PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
CERITA SEBELUM TIDUR


__ADS_3

“Jadi semua rencana kamu mas??”


Pertanyaan itu sudah terlontar tiga kali dari mulut Suci, tapi Arga masih enggan menjawab. Pria itu hanya sibuk membelai rambut panjang Suci yang tengah berbaring di dadanya.


“Mas, kalau kamu masih gak mau jawab jangan harap kamu dapet jatah yah. Aku mau tidur, kesel aku sama kamu”.


Suci bangkit dari dada Arga, namun Arga kembali menariknya hingga ia kembali berbaring di dada pria itu. “Sabar sayang, aku lagi mikir dari mana aku harus mulai cerita”.


“Di ancam gak dapat jatah aja cepet kamu mas”.


“Aha…” Arga mengacungkan jari telunjuknya, seolah ia telah menemukan cara agar ia bisa memulai bercerita dengan caranya.


Suci mendongak, memicingkan matanya menatap Arga penuh curiga. “Aha apa mas??”

__ADS_1


“Gimana kalau kamu kasih aku jatah dulu supaya aku punya kekuatan buat bisa cerita sama kamu”. Usul Arga


Suci mendelik kesal, tapi bibirnya berkedut menahan tawa. “Gak mau, aku maunya kamu cerita dulu”.


“Gak bisa nego ya sayang??”


“Gak bisa mas, cepetan cerita..”


“Tergantung mas, kita lihat saja nanti”. Suci mencubit dada suaminya dengan gemas, ia sudah tak sabar mendengar penjelasan Arga.


“Sebelumnya maafin aku ya sayang, aku tuh lakuin itu Cuma supaya aku bisa jaga kamu dan ngawasin kamu”.


“Terus???”

__ADS_1


“Sabar sayang..” Arga menarik Suci agar bisa berbaring sejajar dengannya, berbaring miring saling berhadapan dan saling menatap. “Semenjak kamu memutuskan untuk pergi dari rumah ini, aku berfikir keras bagaimana caranya supaya aku bisa bawa kamu kembali dan yang paling penting kamu mau maafin aku. Setiap pagi dan sore aku selalu menunggu kamu di dekat rumah ummi, hanya supaya aku bisa melihat kamu baik-baik saja dan bisa sedikit mengurangi rasa rindu aku ke kamu. Kamu tahu sendiri, rindu itu berat”. Arga mencolek ujung hidung mancung Suci, membuat wanita itu tersenyum dan menggenggam jemari Arga.


“Semakin lama aku semakin tersiksa oleh rasa rindu dan rasa bersalah aku ke kamu dan calon anak kita. Aku sakit-sakitan, tidak terurus dan jarang masuk kantor. Aku kaya hidup tapi tak bernyawa. Belum lagi menghadapi kemarahan mama dan papa, mereka bahkan tidak mau menjengukku dan menganggap aku putranya sebelum kamu memaafkan aku dan kamu pulang ke rumah ini lagi. Di tengah keterpurukan aku, Nata datang. Dia mengurusku dan memberiku semangat agar aku tidak berputus asa untuk mendapatkan maaf dari kamu. Dan salah satu anak buahku yang selalu mengawasimu mengabarkan pada ku jika kamu sedang mencari pekerjaan. Aku memanggil Tari, teman kamu. Dan aku….”


“Tari?? Jadi dia ikut andil?? Kenapadia…”


“Dengarkan aku dulu sayang”.


“Iya iya maaf, aku kan mendengarkan mu”.


“Aku tanyakan hal itu padanya, dia membenarkan itu, kamu ingin mencari pekerjaan agar kamu sibuk dan bisa melupakan ku. Tentu saja aku tidak terima itu, kamu tidak boleh melupakan ku begitu saja. Aku bertanya padanya dimana dia bekerja, dan takdir berpihak pada ku sayang, ternyata Tari bekerja di café Nata. Aku meminta tolong padanya agar mengajakmu bertemu dengannya. Dan aku juga menghubungi Nata agar kamu di terima bekerja di sana.” Arga mengusap sebelah pipi Suci kemudian menatapnya dengan lekat. “Saat aku mengirimkan fotomu padanya, ternyata dia mengenalmu. Dan itu semakin memudahkan rencana ku. Aku meminta Nata untuk mempekerjakan kamu di sana tapi tanpa memberatkan kamu dan mengganggu jam kuliah kamu. Kamu tahu sayang, setiap hari juga aku mengawasi kamu di seberang café Nata, aku kan memastikan kamu benar-benar telah memasuki café lalu setelah itu baru aku bisa tenang pergi ke kantor.” Arga tersenyum lembut, menyingkirkan beberap helai rambut yang menjuntai di dahi Suci kemudian mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


Tatapan Arga yang penuh cinta membuat Suci terenyuh, "tapi sekarang aku disini kan sayang??"

__ADS_1


__ADS_2