
Malam semakin larut, hanya tinggal Suci dan Arga yang yang berada di sana. Arga masih duduk tak jauh dari Suci, mengawasi perempuan itu dengan sabar. Sementara Suci tengah terdiam dengan piring makanan di pangkuannya, makanan itu masih tampak penuh, hanya beberapa sendok saja Suci menyantapnya.
Suci mengingat petuah yang sang ummi ucapkan, dan ia membenarkan itu, tapi hatinya masih tak menerima Arga sebagai suaminya. Ia di landa kebingungan, harus tidur dimana dia malam ini dan malam-malam selanjutnya?.
Arga mulai lelah dan mengantuk, ini sudah hampir tengah malam, ia harus beristirahat untuk besok melalui jadwal pekerjaannya yang padat. Ia memutuskan untuk mendekati Suci, mengajak wanita itu untuk beristirahat, ia tak mungkin meninggalkan perempuan itu sendirian saja.
"Suci, aku sudah mengantuk. Sebaiknya kita istirahat, ini sudah hampir tengah malam." Kata Arga, ia melepas kopiah hitam yang masih setia bertengger di kepalanya, ia pegang dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangannya yang lain terulur untuk mengajak Suci beristirahat, ia lupa jika sedikit sentuhan saja akan berakibat fatal bagi Suci.
Suci diam menunduk, ia tak berani menatap Arga apalagi menyambut tangan pria itu dengan tangannya. "Aku..."
"Kamu bisa tidur di kamar yang sebelumnya kamu tempati Suci, aku tidak akan memaksa kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan". Arga dapat menebak ketakutan Suci, ia menurunkan tangannya kembali.
"Benarkah? Apa aku bisa tidur di kamar itu seterusnya? Maksud aku..."
"Iya, kamu bisa menempati kamar itu sampai kapan pun kamu mau".
Suci mendongak memberanikan diri menatap mata tajam Arga, kemudian kembali tertunduk saat pria itu juga menatapnya dengan sebuah senyuman. "Terima kasih". Lirihnya.
"Ayok istirahat, aku harus kerja besok. Jadwal aku padat".
Suci mengangguk, ia berniat membereskan piring bekas ia makan, tapi Arga melarangnya.
"Biarkan saja di situ, nanti bi Inah yang beresin. Aku sudah sangat mengantuk, dan kamu juga harus beristirahat ".
__ADS_1
Suci kembali meletakkan piring yang semula akan ia bawa, ia menuruti Arga dan berjalan mengekor di belakangnya.
Arga mengantar Suci lebih dulu ke kamarnya, memastikan perempuan itu tidur dan beristirahat dengan nyaman, baru setelah itu ia kembali keluar kamar Suci. "Apa lampunya perlu aku matikan? Kamu bisa menyalakan lampu tidur di samping kamu". Ucap Arga sebelum ia benar-benar keluar kamar Suci.
"Jangan, aku takut gelap. Biarkan saja menyala". Ucap Suci dengan gemetar, berada di satu ruangan dengan Arga berdua saja membuat ia merasa takut dan tak nyaman. Suci sudah berusaha membuang rasa takutnya dan meyakinkan dirinya jika Arga adalah suaminya, namun tetap saja ia kalah oleh rasa takutnya. Sejak kejadian itu, Suci memang tak bisa tidur dalam kegelapan. Ia kerap merasa takut ketika gelap, bayangan kejadian itu tergambar jelas dalam suasana gelap.
"Baiklah, aku ke kamar dulu". Ucap Arga, ia melangkah keluar kamar setelah menutup kembali pintu kamar Suci.
Malam itu, Suci dan Arga tertidur di kamarnya masing-masing, tak ada malam pertama layaknya pengantin baru, yang ada hanya kecanggungan dan rasa tak nyaman.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Pukul setengah empat pagi, Suci telah terbangun. Ia memang terbiasa bangun sepagi itu untuk melaksanakan ibadah malam dan membantu ummi Fatimah memasak dan membereskan rumah sebelum ia pergi bekerja.
