
Suci berhasil menarik perhatian Arga, sepertinya pria itu memang sangat peka dan mengerti kode yang Suci berikan. Buktinya saja, Suci kini tengah memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut bibir suaminya di bibirnya.
Suara-suara lenguhan manja mulai keluar dari bibir Suci saat tangan nakal Arga menyentuh salah satu bagian sensitifnya. Mereka semakin hanyut ke dalam kenikmatan yang sama-sama mereka ciptakan, namun saat akan memulai, tiba-tiba saja Suci menghentikan pergerakan Arga.
Arga mengernyit, di saat gairahnya memuncak Suci malah menghentikannya. “Ada apa sayang?” Tanyanya, sorot matanya terlihat sayu penuh gairah, hasratnya sudah sangat naik, tapi Suci justru terdiam setelah mengentikan tangan Arga yang tengah bermain di area dada perempuan itu.
“Mas, aku mendadak lapar..”
GUBRAK
Arga terjatuh dari atas tubuh Suci, dan karena mereka bermain di atas sofa, membuat tubuh kekar Arga tergelinding ke atas lantai. Untungnya ada karpet tebal di bawah sofa, hingga tubuhnya tak terasa terlalu sakit karena menyentuh lantai.
Alarm bahaya dari dalam otak Arga berbunyi, dalam hatinya ia berdoa, semoga kali ini Suci tak meminta yang aneh-aneh yang sulit untuk ia kabulkan. Selain karena kepalanya yang pening tak mencapai pelepasannya, ia juga sangat malas keluar rumah kembali.
“Tapi sayang, aku bisa sakit kepala ini..”
“Nanti kita lanjutkan lagi mas, sekarang aku sangat lapar”.
Arga menghela nafas dalam, seperti terdapat biji kedondong di tenggorokannya, seperti itulah rasa gondok yang ia rasakan saat ini. Gondok di atas, gondok juga di bawah.
__ADS_1
Arga pasrah, “Kamu mau makan apa? Aku suruh bibi buat masakin makanan”.
“Aku mau nasi pakai gula mas”.
“Hah??”
Arga masih diam menganga, mencerna kalimat yang baru saja Suci lontarkan yang membuatnya tak kunjung mengerti sama sekali. “Makanan apa itu sayang? Aku baru dengar”. Lirihnya, sepertinya malam ini Arga Akan kembali di buat kelimpungan.
“Ada mas, enak deh. Aku dulu pernah makan itu di Ciamis mas, di rumah nenek”. Suci menceritakan masa kecilnya dengan senyum sumringah, Arga sama sekali tidak tahu jenis makanan itu, tapi melihat binar di mata Suci ia jadi tak tega menolak.
“Aku harus mencarinya dimana sayang? Aku benar-benar tidak tahu itu jenis makanan apa? Nasi pakai gula?”
“Dimana ya mas? Kalau di Ciamis kejauhan, nenek aku juga udah gak ada.”
Keceriaan itu berubah sendu, Arga mulai menyalakan mode waspada melihat perubahan mood Suci. “Aku search di Google ya sayang, kali aja ada yang jual makanan kaya gitu”.
“Kayanya gak mungkin ada yang jual mas, padahal aku sangat menginginkannya.”
Arga mulai tak tega, terbersit dalam hatinya untuk menghubungi ummi saja, menanyakan apakah ummi bisa membuatkannya untuk Suci, tapi niatnya urung saat melihat jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.
__ADS_1
Arga kembali menatap Suci, tatapan matanya membuat Arga luluh. Ia memutuskan untuk menghubungi ummi. “Aku telpon ummi saja ya sayang, kali aja ummi bisa bikini makanan itu buat kamu”.
“Tapi ini sudah sangat malam mas, ummi pasti sudah tidur”.
“Iya, tapi ummi pasti mengerti, kita coba sekali dulu. Kalau ummi tidak mengangkatnya, kita ke rumah ummi saja besok. Gimana??”
Suci mengangguk, ia sangat menginginkan makanan itu sekarang, serasa sudah nempel di lidahnya.
Arga mengambil ponselnya, menekan nomol telpon abi dengan ragu, tapi demi Suci dan calon anaknya, sepertinya ia harus melakukannya.
Menunggu beberaapa saat setelah deringnya tersambung, akhirnnya abi mengangkat telponnya.
“Assalamualaikum abi, maaf, Arga mengganggu abi”.
“Waalaikum salam nak, ada apa? Apa terjadi sesuatu?” _Abi
“Tidak abi, ini..eng..anu abi…”
“Ada apa nak? Katakan saja”. _Abi
__ADS_1
“Suci menginginkan makanan aneh abi, maksud Arga, Suci menginginkan makanan masa kecilnya yang dia makan waktu di Ciamis katanya Abi".