PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
BERITA PANAS


__ADS_3

Hari sudah semakin larut saat Arga dan kedua orang tuanya kembali pulang sehabis melamar Suci yang ternyata menolak menikah dengan Arga, pria yang telah mengambil paksa kesuciannya.


Suasana di dalam mobil itu tampak hening, tak ada pembicaraan. Hanya deru mesin mobil yang terdengar mendominasi.


Jalanan ibu kota cukup ramai meski hawa dinginnya malam mulai terasa, roda-roda yang berjejer rapi di pinggir jalan menjajakan makanan bermacam-macam masih tampak ramai pengunjung.


Tuan Tara menoleh pada sang putra yang kini tengah fokus mengemudi, wajah tegasnya terlihat dingin tersorot cahaya lampu dari luar sana yang mereka lewati. Tuan Tara tak lagi memojokkan Arga atas segala perbuatan buruknya, bukan berarti membenarkan perbuatan itu, putranya telah berusaha untuk bertanggung jawab dan meminta maaf, namun kenyataannya pria tampan yang nyaris sempurna itu di tolak.


Malam itu terasa mimpi bagi Arga, seumur hidupnya baru kali ini ia di tolak. Ia tak pernah menyatakan rasa ketertarikannya pada wanita manapun, sebaliknya, para wanita lah yang dengan suka rela mendekatinya meski Arga tak pernah meresponnya.


Sementara itu, di sisi lain, Suci tengah berbaring dengan menjadikan pangkuan sang ummi sebagai alas kepalanya. Gadis yang sudah bukan gadis lagi itu masih terisak, sekuat apa pun ia berusaha mengikhlaskan musibah yang menimpanya, tapi tetap saja rasa marah dan benci itu ada. Menyelinap masuk ke dalam hatinya melalui dorongan syetan.


"Tawakal nak, serahkan semua pada Allah." Umi Fatimah membelai rambut panjang sang putri dengan lembut.


"Apa kesalahan aku di masa lalu ummi? Sehingga Allah marah pada ku dan menghukum ku??".


"Istighfar sayang, jangan suudzan sama Allah. Tidak selamanya musibah itu hukuman, adakalanya musibah yang menimpa kita adalah ujian agar kita bisa naik tingkat menjadi hambaNya yang lebih baik lagi. Bukankah jika kamu sekolah dan ingin naik kelas itu harus melewati beberapa tahapan ujian?? Sama halnya dengan kehidupan kita, jika kita ingin naik tingkat ke arah yang lebih baik lagi, maka Allah akan memberikan ujian pada kita. Ikhlaskan semuanya nak".


"Tapi rasanya sangat berat umi, ujian ini terlalu berat untuk ku. Kenapa harus sesuatu yang paling berharga yang ada pada diriku yang Allah hilangkan?". Tangisan pilu itu semakin terdengar menyayat, siapa pun akan ikut merasakan pedihnya jika mendengar tangisan menyakitkan itu.


"Kamu selalu bilang, jika Allah tidak akan memberikan ujian melebihi takaran batas kemampuan hambanya, dan itu juga yang harus kamu yakini nak. Umi yakin kamu mampu melewati ini semua, cobalah buka hati ku untuk nak Arga. Niat baiknya untuk bertanggung jawab cukup menunjukan jika nak Arga pria yang baik".


"Pria yang baik tidak akan melakukan perbuatan yang keji umi. Bukan pria seperti itu yang ingin aku jadikan imam".


"Nak, buruk menurut mu belum tentu buruk di mata Allah, begitu pun sebaliknya, baik menurut mu, belum tentu baik di mata Allah. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Kita boleh saja menginginkan sesuatu sesuai standar kita, tapi jangan lupakan jika Allah lah yang mengatur segalanya. Kita hanya bisa berencana dan berharap, mengenai hasilnya, serahkan pada Allah. Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan, begitu pula dengan jodoh nak. Kembalikan semua pada Allah, libatkan lah nama Allah di hati mu, di setiap keputusan yang kamu ambil".


Suci terdiam, mencerna kalimat panjang lebar yang menentramkan itu. Tapi sayangnya, hatinya masih tidak terima dengan musibah yang menimpanya, Suci lupa jika sesuatu terjadi atas ijin Allah. Garis tangan seseorang telah di tentukan, taqdir seseorang telah tercatat jelas, manusia hanya bisa menjalaninya dan menerima dengan ikhlas. Allah lah sang penggerak kehidupan.


Ikhlas, kata sederhana yang sangat mudah di ucapkan itu ternyata tak semudah menjalaninya. Untuk mendapatkan keikhlasan nyaris harus berperang dengan diri sendiri dan keadaan sekeliling.

