PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
AGRATA LANGIT


__ADS_3

Sementara itu, Arga tengah mencari sang mama yang ternyata berada di dapur. “Ma, mama..”


Nafasnya bahkan tersengal karena Arga berlari.


“Ada apa Ar, ngomong yang benar, kenapa kamu panic”.


“Ma, Suci ngompol”. Padahal dalam hatinya bukan hal itu yang ingin ia ucapkan, namun kepanikan membuat lidahnya susah terkontrol.


“Ngompol? Mana mungkin Suci ngompol”. Ucap sang papa yang juga tengah berada di sana.


“Iya, papa benar. Suci gak ngompol”. Jawab Arga, dan hal itu semakin membuat mama dan papa bingung.


“Arga, kamu nih kenapa? Ngomong yang benar, jadi Suci ngompol atau tidak??”


“Tidak mah, maksud aku, keluar cairan bening dari itunya ma, bagaimana ini, aku begitu sulit menjelaskannya”. Ucapnya panik.


Mama membulatkan matanya, sepertinya ia menyadari sesuatu. “Astaga, jangan-jangan ketubannya pecah. Kenapa kamu gak bilang dari tadi Arga. Kamu nih gak berguna”. Pekik mama, wanita itu mematikan kompor dan berlari menuju ke kamar Arga di susul oleh Arga dan papa.


Sampai kamar, mama melihat Suci tenga meringis kesakitan. Sekarang iaa yakin jika Suci akan segera melahirkan. “kamu akan melahirkan sayang, tenanglah. Lakukan seperti apa yang Clara sarankan, Tarik nafas dalam dan keluarkan perlahan. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit nak”. Suci mengangguk, menuruti interupsi dari mama mertuanya.


“Ar, cepat siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang”.


“I..iya ma iya”.


Arga berlari ke bawah, menyiapkan mobil walau ia di landa kepanikan yang luar biasa. Sebelumnya ia tak pernah merasakan panik yang sepanik ini, rasanya dadanya ingin meledak.


“Sayang, persiapan pakaian kamu dan bayinya dimana? Biar papa siapkan”. Ucap Tuan tara.


“Udah aku siapin di tas pa, tasnya ada di ruang ganti sebelah pojok kanan”.

__ADS_1


Tak membuang waktu lagi, papa segera memasuki ruang ganti sesuai arahan Suci dan membawa tas itu.


Setelah semuanya siap, Arga menggendong Suci ke mobil, Suci sudah sangat sulit bergerak, semakin lama rasa mulas di perutnya semakin sering terasa.


Tak tega rasanya melihat Suci meringis kesakitan. Arga hanya bisa menggenggam tangan Suci dengan sesekali menyeka keringat yang membanjir di dahi istrinya itu.


“Pa, lebih cepat lagi”. Ucap Arga pada papa yang membawa mobil. Arga sudah sangat tidak tahan melihat raut kesakitan istrinya. Semakin kencang genggaman tangan Suci padanya, itu artinya semakin sakit pula yang Suci rasakan.


Beruntung jalanan masih lengang karena masih pagi. Arga sudah menghubungi Clara sebelumnya, dan mengatakan jika Suci akan melahirkan. Dokter cantik mantan kekasihnya itu segera meluncur ke rumah sakit dan mempersiapkan segalanya untuk proses melahirkan Suci.


Sampai di rumah sakit, Suci di bawa langsung ke ruang bersalin. Ruangan khusus yang di pesan Arga. Hanya untuk Suci tanpa bercampur dengan orang lain. Clara sudah siap menunggu di ruangan itu, dengan sigap ia memeriksa Suci.


“Suci, kepalanya sudah terlihat. Ini sudah waktunya. Rileks yah, Tarik nafas dalam keluarkan perlahan. Kumpulkan tenaga dan siap mengejan.”


Suci mengangguk, ia menggunakan tangan Arga sebagai pegangan. Sementara mama dan papa Tara menunggu di luar. Karena hanya boleh satu orang saja yang menemani pasien.


“Sakit ya sayang? Sabar sayang, kamu pasti kuat. Kita akan ketemu anak kita sebentar lagi”. Arga mengusap kening Suci yang penuh peluh, Perempuan itu tampak mengangguk.


Dan mendengar kalimat yang di lontarkan Clara membuat tenaga dan semangat Suci kembali terkumpul. Suci tak akan menyerah, Clara benar, Sembilan bulan ia menunggu, dan sekarang waktunya ia harus berjuang sedikit lagi agar ia bisa bertemu dengan putranya.


