
Suci mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat pusing. Sebelah tangannya terangkat untuk memijat pangkal hidungnya, kilatan kejadian dimana dirinya tengah berjuang meronta mempertahankan kehormatannya kembali melintas di benaknya. Suci reflek terduduk, ia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Masih utuh, ia masih berpakaian utuh. Sadar akan sesuatu, ia kembali menangis. Ruangan itu, ruangan yang sangat di rindukannya, tempat dimana dirinya memadu kasih dan berbagi cinta dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya.
Suci melipat kedua lututnya, ia tenggelamkan wajahnya di sana. Cobaan yang terus menerus menerpanya membuatnya nyaris menyerah, namun ia kembali teringat orang-orang di sekelilingnya yang sangat menyayanginya, dan ia kembali kuat dan bertahan.
Suara pintu kamar terbuka membuatnya mengangkat kepala, pria bermata tajam namun meneduhkan berjalan pelan ke arahnya dengan tatapan lekat.
Suci meremas sprey yang ia duduki, "Mas.." Lirihnya
Rasanya sesak, mengingat apa yang terjadi padanya membuatnya merasa kotor.
Arga berjalan mendekat, hendak meraih Suci ke dalam pelukannya namun perempuan itu justru beringsut mundur menghindari Arga.
"Jangan mendekat mas, aku kotor". Lirihnya
Betapa sakitnya hati Arga ketika mendengar suara Suci yang nyaris hilang tak terdengar dengan air mata membanjir di pipinya. "Sayang".
"Tidak mas, jangan sentuh aku. Aku kotor mas". Isak tangis itu semakin terdengar lirih.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa padamu. Kamu masih sama, masih istriku yang utuh". Arga mengusap air mata yang tanpa terasa menetes dari ujung matanya, rasa rindu, cinta, kecewa, penyesalan, dan kemarahan bercampur menjadi satu.
Suci menatap Arga, seolah meminta penjelasan dari apa yang di dengarnya. Arga duduk di hadapan Suci yang duduk memeluk kedua lututnya. Kemudian ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Suci.
FLASHBACK ON..
Arga nyaris berputus asa berputar-putar mencari keberadaan Suci, pria itu berteriak pada siapa saja yang menghalangi jalannya.
Suara adzan magrib di salah satu mesjid membuatnya menghentikan mobilnya, kemudian memarkirkan mobil mewah itu di pelataran mesjid yang masih mengumandangkan seruan bagi ummat muslim itu.
__ADS_1
Ia hadapkan dirinya pada sang maha kuasa, sang maha pemberi pertolongan. Dzikir ia dengungkan di setiap helaan nafasnya. Tangannya ia angkat untuk memanjatkan doa pengharapan agar ia bisa segera menemukan petunjuk dimana keberadaan istrinya. Istighfar ia ucapkan agar ia bisa sedikit tenang dalam berfikir. Sampai ketika hendak kembali memasuki mobil, ia mendengar dua orang pemuda sedang berbincang di teras mesjid.
"Gimana sih cara pasang GPS di motor bro??" Tanya salah seorang di antara mereka.
"Gampang lah, entar gue anter ke temen gue. Dia bisa pasangin buat Lo". Jawab seorang lagi.
"Gue kira Lo bisa, taunya masih nyuruh juga".
Dan kalimat itu membuat tawa mereka pecah.
"GPS". Gumam Arga, "Ya tuhan, kenapa aku sampai melupakan itu". Arga memasuki mobil dengan tergesa, menancap gasnya setelah menghubungkan ponselnya dengan GPS yang dulu sengaja ia pasang di cincin perkawinannya dengan Suci. Ia sengaja melakukan itu untuk menjaga Suci jika Suci jauh dari jangkauan nya.
Ternyata tempat yang di tunjukan GPS itu tak jauh dari tempatnya kini berada. Hingga hanya butuh waktu sepuluh menit saja ia sudah sampai di sebuah rumah yang tampak sepi. Semula ia tak menemukan adanya pergerakan di rumah itu, sampai ketika seorang perempuan berambut pendek yang sempat di lihatnya bersama Suci keluar dengan seorang pria.