__ADS_1


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Pagi ini, Suci datang ke kantor nyaris terlambat. Terlalu lama menangis dan mendengar wejangan dari sang umi membuatnya terlambat tidur dan harus ketar ketir mengejar waktu.


Suasana di gedung bertingkat itu sudah tampak ramai oleh kedatangan para karyawan dan beberapa yang sudah memulai aktivitas mereka.


Suci berjalan tergesa melewati lobi, mengabaikan tatapan orang-orang yang terasa aneh baginya. Sampai di lokernya, ia segera berganti pakaian dengan seragam yang sudah di sediakan oleh perusahaan itu. Mengambil peralatan tempurnya berupa sapu dan alat pel.


Di samping pintu keluar, ia berpapasan dengan Tari, sahabatnya. Tatapan Tari tampak berbeda dari biasanya, seolah menyelidik dan penuh tanya. Namun lagi-lagi Suci mengabaikan itu, ia lebih memilih bersikap biasa saja.


"Assalamualaikum Tar, baru datang yah? Kamu telat juga?".


"Waalaikumsalam Ci, aku dari tadi kok. Abis dari pantry dulu."


Suci menatap Tari, lama-lama ia risih dengan tatapan Tari padanya, seolah menatapnya dengan...ah sudahlah. Dan Suci memutuskan untuk bertanya. "Tar, ada sesuatu yang mau kamu sampaikan??".


Tari mengangguk, menarik tangan Suci agar kembali masuk ke ruangan ganti para OG itu.


"Suci, ada hubungan apa kamu sama pak Arga?? CEO kita??".


"Arga?? CEO??". Suci tampak terdiam, jadi pria yang menodainya adalah seorang CEO yang selalu di elu-elu kan oleh para karyawan itu??


"Iya, YUSUF ARGANTARA". Ucap Tari. Tari menatap Suci dengan tidak sabar, menanti jawaban sang sahabat yang akan menjawab semua praduga yang sedari tadi bercokol di benaknya.


Suci berusaha untuk tersenyum, meski rasa sesak mulai terasa. "Tidak ada lah, aku kenal saja enggak, baru dengar namanya dari kamu. Selama aku kerja di sini, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya".


Suci memalingkan wajahnya, menghindari bersitatap dengan Tari, yang bisa saja melalui tatapannya itu kebohongannya akan terlihat.


"Serius? Kamu gak bohongin aku kan Ci??".

__ADS_1


Suci mengangguk, "Ada apa sih Tar? Kok pagi-pagi nanya yang aneh-aneh??". Suci bersikap biasa saja, menekan rasa gugupnya dengan meremas sapu yang sedari tadi ia pegang.


"Lihat ini Ci, di sosial media lagi ramai berita tentang pak Arga". Tari menyalakan layar ponselnya, memperlihatkan berita panas yang tengah ramai di perbincangkan. Di sana tertulis 'SCANDAL CEO MUDA MENARIK GADIS BERHIJAB KE RUANGAN PRIBADINYA'.


Suci terbelalak, bukan hanya tulisan mencolok itu yang membuatnya nyaris limbung. Tapi juga komentar-komentar Netizen yang selalu menganggap dirinya maha benar.


"Perempuan bayaran".


"Hijab sebagai kedok".


"Berhijab kok jual diri??"


"Gak malu sama hijab mbak? Jual diri pakai gamis segala".


Dan masih banyak lagi komentar miring yang tertulis di sana, Suci tidak kuat lagi membacanya. Mentalnya serasa di timbun oleh berton-ton batu yang tak bisa membuatnya bangkit kembali.


"Suci, itu bukan kamu kan? Tapi aku ingat betul kamu pernah memakai pakaian yang sama dengan yang ada di gambar ini".


Tari memperbesar gambar di layar ponselnya, "Ini kamu banget Ci". Ungkapnya lagi, di gambar itu memang hanya Arga yang wajahnya terlihat jelas, sedangkan Suci membelakangi kamera, sehingga hanya bagian belakang tubuhnya saja yang terlihat.


"Tar maaf, aku harus ke kamar mandi dulu".


Suci menjatuhkan sapu dan peralatan pelnya di atas lantai, hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring hingga membuat Tari terjingkat kaget.


"Loh Ci, kamu belum jawab pertanyaan aku, aku khawatir sama kamu Ci".


Suci tak lagi mendengar teriakan Tari yang memanggilnya. Ia hanya ingin segera sampai di kamar mandi dan melepaskan semua sesak di dadanya.


"Cobaan apa lagi ini ya Allah". Batinnya.

__ADS_1


Tangisnya pun pecah di salah satu bilik kamar mandi. Ia membekap mulutnya sendiri agar suara Isak tangis pilunya tak terdengar keluar. Di saat ia mulai belajar ikhlas untuk kembali bangkit, cobaan baru kembali muncul.


__ADS_2