Penghianatan Seorang Sahabat

Penghianatan Seorang Sahabat
Awal kebencian Anisa pada Shena


__ADS_3

Sekitar kurang lebih satu bulan di sekolah itu, Shai selalu mencoba mendekati Shena, tetapi selalu saja terganggu oleh Anisa. Lama-kelamaan, Shai tahu bahwa Anisa menyukai dirinya. Namun sayangnya, Shai tidak menyukai Anisa. Walaupun Shai tidak menyukai Anisa, Anisa tetap berusaha untuk mendapatkan Shai, dan bahkan Anisa akan menghalalkan segala cara agar Shai ada dalam genggamannya.


Pada suatu hari saat Shai dan Shena sedang berduaan, Anisa datang mengganggu kedekatan mereka berdua.


Anisa: "Shena, kamu dipanggil oleh Zahra."


Shena: "Ada apa? Kenapa Zahra memanggilku?"


Anisa: "Aku juga tidak tahu, sepertinya dia ingin membicarakan hal yang penting denganmu."


Shena: "Baiklah, Shai aku pergi dulu ya, nanti kita bicara lagi ya."


Shai (sambil menghela nafas panjang) :"Ya, baiklah."


Shai pun melihat kepergian Shena dengan hati yang kecewa dan jengkel. Sementara Shena pergi, Anisa duduk di samping Shai dan mencoba menggoda Shai.


Anisa: "Shai, kenapa kamu tidak bermain dengan teman-temanmu?"


Shai : "Bukan urusanmu."


Anisa: "Kenapa kamu berkata seperti itu? Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?"


Shai: "Pertanyaanmu tidak salah, tapi aku tidak suka berbicara denganmu."


Shai pun pergi meninggalkan Anisa sendirian di tempat itu.


Anisa (dalam hati) : "Lihat saja Shai, akan ku ubah rasa tidak sukamu padaku menjadi rasa suka."


Anisa pun berlalu dari tempat itu.


Shai yang tadinya pergi dari tempat itu, kembali lagi ke tempat itu. Shai kembali saat Anisa sudah pergi. Beberapa menit kemudian, Shena datang menghampirinya Shai, dan duduk di samping Shai.

__ADS_1


Shai: "Shena, bukankah kamu dipanggil oleh Zahra?"


Shena: "Iya katanya, tapi aku mencari Zahra kesana kemari, dan aku tidak menemukannya."


Shai: "ooooh."


Shena: " Shai, aku tidak tahu apakah ucapan teman-temanku itu benar atau tidak. Mereka bilang kalau Anisa adalah orang yang tidak baik."


Shai (dalam hati) :" Andai saja kamu tahu Shena, dia memang bukanlah orang yang baik."


Shena: "Shai, kenapa kamu diam saja?"


Shai :" Tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."


Shena: "Shai, aku pergi dulu ya. Aku mau bermain dengan teman-temanku."


Shai: "Ya."


Setelah berlalu dari tempat tadi, Shena pergi menemui Anisa. Shena ingin menceritakan isi hatinya. Kemudian, setelah beberapa lama mencari, akhirnya Shena menemukan Anisa.


Shena: "Anisa, aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu."


Anisa: "Apa?"


Shena: "Anisa, aku telah jatuh cinta pada Shai."


Anisa (dalam hati) : "Sialan, kenapa si Shena ini malah menyukai Shai, lihat saja akan aku lakukan sesuatu agat Shai menjauhimu."


Shena: "Anisa, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak suka, jika aku menyukai Shai?"


Anisa: "Tidak kok, aku senang jika kamu senang."

__ADS_1


Shena: "Benarkah?"


Anisa: "Ya, kenapa tidak?"


Mereka berdua pun berpelukan.


Sejak saat itu, Anisa menjadi sahabat yang bermuka 2, saat di depan Shena dia tersenyum dengan manis. Tapi saat di belakang Shena, dia selalu menjelek-jelekkan Shena. Karena kepolosannya, Shena tidak tahu semua yang dilakukan Anisa di belakangnya. Anisa menjadi musuh dalam selimut, Anisa menjadi sangat membenci Shena.


Pada suatu hari, Diana datang dan berbicara pada Anisa di bangku tempat duduk Anisa.


Diana: "Anisa, kamu itu benar-benar orang yang tidak tau malu yaa, kamu harus ingat, kalau bukan karena Shena, kamu tidak akan mendapatkan teman sebanyak ini!!!."


Anisa: "Diana!!! Ini adalah urusanku dan Shena, dan seharusnya kamu tau diri dan tidak ikut campur urusan orang lain."


Diana: "Aku ini temannya Shena, jadi aku berhak melindungi Shena dari orang jahat seperti kamu!."


Saat mereka berdua sedang beradu mulut, Shena pun datang dan melerai mereka berdua.


Shena :" Ada apa ini?"


Diana: "Shena, lihatlah orang yang sudah kau anggap seperti saudara ini, dia itu adalah seorang penghianat."


Anisa :"Shena, jangan percaya padanya, kamy harus ingat bahwa banyak orang yang iri melihat kita berdua akrab layaknya saudara. Mungkin saja dia juga iri pada kita."


Diana: "Kamu jangan mengada-ada."


Shena: "Sudah-sudah, jangan bertengkar."


Dengan hati yang jengkel, Diana pergi dari tempat itu. Sebenarnya Shena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Diana, dia lebih percaya pada Anisa.


Demikianlah Shena, dia masih terlalu polos untuk menilai sesuatu, hingga dia tidak sadar, bahwa teman baiknya itu telah suka pada orang yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2