"Astaghfirullah". Pekik Suci, ia menggulung rambut hitam panjangnya, kemudian segera memakai jilbab instannya.
"Maaf maaf, aku kira kamu belum bangun, aku cuma mau ngajak kamu sholat berjamaah". Arga sontak membalikan badannya, ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal, ini kali ke dua Arga melihat rambut indah Suci, dan entah mengapa rasanya sangat berbeda, ada desiran aneh dalam tubuhnya ketika mengingat jika Suci adalah istrinya.
"Kenapa gak ketuk pintu dulu? Aku udah sholat". Ucap Suci sinis, ia tak suka Arga bertindak seenaknya meski ini adalah rumahnya.
"Aku minta maaf, lain kali aku ketuk pintu. Kalau gitu aku ke kamar dulu, mau sholat". Arga beranjak tanpa mendengar jawaban dari Suci, ia juga merutuki dirinya sendiri yang bertindak tanpa berfikir.
Suci menggelengkan kepalanya saat Arga sudah kembali menutup pintu kamarnya. Ia terdiam tak menyangka jika Arga akan mengajaknya sholat bersama, itu artinya, pria itu memang taat dalam ibadahnya. Setidaknya, ada nilai plus untuk pria itu di mata Suci.
__ADS_1
Meja makan di kediaman Tara ramai oleh anggota keluarga baru yang bergabung untuk sarapan bersama. Ada Abi, ummi dan Suci, sedari selesai melaksanakan ibadah subuh Suci turun ke lantai bawah dan membantu para pelayan di sana dalam menyiapkan sarapannya. Ia juga membantu pelayan yang lain dalam membersihkan rumah besar itu, meski ia telah menjadi menantu di rumah itu namun jiwa OG nya keluar ketika melihat seorang pelayan tengah membereskan rumah besar itu sendirian. Ia pun membantunya meski pelayan itu melarangnya mati-matian.
"Waah, wanginya enak banget". Ucap nyonya Tara yang baru saja menghampiri meja makan, ia terlambat bergabung karena panggilan alam yang mendesak di setiap pagi nya rutin ia lakukan.
"Semoga nyonya suka". Ucap Suci.
"Nyonya??". nyonya Tara bertanya menggoda.
"Mama, maksud aku mama". Suci menunduk malu, ia menuangkan air putih di tiap gelas yang sudah tersedia di sana. Hingga tiba di gelas Arga, Suci terdiam sejenak, kemudian mendekat dan menuangkan air di gelas suaminya.
"Terima kasih". Ucap Arga, dan Suci hanya mengangguk.
Suci memberanikan diri menawarkan makanan yang Arga inginkan. "Pak Arga mau makan apa? Biar saya ambilkan". Ucapnya pelan.
Arga mendongak menatap suci yang berdiri di sampingnya, pria itu tersenyum. "Nasi sama ayam aja. Nasinya jangan banyak-banyak, sedikit aja". Kata Arga.
Suci mengangguk, tak ada balasan senyum di bibir perempuan itu, ia tak berani melakukannya meski Arga suaminya.
"Terima kasih". Ucap Arga lagi, ia mengambil piringnya dari tangan Suci kemudian segera menyantapnya.
Mereka tak menyadari jika mereka tengah menjadi pusat perhatian para orang tua. Nyonya Tara, tuan Tara, ummi Fatimah dan Abi Abdullah tersenyum bahagia melihat kemajuan komunikasi antara Arga dan Suci. Mereka yakin, lambat laun semuanya akan membaik.
GAESS, FOLLOW IGEH MAK YAH @SAVANAGUNAWAN, FB SAVANA ALIFA...
__ADS_1
TENGKYUH, SALAM LOPE LOPE💜💜💜🙏🙏