Suci kembali menarik nafas dalam, dan mengejan saat sakit yang teramat mendorongnya untuk mengejan kuat. Dan....


Tangisan bayi seketika menggema di ruangan itu, membuat semua bernafas lega dan mengucap syukur. Tangis haru dari Arga dan Suci pun melengkapi kebahagiaan itu.


Arga mengecupi seluruh wajah istrinya, wajah lelah seorang perempuan yang telah rela berjuang demi putranya. "Terima kasih sayang, terima kasih. Kamu hebat". Bisik Arga.


Suci mendekap Arga, menumpahkan tangisan bahagianya disana. Rasa bahagia bercampur haru itu melimpah ruah memenuhi tiap ruang di tubuhnya, mendorongnya untuk mengucap syukur akan nikmat dan anugerah yang telah sang pencipta berikan padanya.


"Selamat ya Suci, Ar. Putra kalian sehat dan sempurna".

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih Ra". Ucap Arga


"Sama sama Ar, aku ikut bahagia untuk kalian. Ngomong ngomong apa itu fashion mu untuk hari ini Ar?"


Arga mengerutkan dahinya sebagai tanggapan atas pertanyaan Clara yang tak ia mengerti. "Maksud kamu?"


"Dari atas kamu terlihat keren dengan kemeja dan jas. Dasinya juga keren. Tapi sayangnya, kamu hanya memakai boxer, kamu melupakan celana panjangmu Ar".


"Hah??" Arga melihat bagian tubuh bawahnya, ia terkejut bercampur malu. "Astaga, kenapa aku bisa lupa". gumamnya.


Clara dan Suci tertawa, memang untuk sebagian orang kepanikan bisa melupakan hal lainnya.


Clara membersihkan Suci, sedangkan bayinya di bersihkan oleh perawat. Setelah bersih, bayi itu kembali di bawa kesana untuk Arga adzani.


Tak dapat tergambar lagi betapa Arga sangat bahagia saat ini. Seiring dengan suara adzan yang ia kumandangkan, air matanya meluruh begitu saja. Ia sangat bahagia, namun juga perasaan menyesal tiba tiba muncul saat ia kembali mengingat kesalahannya pada Suci yang mengakibatkan mereka kehilangan calon anaknya yang pertama.


***


Suci dan bayinya di pindahkan ke ruangan VVIP, di ruangan itu sudah ada mama, papa, ummi dan abi. Mereka berkumpul untuk menyambut Suci dan bayi tampan berkulit bule itu.


"Siapa namanya nak?" Tanya abi, mereka tampak mengelilingi box bayi dimana cucu mereka terlelap dengan nyamannya.


Suci dan Arga saling menatap dengan senyum bahagia tak pernah surut dari bibir keduanya. Bayi dengan berat 3.2 kg dan panjang 52 cm itu sangat tampan. Tak di ragukan lagi dari mana garis ketampanan bayi mungil itu miliki. Tentu saja dari seorang Yusuf Argantara. Kulitnya yang putih bersih di dapatkan dari sang mama, Suci. Hidungnya sudah terlihat mancung seperti hidung sang papa. Dan bayi tampan itu mereka beri nama "Agrata Langit".


"Agrata Langit, seorang pemimpin yang berkedudukan tinggi seperti langit".


TAMAT


ASSALAMUALAIKUM GUYS, MAK UCAPIN MAKASIH BANYAK BANYAK BUAT KALIAN YANG SELALU SETIA NGIKUTIN CERITA MAK. CERITA SUCI BERAKHIR DISINI, JANGAN KHAWATIR, AKAN ADA EKSTRA PART UNTUK KALIAN YANG MENCERITAKAN TENTANG AGRATA LANGIT. MAK BIKIN CERITA TENTANG AGRATA LANGIT DI APLIKASI KUNING. (*******)

__ADS_1


SAMPAI KETEMU DI CERITA MAK YANG LAIN YAH. MASIH ADA KIFAH CINTA YANG BELUM TAMAT. YUK MELUNCUR KESANA...RAMEIN LAPAK SAGARA DAN MAYRA YA GUYS...


SEKIAN DAN TERIMA KASIH, SALAM SAYANG ONLINE DARI MAK MAK PENGHALU INIIIH...HOHOHO


__ADS_2