Arga berjalan mengendap-endap memasuki pagar yang kebetulan tak tertutup sempurna. samar-samar ia mendengar percakapan antara perempuan itu dan pria yang terlihat tengah tersenyum penuh arti.
Pria berkepala plontos itu tersenyum senang, membiarkan perempuan yang berbincang dengannya pergi.
Arga mengepalkan tangannya, ia melihat pria itu hendak kembali memasuki rumah. Arga menikamnya dari arah belakang hingga pria itu tersungkur mengenai ujung meja dan tak sadarkan diri.
Ia mendengar teriakkan yang suaranya sangat tak asing baginya. "Suci" Lirihnya
BRAK
Arga menendang pintu yang seketika terbuka. Tangannya mengepal, urat-urat di rahangnya mencuat dengan mata memerah. Ia melihat Suci sudah tak sadarkan diri saat salah satu dari pria yang mengelilinginya dengan paksa hendak melepas rok yang Suci kenakan.
"BRENGSEK!!! Lepaskan dia". Teriaknya.
__ADS_1
Dengan membabi buta Arga menghajar sembilan pria yang melecehkan istrinya, tenaganya terkumpul penuh saat melihat ketidakberdayaan Suci dengan tubuh yang kacau. Banyak luka lebam juga sudut bibir mengeluarkan darah.
Beruntungnya Vino datang dengan anak buah Arga yang lainnya saat Arga mulai kewalahan.
Arga segera menutup tubuh istrinya dengan selimut yang tergeletak di lantai. Ia tak mau jika sampai orang lain melihat tubuh Suci.
"Bawa nyonya pulang tuan, ini akan menjadi urusan saya". Kata Vino.
Arga mengangguk, dengan air mata yang terus menetes ia melepaskan ikatan di tangan dan kaki Suci. Hatinya semakin teriris saat melihat banyak luka di tubuh istrinya, pergelangan tangan dan kakinya memerah akibat ikatan tali yang terlalu kuat.
Arga membungkus istrinya dengan selimut, kemudian mengangkatnya menuju ke mobil dan membawanya pulang.
Dalam perjalanan ia sempat menghubungi kedua mertuanya, mengabarkan jika Suci ada bersamanya. Agar mereka tidak mencemaskan keberadaan putrinya, Arga terpaksa harus berbohong mengatakan jika keadaan Suci baik-baik saja, ia tak mau membuat mertuanya sedih.
FLASHBACK OFF
"Kamu masih Suci yang dulu sayang, tidak terjadi apapun pada mu". Lirih Arga
Suci menatap mata sembab Arga, "Mas gak bohongin aku kan??".
Arga menggelengkan kepalanya. "Mas berani bersumpah demi kamu, mas gak bohong".
Suci menangis, Ia tak lagi menolak saat Arga mendekapnya. Suci meraung, meluapkan perasaan pedihnya di dada suaminya. Tangannya mencengkram erat lengan Arga, tangisannya semakin terdengar menyayat saat Arga mengecup puncak kepalanya bertubi-tubi. Pria itu pun tak bisa lagi berpura-pura tegar, ia hanyut dalam tangisan seraya mengeratkan dekapannya pada sang istri.
"Semua akan baik-baik saja sayang, semua sudah baik-baik saja". Ucap Arga.
Suci hanya bisa mengangguk, ia tak mampu lagi berbicara, rasanya terlalu sesak untuk hanya sekedar mengucapkan kalimat terima kasih saja pada suaminya. Tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa perih dan takut atas apa yang baru saja di alaminya.
__ADS_1
"Semua baik-baik saja, semua akan baik-baik saja". Kalimat itu terus Arga lontarkan, ia sendiri pun merasa sangat marah, kecewa dan terguncang. Perempuan yang sangat di cintainya lagi-lagi mengalami hal buruk, bahkan sangat buruk. Hatinya terasa teremas saat melihat ketidakberdayaan istrinya, air mata istrinya seolah menjadi cambuk untuknya karena ia lalai dalam menjaga perempuan itu.