.


"Sayang kamu sudah sadar,"Bapak mengelus2 ngelus kepalaku.


"Ini dimana pak,"


"Kamu masih dirumah tante nak,ini minum teh hangaatnya dulu,"Tante Emi masuk dan memberiku minum.


"Terimakasih tante,aku kembali meneteskan aer mata,"


"Sudah nak jangan sedih lagi ya,jangan kamu menyalahkan diri kamu sendiri ini sudah takdir nak,ikhlaskan Aldo doakan agar dia mendapat tempat terbaek disana,"Merangkulku.


"Ya tante,maafin aku,"


"Sudah naak jangan terus merasa bersalah ya?"


Hari itu aku memutuskan untuk pulang saja tetapi bapak malah membawaku pulang kerumah ibu,ibu terkejut dengan kedatangan kami karena kami tidak bilang sebeluya.


"Sayang kamu pulang,"Ibu menghampiriku.


"Ibu hiks hiks,mas Aldo pergi bu dia udah ninggalin aku bu,"Aku menghambur kepelukan ibu.


"Sudah sudah sayang yang sabar ya nak ibu tahu ini berat buat kamu tetapi kamu harus ikhlas,"


"Mas masuk dulu,loh Ben kamu ikut lagi,"Tanya ibu Rumi


"Ya bu,"Menganggukkan kepala.


"Sini masuk dulu kalian istirahat saja dulu saya mau membawa Ara ke kamar,"Pamit Ibu.


"Iya Rum tenangkan Ara dulu kita akan ngobrol disini,"


Aku diantar ibu ke kamar sedangkan diruang tamu bapak mengobrol dengan mas Beni.


"Om maaf kalau saya lancang,saya mau bertanya sebenarnya Aldo itu siapa om,kenapa sampai Ara seperti ini kehilangan dia,bukanyaa mantan pacar dia itu yang kemaren menikah om?


"Ya tak apa apa Ben,Aldo itu teman Ara bisa juga teman dekaat,dulu dia pernah menyelamatkan Ara waktu kecelakaan dia yang mendonorkan darahnya untuk Ara,,haah,"Bapak mengambil nafas sejenak.


"Aldo teman laki laki kedua setelah Tristan,Ara menganggap Aldo sebagai kakak,tapi disisi laen ternyata Aldo memiliki perasaan kepada Ara tetapi Aldo tidak menyampaikan kepada Ara,dia hanya menulis surat sebelum dia meninggal dan Ara baru mengetahuinya,"


"Aldo mengalami kecelakaan parah saat akan datang menyatakan cinta kepada Ara,dia mengetahui kalau Ara telah kembali kepada Tristan,mungkin karena itulah dia menjadi merasa bersalah,"


"Kasihan banget om Ara aku gak tega melihat dia seperti ini,"


"Yaahhh Ara memang mudah sekali rapuh Ben apa lagi menyangkut orang yang dia sayangi,om hanya berharap kelak tak akan ada yang menyakiti dia lagi,"


Aku janji Ra aku akan buat kamu bahagia,aku gak akan membiarkan kamu menderita lagi,gumam Beni.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari hari berlalu begitu cepat tetapi aku masih dalam kesedihanku,aku merasa bersalah atas meninggalnya mas Aldo,aku menyalahkan diriku sendiri teman teman,paman,ibu,bapak tante,mas Beni,mbak Hana bahkan Tristan sampe datang untuk membuat aku kembali seperti dulu tapi aku masih tetap diam dan melamun.


"El kita harus gimana lagi aku kasihan sama Ara kenapa dia menjadi seperti ini?"Kata Tika


"Aku juga gak tau Tik,semua cara udah kita lakuin tetapi tidak bisa membuat Ara seperti dulu,"Balas Elisa


"Eh eh El lihat itu siapa yang datang keren banget mobilnya,"

__ADS_1


"Iya Tik siapa ya dia kok kesini,"(Rumah Ara)


Beni yang datang mengunjungi aku dia setiap hari minggu pasti datang kerumahku,,dan ini kedua kalinya sahabat aku melihatnya.


