
"Kamu???"
Suci terbelalak menutup mulutnya. "Kak Nata? Ini kamu?"
Pria bernama Nata itu tersenyum lebar, beranjak dari kursi kebesarannya menghampiri Suci dan Tari.
Tari mengernyit tak mengerti, "Kalian saling kenal?" Tanyanya
"Kenal banget malah Tar, Kak Nata ini kakak kelas aku waktu sekolah. Orang paling jahil, sukanya ngusilin cewek culun kaya aku".
"Hahahah", Nata tertawa lebar, membuat Tari terpaku dengan tatapan kekaguman. "kamu masih inget aku Suci?"
"Ingetlah, mana mungkin aku lupa. Aku pernah di hukum tanpa alasan sama kamu kak".
Nata kembali tertawa, mengingat masa sekolahnya ketika ia mengusili orang orang yang menurutnya lucu, termasuk Suci.
Aksaranata, nama lengkap pria bertubuh tinggi tegap namun tak terlalu berisi itu kini menjelma menjadi pria tampan dan sukses. Nata adalah kakak kelas Suci di bangku sekolah menengah atas, Nata dua tingkat di atas Suci, anggota Osis yang kerap kali menjahili Suci tanpa alasan meski mereka baru pertama kali bertemu saat itu.
"Jadi kamu teman Tari?" Tanya Nata
Suci dan Tari kompak mengangguk, "Aku mau ngelamar kerja kak". Ujar Suci
"Kerja? Emang kamu gak kuliah?"
"Kakak sendiri emang gak kuliah?" Suci balik bertanya
"Udah selesai kali Ci, orang pinter kaya aku gak perlu lama-lama kuliah, dua tahun aja udah cukup buat aku kuliah". Kalimat sombong itu di akhiri tawa menggelegar dari bibir Nata.
Suci mencebik, sialnya, kalimat sombong itu memang benar adanya. Meski Nata usil dan sedikit bandel, tapi pria itu sangat cerdas, hingga selama tiga tahun sekolah menengah atas tak ada yang mampu menggeser posisinya sebagai juara umum dengan nilai tertinggi dalam setiap ujiannya.
"Aku gak punya waktu buat denger kesombongan kamu kak, jadi gimana nih? Aku di terima kerja gak? Ini surat lamaran kerja aku". Suci menyodorkan amplop cokelat berukuran besar pada Nata, namun bukannya memeriksanya, Nata justru menyimpannya di atas meja.
"Gak usah pakai begituan, kamu di terima". Kata Nata
"Tapi aku masih kuliah kak, aku mau kerja part time."
__ADS_1
Nata sempat terdiam dengan pose seperti berfikir keras. "Terima gak yah?" Gumamnya
"Terima lah kak, please". Bujuk Suci
"Iya kak, terima aja yah". Timpal Tari
Nata menjentikan jarinya, "Ok, aku terima".
"Terus jadwal kerja aku jam berapa kak? Aku kan harus menyesuaikan sama jadwal kuliah aku".
"Itu gampang, kamu atur aja jadwalnya sama jadwal kuliah kamu. Tapi kamu kabari dulu kepala pelayan di bawah kalau mau ganti jadwal".
"Beneran ni kak?"
"Iya, tapi sebagai gantinya, kamu harus traktir aku makan setelah kamu menerima gaji pertama kamu. Gimana?"
"Beres kak".
Tari dan Suci meninggalkan ruangan Nata dengan gembira, mulai hari ini Suci di terima bekerja di sana.
***
Untuk menemui ia terlalu pengecut, ia tak akan pernah sanggup menerima tatapan kekecewaan dari netra teduh perempuan itu.
Satu jam menunggu, Suci tak juga tampak keluar dari rumahnya, matahari sudah mulai naik, ponselnya pun terus menerus berdering, menandakan jika kehadiran pria itu di perusahaannya sangat di nantikan.
Seringnya ponsel itu berdering memebuat tangannya terangkat dengan paksa untuk menerima panggilan masuk ke ponselnya.
"Ada apa Vin? Jangan mengganggu ku sedetiiik aja".
Vino, sang asisten hanya bisa menghela nafas gusar, ia tahu kini tuannya itu tengah berada di mana, karena sudah satu bulan ini itulah yang di lakukan Arga di setiap pagi dan menjelang sore. Menunggu Suci keluar dan datang, hanya untuk bisa menatap perempuan itu dari kejauhan.
"Anda ada jadwal pertemuan pagi ini pak, lima belas menit lagi anda sudah harus ada di ruang meeting".
Arga berdecak kesal, tapi ia pun tak bisa mengabaikan tanggung jawabnya, ia selalu ingat perkataan Suci, jika ada banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya padanya, ia tak bisa mengabaikan mereka hanya karena urusan pribadinya saja.
__ADS_1
Dengan malas ia menyalakan mesin mobilnya, menancap gas dengan kencang agar ia bisa tiba di perusahaannya tepat waktu.
Semakin hari bayangan Suci semakin menyiksanya, rasa rindunya semakin menggunung. Ia memutuskan untuk memberanikan diri menemui Suci sore hari nanti, ia akan menunggu di dekat rumahnya.
Waktu terus berjalan, detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa hari mulai siang. Arga sangat lelah hari ini, menghadiri beberapa pertemuan untuk mengurus kerjasamanya dengan beberapa perusahaan. Fikirannya dari Suci sedikit teralihkan meski ketika sepi mulai menyapa, rindu itu pun akan hadir.
Helaan nafas panjang ia hembuskan, ia mengangkat tangannya, menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. "Apa jadwal ku selanjutnya Vin??"
"Tuan Justin mengajak anda makan siang di cafe Star Tuan".
"Tapi aku sangat malas keluar Vin". Lirih Arga, "tidak bisakah kamu menggantikan ku?"
"Maaf tuan, sepertinya tidak bisa. Karena tuan Justin mengundang anda secara khusus".
"Baiklah, aku akan kesana sekarang".
Arga beranjak, memakai jas yang ia sampirkan di kursi kebesarannya kemudian mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Aku pergi Vin".
"Silahkan tuan".
Vino menundukan tubuh tegapnya, mengantar kepergian Arga sampai memasuki lift. Ia sendiri kembali ke dalam ruangannya.
Perjalanan Arga siang itu cukup lancar, karena belum memasuki jam makan siang, jalanan cukup lengang.
Butuh waktu sekitar lima belas menit saja untuk Saga sampai di sebuah cafe yang di janjikan Justin padanya. Cafe itu cukup ramai pengunjung karena jam makan siang telah tiba.
Seorang pramuniaga menghampirinya, "Selamat datang pak, ada yang bisa di bantu?"
"Tidak terima kasih, saya sedang menunggu seseorang". Jawab Arga. Pramuniaga itu mengangguk sopan, kemudian undur diri meninggalkan Arga yang telah duduk di salah satu meja di dekat jendela kaca.
Arga mengedarkan matanya ke jalanan, sesaat yang lalu, Justin mengabarinya bahwa pria itu masih dalam perjalanan karena terjebak macet. Arga memicingkan matanya saat tanpa ia sadari, ternyata ia berada di cafe seberang kampus istrinya.
Lamunannya menerawang pada perempuan yang sangat di rindukannya itu, "Sedang apa kamu sayang? Aku sangat tersiksa menahan rindu dan rasa bersalahku pada mu". Batinnya
__ADS_1
Suara seseorang membuat lamunannya buyar. "Permisis pak, anda ingin memesan sesuatu??"
Arga menoleh, matanya sedikit membulat kaget. "Kamu???"