PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
TRAGEDI


__ADS_3

Arga mengendarai mobilnya tak tentu arah, ia tak tahu harus mencari Suci kemana. Kabar dari Vino yang mengatakan jika Suci belum pulang ke rumah semakin membuatnya kalut.


“Shiiit!!” Umpatnya, di saat yang bersamaan Arga menyadari jika yang membawa Suci bukanlah Tari. Arag sempat melihat dengan ekor matanya jika Tari membawa motor, tapi dengan bodohnya ia mengabaikan itu.


“Kamu dimana sayang?” Lirihnya.


Ia hampir putus asa, ia tak mengingat apapun mengenai mobil yang membawa Suci. Yang ia ingat hanya mobil jenis sedan berwarna hitam, selebihnya ia tak ingat apapun. Bagaimana ia harus mencari Suci jika jenis mobil itu tak hanya satu, tapi bertebaran dimana-mana.


***


Di sisi lain…


Seorang perempuan yang lama tertidur kini mulai menggerakkan jari-jarinya, matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Ia merasakan rasa pegal di tangan dan kakinya, pandangannya mengedar berusaha mengenali tempat yang saat ini menjadi tempatnya berbaring. Samar-samar suara beberapa orang yang tengah berbincang terdengar semakin jelas.


“Bos, dia udah bangun”. Ungkap salah seorang pria.


Suci mengernyit, kepalanya sedikit pusing. Dan ia baru menyadari rasa pegal di tangan dan kakinya karena tangan dan kakinya terikat.


Matanya membulat sempurna saat kesadarannya kembali, ia merasakan tangan dan kakinya terikat dengan posisi berbaring di atas ranjang. Pintu kamar yang terbyka membuat Suci menoleh dengan susah payah. “Mbak Vivi? Kenapa kamu melakukan ini? Siapa kamu sebenarnya?”


Suci mulai merasa ketakutan saat sekelompok pria berjumlah sekitar sepuluh orang memasuki kamar tersebut.


Vivi menyeringai, senyuman yang menakutkan menurut Suci.


“Kamu Tanya siapa aku? Kamu akan mengetahuinya nanti”.


“Kenapa kamu melakukan ini? Apa aku pernah melakukan kesalahan pada mu? Aku bahkan tidak mengenalmu”.

__ADS_1


Vivi tertawa keras, perempuan itu terlihat mengerikan dengan tawanya. “Salahmu adalah suami ku yang menginginkan mu ******!!” Teriak Vivi.


“Suami mu? Aku tidak tahu mbak, tolong lepaskan aku. Aku mohon”.


Suci meneteskan air matanya, ia semakin merasa takut saat sepuluh pria itu mengelilinginya dengan tawa yang menggelegar membuat ruangan itu terasa bising.


Benaknya mulai di penuhi dengan fikiran buruk, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Mbak aku mohon lepaskan aku, aku tidak mengenalmu mbak. Mungkin saja kamu salah orang”. Suci terisak, ia meronta berharap ikatan di kaki dan tangannya akan terlepas, namun bukannya terlepas, ia justru merasakan perih di pergelangan tangannya akibat terlalu kuatnya tali itu mengikat tangannya.


“Tolooong”. Teriak Suci


Vivi kembali tertawa, “Teriak saja sepuasmu, tidak aka nada yang akan menolong mu perempuan jalang”.


“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menyakitiku??” Teriak Suci


“Aku istri dari Rudi, pria yang tergila-gila pada mu ******!! Kamu juga seorang perempuan, kamu juga akan tahu rasanya ketika suami yang kamu cintai menginginkan perempuan lain. Kamu tahu Suci? Bahkan suami ku selalu menyebut nama mu di saat dia menyentuhku. Aku benci kamu, kamu perempuan muarahan!!” Teriak Vivi, matanya memerah penuh dengan amarah, “Rudi secara terang-terangan mengatakan padaku jika dia menginginkan mu, sakit Suci, hati ku sakit. Lihatlah, sekarang aku ingin tahu, jika tubuh yang di inginkan suamiku ini di cicipi oleh mereka, apa dia masih menginginkan tubuh mu ini??” Vivi tersenyum remeh, menatap tubuh Suci yang terikat pada sisi ranjang dari atas hingga ke bawah.


Vivi menyeringai, dia mengedarkan pandangannya menatap pria yang berjajar mengelilingi ranjang di mana Suci berbaring dalam keadaan tangan dan kaki terikat pada ujung ranjang.


"Cicipilah dia sepuas kalian, puaskan keinginan kalian padanya".


Setelah mengucapkan kalimat itu Vivi keluar kamar dengan menutup pintunya. Ia tak memperdulikan teriakan dan tangisan Suci yang terdengar menyayat. Mata hatinya sebagai sesama perempuan tertutup oleh rasa dendamnya pada Suci.


"Mbak aku mohon jangan tinggalin aku, jangan lakukan ini pada ku mbak. Tolooong" Teriak Suci.


Mirisnya, teriakan itu justru merupakan kesenangan tersendiri bagi sepuluh pria yang kini mulai mendekat dan menatap Suci dengan tatapan lapar.


"Jangan aku mohon, jangan lakukan ini pada ku. Tolong lepaskan aku".

__ADS_1


Mereka tertawa kencang, terdengar sangat menakutkan.


"Ayo sayang, kita bersenang senang". Ucap salah seorang pria.


Suci meronta, ia tak perduli dengan rasa perih yang ia rasakan di pergelangan tangan dan kakinya. "Jangaaaannn!!" Teriaknya


Suci memejamkan matanya saat salah satu pria merobek pakaian atasnya, hingga memperlihatkan dada dan perutnya. Jilbab yang ia kenakan pun entah terlempar kemana.


Suci berteriak saat tangan tangan menjijikan itu mulai menyentuh dada dan perutnya. Ia meronta ronta meminta di kasihani, tapi tak seorang pun dari mereka yang mendengarnya.


"Lepaskan aku, jangan sentuh aku. Tolooong" Teriak Suci, wajahnya kacau, tubuhnya penuh lebam karena kekasaran pria-pria bejat yang menyentuhnya.


Semakin Suci meronta, mereka justru semakin bringas dan tak segan segan menyakiti Suci dan memukulnya. Sudut bibirnya mengucurkan darah segar karena tamparan saat Suci berusaha menghindari pria berkulit hitam yang akan menciu*nya.


Sakit di sekujur tubuhnya tak ia rasakan, hatinya lebih sakit lagi ketika ia sama sekali tak bisa berbuat apa apa saat para pria itu menyentuhnya. Ia hanya bisa menangis, meronta dan berteriak sebagai bentuk penolakan dan perjuangannya mempertahankan kehormatannya. Namun semuanya sia sia karena bahkan tangan dan kakinya pun terikat.


Rok yang ia kenakan di lepas paksa oleh para pria tak bermoral itu, sekuat tenaga ia melawan meski semuanya tak berpengaruh. Telinganya terasa berdenging, kepalanya terasa pusing, matanya berkunang kunang dan perlahan kesadarannya mulai kabur, Suci tak sadarkan diri.


GAESS,,JAN LUPA LIKE KOMEN SAMA FOLLOW AKUN AKU YAH.


NT/MT SAVANA ALIFA


IG @savanagunawan


FB Savana Alifa


NAMA PENA AKU DI APLIKASI KUNING SAMA IJO JUGA SAMA YAH "SAVANA ALIFA"

__ADS_1


__ADS_2