
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kehamilan Suci menginjak bulan ke delapan. Hanya sekitar satu bulan lagi terhitung dari sekarang Suci dan Arga akan resmi menyandang gelar seorang ibu dan ayah.
Sejak menginjak bulan ke enam, Suci pun tak lagi berulah dan meminta hal yang aneh. Dia menjalani kehamilannya dengan enjoy dan bahagia. Setiap bulan rutin melakukan kontrol ke rumah sakit, dan setiap bulan juga ia mendapatkan pencerahan tentang kehamilan dari dokter Clara, mantan kekasih suaminya yang kini menjadi sahabatnya. Dokter cantik itu pun kini tengah mengandung anak pertamanya. Keduanya bahkan sering bertemu untuk sekedar berbagi pengalaman dan berjalan-jalan bersama.
Seperti hari ini, Suci dan Clara tengah makan di sebuah café. Menikmati waktu senggang di sela praktek dokter cantik itu. Sedangkan Suci sendiri mengambil cuti kuliah sampai ia melahirkan.
“Aku makan banyak banget loh Ra, gak papa kan kalau aku makan berlebihan kaya gitu?” Tanya Suci, keduanya tengah menikmati cheese cake menu andalan di café itu. Secangkir teh hangat menjadi pelengkapnya.
“Gak papa lah Ci, bagus malah. Bayi dalam perut kita itu butuh banyak nutrisi Ci, apalagi bayi kamu laki-laki. Biasanya bayi laki-laki itu lebih aktif. Kecuali kamu merasakan sesak nafas, kamu harus sedikit mengurangi makan dulu.”
“Iya kamu bener Ra, dia aktif banget. Aku suka geli sendiri kalau dia lagi gerak-gerak”.
Clara mengusap perut buncit Suci, “Udah bulat banget Ci, beberapa hari lagi udah masuk bulan ke Sembilan kan?”
“Iya, satu minggu lagi udah masuk bulan ke Sembilan.”
“Vitamin yang aku kasih masih kamu minum kan?”
“Masihlah Ra, suami aku bawel banget kalau aku gak minum vitamin”.
Clara tertawa, “Bagus dong, emang harusnya begitu. Kan suami siaga dia Ci. Jangan lupa juga minum vitamin penambah darahnya ya Ci, itu berguna untuk kita berjaga-jaga dari resiko pendarahan.”
Suci mengangguk, ia jadi tersenyum sendiri mengingat betapa cerewetnya Arga semenjak ia hamil. Arga akan menyiapkan susu setiap pagi sebelum ia pergi ke kantor, ia juga akan menyiapkan susu untuk Suci minum di siang hari atau sore hari, Arga akan memasukannya ke dalam lemari es dan mewanti-wanti Suci untuk meminumnya. Ia pun akan memeriksa sendiri apakah susu itu Suci minum atau tidak saa ia pulang bekerja. Malam harinya, pria itu akan menyiapkan vitamin yang akan Suci minum sebelum Suci tidur. Dan kecerewetannya akan muncul jika Suci melupakan hal itu.
“Mas Arga juga selalu menyiapkan itu sebelum aku tidur”.
“Suami aku juga jadi lebih cerewet Ci, mungkin itu bentuk kasih sayang dan perhatian mereka untuk kita.”
__ADS_1
“Iya, tapi kadang bikin kesel juga Ra.”
“Kamu benar..”
Keduanya terus berbincang, menghabiskan waktu dengan memanjakan diri dan bersantai melepas segala rutinitas berat yang mereka jalani.
Clara mengantar Suci pulang setelah mereka puas berjalan-jalan dan kuliner dadakan yang membuat mereka kekenyangan.
“Makasih ya Ra, perut aku nyaris meledak ini. Kenyang banget”.
Clara tertawa, “Lain kali kita harus melakukannya lagi, sebelum kamu melahirkan dan Arga bertambah posesif padamu”.
“Tentu saja Ra, hubungi aku jika jadwal mu kosong. Aku siap berpetualang lagi”.
“Siap nyonya Arga, gih sana turun. Istirahat, aku juga harus pulang. Ponsel aku udah berisik banget, Arian nelpon terus dari tadi”. Arian adalah suami dari Clara yang juga berprofesi sebagai dokter.
“waalaikumsalam”. Jawab Clara.
Setelah memastikan mobil Clara keluar gerbang rumahnya, Suci beranjak ke dalam rumah. Ia berpapasan dengan salah satu pelayan yang tengah mengganti gorden rumah. “Sari, apa suamiku sudah pulang??”
“Belum nyonya”.
Suci mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Ia ingin segera membersihkan dirinya untuk menyambut kepulangan suaminya.
Suci merias dirinya sedemikian rupa meski masih tetap terlihat natural, namun juga sangat membuat Suci pangling, mood-nya tengah baik, ia ingin menyambut suaminya dan membuat kejutan kecil untuk pria itu.
Setelah semuanya tampak sempurna menurutnya, Suci merangkak naik ke atas ranjang, kemudian mengambil ponselnya dan menekan nama kontak suaminya untuk menghubungi pria itu dan menanyakan dia sudah pulang atau belum. Dan ternyata pria itu sudah berada di luar gerbang rumahnya.
__ADS_1
Suci bersiap, ia menutupi dirinya dengan selimut, ada rasa ragu dan malu dengan apa yang akan di laukannya, tapi Suci ingin membahagiakan Arga, dan ia akan melakukan apapun untuk suaminya, meski itu harus menanggalkan rasa malunya di hadapan Arga.
Pintu kamar terbuka, Arga menyembul dari baliknya, dengan tampang sedikit kacau tapi tak mengurangi ketampanannya sama sekali. Jas ia sampirkan di lengannya, tangan kemeja putih yang ia kenakan di gulung sampai ke sikut, dasi pun tergantung asal di lehernya. Arga menyisir semua rambutnya ke belakang dengan tangannya, semakin membuatnya terlihat menawan dan...seksi.
"Assalamualaikum sayang". Ucapnya
"Waalaikumsalam mas.."
Arga menghampiri Suci dan mengecup kening istrinya sekilas, dahinya berkerut menatap Suci dengan seksama, ada yang berdeda dari perempuan itu. Suci terlihat lebih segar dan sangat cantik. "Kamu kok cantik banget sayang?"
"Aku cantik buat kamu mas".
"Benarkah? Terus kenapa masih selimutan saja? Sini dong aku peluk, kangen tau".
Arga menarik selimut yang menutupi Suci, namun tangan Suci menahannya dengan erat. Tarik menarik pun terjadi.
"Kamu kenapa sih? Sini, aku mau peluk kamu".
"Kamu aja yang ke sini mas.."
"Kenapa sih sayang? Kamu sakit atau kedinginan atau kenapa??"
"Aku gak papa, aku cuma malu.."
"Malu??"
Suci mengangguk, tangannya yang memegang selimut mulai mengendor dan ia mulai lengah. Dan di saat itulah Arga menarik selimutnya dengan keras.
__ADS_1
"Oh My GOD". Pekik Arga.