"Loh bukanya itu bosnya Ara ya,yang waktu itu pura pura jadi pacarnya Ara pas menghadiri pernikahan Tristan,"Kata Tika.


"Ya El waahh dia ganteng banget seh kalau pakai baju casual gittu uuhhhh si Ara beruntung banget sih kenal cowok seganteng dan sekeren dia,"


"Hus hus diem dia udah deket tuh,"Tunjuk Elisa.


"Hae Aranya ada?"Tanya Beni.


"Ada kok,itu didalam masih diam saja gak mau ngomong,"Jawab Elisa.


"Boleh saya masuk,"


"Oh iya iya silahkan,"Tika menjawab.


Beni lalu masuk dan menghampiriku di ruaang tamu,aku hanya melihatnya dengan tatapan kosong.


"Hai Ra gimana kabar kamu?kamu gak pengen ya ngobrol sama aku,aku udah jauh jauh datang kesini buat nemuin kamu lo?"


"Sampai kapan Ra kamu kayak gini terus aku kangen sama bercandanya kamu,kangen ocehan kamu,"


Beni terus berbicara padaku tetapi aku hanya diam menatapnya tak menyahut omongan mas Beni.


"Mas gimana kalau kita ajak Ara keluar,kita ajak ketaman siapa tahu dia bisa terhibur,"Usul Elisa.


"Ide bagus,"Jawab Tika.


"Tapi apa diberi ijin sama ibunya?"Tanya mas Beni.


Elisa menuju dapur untuk meminta ijin sama ibunya Ara,dan ibunya mengijinkan untuk membawa Ara jalan jalan siapa tahu dia bisa kembali sepertii dulu harap ibunya.


Sekitar duapuluh menit kami sampai di taman,mas Beni turun dan menggandeng tanganku.


"Ehm ehm kaya kereta aja dgandeng terus,"Canda Tika.


"Kita kemana tanya Beni,"Tanpa menjawab candaan Tika.


"Kita duduk disana saja yuk,"Tunjuk Eilisa.


Tempat yang dituju mereka adalah tempat dimana dulu aku,mas Aldo dan kak Tristan bertemu.


Mas Beni terus mengajakku berbicara,aku melihat sebuah pedagang es campur yang dulu aku pernah dibelikan sama mas Aldo,aku ingin sekali minum es itu dan aku meminta mas Beni membelikanya dan untuk pertama kalinya berbicara pada orang laen.


"Aku mau itu,"Tunjukku pada penjual es


"Apa Ra kamu mau es campur itu,aku belikan kamu tunggu disini ya,"Jawab mas Beni kegirangan,Elisa dan Tika pun bahagia dengan perubahanku tadi.


"Akhirnya kamu mau bicara juga Ra,udah dong Ra jangan selalu menyalahkan diri kamu sendiri,kita kangen sama kamu yang dulu Ra,"Cerocos Tika.


"Ra lihat deh mas Beni perhatian banget sama kamu,udah ganteng,maco,keren,kaaya lagi aduhh itu mah idaman cewek cewek tauk Ra,"Elisa menimpali.


Aku hanya menanggapi dengan tersenyum,saat tengahh mendengarkan teman temanku berbicara aku seperti melihat mas Aldo apa saking kangenya aku atau karena aku merasa bersalah.Aku mengikuti orang itu meninggalkan teman temanku saat akan menyebrang jalan aku tidak memperhatikan jalan dan tiba tiba ada mobil melaju kencang.


"Aku menoleh dan menjeriitt aaaaaaaaaaa,"


"Ciiiiiiiiittttttttttt,,,suara decit ban mobil,"

__ADS_1


Hampir saja aku tertabrak mobil lagi,pengendara mobil itu turun dan marah marah.


"Lo,,,,,,kenapa seh dimana mana selalu saja ketemu lo,,kalau mau mati jangan disini tuh dijembatan sana nyemplung kali sana,"Cerocos orang itu yang ternyata Yuwan.


