PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
SUCI SEPERTI BUNGLON


__ADS_3

Matahari masih enggan menduduki singgasananya, cahaya bulan masih menerangi langit walau berangsur menghilang dan segera tergeser oleh cahaya jingga keemasan. Masih terlalu pagi untuk beraktivitas memang, tapi tidak untuk pasangan di mabuk cinta yang baru saja menyelesaikan pergumulan panasnya, dan entah yang ke berapa kalinya sejak malam tadi.


Mereka sama-sama seperti tak pernah puas dan saling enggan menyudahi. Siapa lagi jika bukan Yusuf Argantara dan Suci tanaya, mereka seperti pengantin baru yang baru merasakan nikmatnya merengkuh syurga dunia yang membuat diri mereka tenggelam dalam kenikmatan.


Dan aktivitas panas mereka berakhir dengan perdebatan kecil karena Suci memaksa ingin ikut bersama Arga ke kantornya.


“Tumben-tumbenan kamu mau ikut? Biasanya juga paling males kalau aku ajak. Kenapa sih??” Arga menatap heran perempuan bertubuh polos yang tengah berbaring miring menghadapnya. Bibirnya mengerucut karena mendapat penolakan dari suaminya.


“Ya aku lagi mau aja, kenapa gak di bolehin??”

__ADS_1


“Bukan gak boleh sayang, ya tumben aja. Kamu kan suka BT kalau terlalu lama nungguin aku kerja. Yakin gak bakalan uring-uringan??” Arga mencolek bibir mungil yang tengah merajuk itu, membuat sang empunya memukul pelan tangan Arga dan mendelik kesal pada pria itu.


Suci terdiam, tampaknya perempuan itu tengah berpikir. Terakhir Suci ikut ke kantor suaminya, ia memang uring-uringan karena Arga lembur sampai jam makan malam tiba. “Gak, aku gak bakalan uring-uringan. Kamu kenapa sih mas? Gak boleh banget aku ikut, ada yang lebih cantik dari aku yah? Awas aja kalau kamu macam-macam”.


Arga mengernyit, selain sering uring-uringan gak jelas, Suci juga bertambah cemburuan dan posesif padanya. “Yang lebih cantik banyak, yang lebih seksi apalagi. Tapi itu gak ngaruh buat aku, karena yang aku mau Cuma kamu sayang. Yang lain lewat..”


Arga mesem, ia menahan tangan Suci yang hendak memukul dada polosnya. “Gak gombal, itu beneran kok. Belah aja dada aku kalau kamu gak percaya, isi dada aku tuh nama kamu semua”.


Arga mengerjap-ngerjapkan matanya saat tubuh polos istrinya tiba-tiba saja menaikinya. Tatapan perempuan itu tampak menggoda, dengan beraninya tangan mungil Suci bergerak-gerak di dada bidang Arga. Nafasnya tertahan saat Suci mengecup singkat bibirnya, ia merasa aneh dengan perubahan Suci yang terkadang membuatnya kesal. Sebentar manja, sebentar marah, sebentar merajuk, dan sekarang bertambah lagi satu keanehan dalam diri Suci, perempuan itu berani menggodanya lebih dulu, dan itu ancaman besar untuk juniornya. Selama mereka menikah, inilah kali pertama Suci bersikap agresif padanya, dan…..jangan di tanya lagi bagaimana senangnya Arga saat ini, bak seekor kucing yang di beri ikan besar dengan daging yang sangat empuk, tentu saja Arga tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Arga akan melahapnya dengan semangat penuh.

__ADS_1


Beberapa saat mendapati Arga yang masih tampak santai, Suci menghentikan aksinya. Ia mendongak menatap mata sayu suaminya. Kenapa kamu diam saja? Gak ada perlawanan untuk ku??” Tantang Suci


Arga terkekeh, “aku hanya ingin tahu seberapa besar kemampuan mu menggodaku, dan membuatku kalah”.


Suci berdecak kesal, tiba-tiba saja moodnya buruk. “Ah kamu gak asik mas, aku mau mandi”. Suci hendak turun dari tubuh suaminya, namun dengan sekejap Arga merubah posisi mereka, ia menindih Suci yang memekik tertahan karena kaget.


“Tidak semudah itu Ani,” Arga memperagakan cara bicara salah satu tokoh dangdut favoritnya, “kamu sudah membangunkan singa yang masih kelaparan, dan kamu harus bertanggung jawab untuk itu. Enteng banget mau lari, tidak bisa sayang, kamu milik ku sekarang”. Arga menyeringai, memebuat Suci bergidik dan menyesali perbuatannya menggoda Arga.


Dan untuk kesekian kalinya mereka kembali bertempur dalam gairah yang membuat keringat mereka membanjir saling menyatu.

__ADS_1


__ADS_2