PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
KEPANIKAN


__ADS_3

Hari ini, Suci akan memeriksakan kandungannya. Karena sudah memasuki bulan ke Sembilan, Clara meminta Suci memeriksakan kandungannya satu minggu sekali.


Arga senantiasa menemaninya, menjadi suami siaga dan suami pasrah jika sikap menyebalkan Suci kembali datang.


“Gimana Ra? Baik-baik saja kan?” Tanya Arga, ia mengusap kening suci yang tengah berbaring di ranjang pemeriksaan menatap layar monitor besar di hadapannya. Layar itu menampilkan gambar calon anak mereka.


“Semuanya ok, kalian tenang saja. Sepertinya dalam waktu dekat ini bayi ini akan lahir. Semuanya sudah sempurna, hanya tinggal menunggu waktunya saja.”


“Benarkah? Aku sudah tidak sabar Ra”. Suci berucap haru, matanya tampak berkaca-kaca.


“Persiapkan saja dirimu, tetap rileks, supaya proses melahirkannya lancar. Jangan tegang dan jangan stress, nikmati saja prosesnya Ci. Ini adalah salah satu hal yang menakjubkan bagi seorang perempuan yang di beri anugrah special oleh Tuhan. Dan sering di tengok papanya juga bagus untuk membuka jalan si bayi”. Clara mengedipkan sebelah matanya dengan jahil, membuat Suci mencebik namun Arga tertawa puas.


“Aku bilang juga apa sayang”. Kata Arga, kemudian ia berganti menatap Clara. “Dia aku bilangin gitu gak percaya Ra”.

__ADS_1


“Bukan gak percaya, aku juga tahu itu. Tapi kamu kebanyakan modusnya mas.”


Clara dan Arga tertawa, mereka puas menertawakan raut kesal Suci.


Beberapa hari berlalu sejak pemeriksaan kehamilan Suci, Arga semakin posesif padanya. Suci bahkan tidak di perbolehkan naik turun tangga, apapun yang Suci butuhkan dan inginkan akan di layani oleh pelayan yang standbay di dekat kamar Arga dan Suci.


Memang pergerakan Suci semakin terbatas sekarang, ia juga mudah lelah dan eungap jika beraktivitas yang berlebihan. Tapi ia juga tak diam begitu saja, Suci sering jalan-jalan di sekitar rumah agar persalinannya di beri kemudahan. Karena hal itu juga yang Clara sarankan padanya, harus banyak bergerak dan sedikit berolahraga, dan Arga mendatangkan pelatih senam kehamilan ke rumahnya. Agar Suci tidak perlu keluar rumah untuk berolah raga.


Nyonya Tara dan Tuan Tara pun pulang ke tanah air sejak tiga hari yang lalu, karena mereka sengaja tinggal di rumah itu untuk menjaga Suci dan menanti kelahiran cucu pertama mereka.


“Aku bantu ya mas..” Tawar Suci, ia hendak turun dari ranjang, tapi Arga segera menghentikannya.


“gak usah sayang, kamu duduk manis saja. Aku gak mau kamu kelelahan”.

__ADS_1


“Tapi itu pekerjaan ringan mas, hanya menyiapkan keperluan kamu saja, aku masih bisa membantu mu”.


“Jangan membantah sayang, aku bisa sendiri”. Arga kembali memasuki ruang ganti untuk mengambil celana kerjanya. Tapi baru saja membuka pintu lemari, teriakan Suci membuatnya kembali menghampiri Suci dengan berlari.


“Ada apa sayang??”


“Mas, aku ngompol..” Suci memperlihatkan tangannya yang basah karena menyentuh cairan bening yang keluar dari organ intinya. Kasur pun tampak basah karena cairan itu masih terus keluar.


“Ngompol? Tidak, sepertinya kamu bukan ngompol sayang. Sebentar, aku panggil mama dulu”.


Arga berlari meninggalkan kamar, ia menuju ke kamar sang mama dan ternyata wanita paruh baya itu tak berada di sana. Ia kembali berlari menuruni anak tangga, sepertinya mamanya tengah menyiapkan sarapan.


Suci mengernyit saat ia meraskan perutnya seperti di cubit, di sisi kanan dan kiri perutnya terasa sedikit sakit.

__ADS_1


‘Mas..” Lirihnya, Suci bahkan sudah tak dapat bergerak bebas. Karena bergerak sedikit saja akan terasa sakit ke area perutnya.


Sementara itu, Arga tengah mencari sang mama yang ternyata berada di dapur. “Ma, mama..”


__ADS_2