Aku menangis tanpa menjawab omelan Yuwan,,benar kata Yuwan lebih baek aku menyusul mas Aldo,aku meninggalkan Yuwan dan berjalan menuju jembatan aku perlahan lahan naek ke atas jembatan saat aku akan melompaat ada yang menarikku.


"Woii lo mau kemana teriak Yuwan,si Ara kenapa lagi dia,kok pucet dan tatapanya kosong biasanya selalu nglawan kalau aku bicara,jangan jangan benar lagi mau bunuh diri,"Gumam Yuwan


Yuwan pun mengikutiku saat melihat aku akan melompat dia menarikku dan aku terjatuh dalam pelukanya.


"Lo gila ya,jangan sia siain hidup lo dengan bunuh diri,"Bentak dia.


"Hiks hiks aku mau ikut mas Aldo,aku mau menebus kesalahan aku,"Aku menangis dipelukan Yuwan.


"Memang kalau lo mati lo bakal ketemu dia,Tuhan gak akan menerima orang yang bunuh diri,"


Ditempat laen Elisa dan Tika bingung mencari keberadaan ak,saat mas Beni kembali dia terkejut mendapati Ara tidak ada.


"Kalian ini gimana seh masak nemenin satu orang saja bisa kecolongan,"Marah mas Beni.


"Maafkan kami tadi kami ngobrol bareng disini dan Ara juga sudah merespon baek,kami menceritakan masa masa sekolah tau tau Ara udah gak ada,"Jelas Tikaa.


"Udah daripada kita debat disini lebih baek kita cari dia,"Ajak Elisa.


Mereka akhirnya mencari Ara bersama sama ,sampai akhirnya Tika melihat Ara dipelukan laki laki.


"Tunggu coba lihat disana bukaannya itu Ara ya,,dia sama siapa dan kenapa malah pelukan segala kita disini bingung mencarinya dia enak enkan pelukan,"Tika kesal.


"Jangan suudzon dulu bukanya kita tahu Ara sedang terpuruk jangan jangan terjadi sesuatu,lebih baek kita samperin,"Ajak Elisa.


"Kita semua panik nyari kamu Ra,malah enak enakan disini,"Bentak Beni.


Saat Beni melihat siapa yang memeluk Ara dia terkejut karena bertemu dengan adik tirinya.


"Kamu!!!,,,,,Beni terkejut,"


"Kakak kenapa ada disini?"Yuwan pun tak kalah terkejut.


"Ara kamu gak apa apa,"Elisa lalu mendekat ke arahku.


"Maaf,"Hanya itu yang mampu aku ucap.


"Kita pulang nanti ibu kamu nyari,"Ajak Beni.


Beni cemburu melihat Yuwan memeluk Ara.


"Jangan kasar kak sama cewek,dia tadi mau bunuh diri lalu aku tarik makanya jatuh dipelukan aku jangan salah paham,"Jelas Yuwan.


"Apaaaaa,,,,Ra kamu gila,apa dengan bunuh diri Aldo akan hidup lagi,apa dengan begitu semua masalah selesai,,gak gini caranya Ra,,mana Ara yang tegar dan kuat,mana Ara yang dulu,kamu gak kasihan sama orang orang disekitar kamu Ra,gak kaya gini caranya Rakamu harus bangkit,Aldo gak akan suka kamu seperti ini,"Tika marah marah sama aku mungkin dia sudah lelah menemani aku selama seminggu aku seperti orang gila.


"Maafin aku hiks hiks,"Bruukk lalu aku pingsan.


"Ra bangun,ssbaiknya kita bawa kerumah sakit,"Saran Yuwan


"Ayo pakai mobil aku saja,kalian ada yang bisa nyetir mobil gak,"Tanya Beni kepada kedua sahabat Ara.


"Saya bisa,"Tika menjawab.


"Baiklah kamu bawa mobil saya dan jemput orang tua Ara,saya akan ikut mobil dia,"

__ADS_1


Mereka berangkat ke rumah sakit dengan Yuwan yang menyetir dan Beni dibelakang menemani Ara.


__ADS_2