PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
MAS??


__ADS_3

Waktu yang di nanti-nanti Suci akhirnya tiba, sore itu Arga yang hendak mengetuk pintu kamar Suci dan ingin mengajak perempuan itu untuk pergi di buat terpaku oleh penampilan Suci yang terlihat berbeda.


Suci memakai celana kulot hitam di padukan dengan kemeja tunik berwarna latte dan ikat pinggang hitam sebagai pemanisnya. Pasmina berwarna latte ia pilih untuk menutupi rambut hitamnya, tak ketinggalan juga sepatu flat berwarna hitam menjadi pilihannya, ia tampak lebih modis dari penampilan biasanya.


Sedangkan wajah putihnya hanya memakai bedak tabur bayi dan lipcream berwarna peach, membuatnya semakin terlihat segar dan berseri.


"Yuk, kenapa jadi bengong??". Ucap Suci.


"Ah ya, kita pergi".


Suci menarik tuas kopernya, namun Arga dengan sigap menggantikannya. "Aku aja yang bawa". Kata Arga.


Suci mengangguk seraya tersenyum, keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga dan berpamitan pada nyonya Tara dan tuan Tara yang mengantar kepergian mereka hingga ke teras rumah.


Sore itu sangat cerah, secerah hati Suci yang terlihat jelas di bingkai wajahnya, kebahagiaannya terpancar lewat sorot matanya yang berbinar.


"Kamu bahagia??". Tanya Arga, ia menoleh sekilas pada Suci yang terlihat mengangguk.

__ADS_1


"Sangat, aku sangat bahagia. Dari dulu aku pengen banget pergi ke pantai. Tapi karena uangnya terbatas, aku tidak pernah pergi. Uangnya aku tabung untuk daftar kuliah".


"Daftar kuliah??".


Suci kembali mengangguk, "Aku ingin menjadi dokter, tapi karena itu terlalu tinggi buat aku, aku menurunkan cita-cita aku menjadi seorang perawat."


"Kok di turunin? Cita-cita itu harus tinggi, semua orang berhak bercita-cita tinggi, tak ada batasan dalam hal itu, selepas tercapainya atau tidak, itu urusan yang di atas yang maha mengatur nasib, kita hanya cukup berusaha dan berdoa, hasilnya pasrahkan padaNya."


Suci terkesima dengan ucapan bijak yang terlontar dari suaminya, ia tak menyangka, selain pintar, suaminya itu juga sangat bijak.


"Benar, tapi keadaan membuat ku minder kemudian mundur." Lirih Suci.


"Aku juga berharap seperti itu, tapi rasanya tidak mungkin. Aku terlalu takut mengenal dunia luar. Aku sudah terlalu nyaman bersembunyi di belakang mu pak".


"PAK???!!". Arga berdecak kesal, panggilan itu benar-benar membuat telinganya gatal.


"Ah, maksud aku, bang, mas, kak, atau om?? Aku bingung mau panggil kamu apa". Suci menunduk malu saat Arga tertawa mendengar celotehannya. "Malah ketawa, jahat banget sih". Gerutunya.

__ADS_1


"Masa om sih? Emang aku kelihatan tua banget yah?? Umur kamu berapa sih??".


"Sembilan belas, tahun ini dua puluh".


"Astaga, aku punya istri muda banget yah?! Beda tujuh tahun".


"Tujuh tahun??". Ulang Suci.


Arga mengangguk, "Aku dua puluh tujuh".


"Tua dong, aku panggil om aja gimana??".


"Hey, aku gak setua itu. lihat saja, suami mu ini masih terlihat ABG tauu!!!"


Suci tertawa lepas, tawa yang membuat Arga terpaku nyaris hilang kendali kalau saja ia tak ingat sedang memegang kemudi mobilnya. Tawa yang baru pertama kalinya ia lihat, menampilkan gigi kelinci Suci yang mempermanis tawanya. "Iya iya, terserah kamu saja. Terus aku panggil apa dong??".


"Mas?? Kayanya lumayan dari pada om". Arga melirik Suci, menunggu bagaiman respon perempuan itu.

__ADS_1


Yang membuat Arga semakin gemas adalah anggukan Suci yang terlihat malu-malu dan menimbulkan rona merah di pipi putihnya.


Percakapan itu berlangsung hangat di sepanjang perjalanan mereka menuju ke pantai. Membuat mereka semakin dekat dan semakin akrab, Suci benar-benar merasa nyaman di dekat Arga.


__ADS_2