
Setelah di buat cemburu karena beberapa hari ini Suci memilih mencium wangi parfum Arga dari pada wangi parfumnya, kini Arga di buat pusing oleh persiapan mereka yang akan menghadiri acara pernikahan Clara.
Suci tidak mau memakai gaun yang Arga belikan, tapi ia juga enggan pergi sendiri untuk membeli gaun seperti apa yang Suci inginkan.
“Terus harus gimana sayang? Pestanya nanti malam loh, kamu masih juga bingung”. Arga membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang, membiarkan Suci berfikir sendiri tentang gaun seperti apa yang dia inginkan.
“Kamu aja bingung mas, apa lagi aku. Tau ah, aku gak ikut, aku di rumah aja. Kamu aja yang pergi sama Vino”.
“Ya masa aku di temenin Vino? Bisa gatel-gatel aku yank”.
“Terus gimana? Aku gak punya gaun yang bagus”.
“Emang yang tadi aku beli jelek yah? Padahal itu kamu yang pilih tadi”.
“Jadi kamu nyalahin aku mas? Jahhhat”.
Arga menghela nafas dalam, semenjak hamil Suci susah di tebak apa maunya. Salah sedikit saja ia bisa menangis sesegukkan. Dan ya, gaun itu adalah pilihan Suci sendiri. Saat Arga membelinya tadi, ia sengaja melakukan panggilan vidio dengan Suci, agar Suci juga bisa memilih gaun mana yang dia inginkan, dan pilihan Suci jatuh pada gaun panjang berwarna peach dengan aksen bling-bling di bagian pinggangnya. Dan sekarang Suci menolaknya dan mengatakan jika gaun itu terlalu mewah untuknya. Masih saja Arga salah, kalau saja istrinya itu tidak sedang hamil, mungkin Arga akan menghukumnya supaya Suci tak dapat bangun, sepuluh ronde rasanya tidak cukup untuk menghilangkan rasa kesalnya saat ini.
“Mas, kok kamu diem aja? Kesel nih aku..”
__ADS_1
“Aku lebih kesel sama kamu”. Gumam Arga, sayangnya pendengaran Suci masih 100% berfungsi, dan gumaman Arga jelas terdengar olehnya.
“Huaaaaaaaa, jahat. Kamu jahat mas, kamu bilang kesel sama aku, padahal aku gak ngeselin”.
Suci menangis kencang, membuat Arga gelagapan sendiri. Ia bingung harus berbuat apa jika sudah begini. Ia selalu mengingat perkataan sang mama ketika perempuan yang di sayanginya itu datang untuk memberikan selamat atas kehamilan Suci beberapa hari yang lalu.
“Menghadapi wanita hamil itu harus sabar, harus sering ngalah, dan sering memanjakannya. Karena mood ibu akan sangat berpengarus pada janinnya. Dan jangan buat wanita hamil marah apalagi sedih, kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya”.
Ya, dan sekarang ia harus menanggungnya. Karena hal sepele pun bisa berakibat buruk. Anehnya, masalah sepele bisa menjadi buruk, tapi masalah berat seperti beberapa hari yang lalu tentang Clara, Suci justru tak marah dan cenderung mengalah juga bersikap tenang.
Suci berhenti berulah menyebalkan hanya saat keluarga mereka berkumpul beberapa hari yang lalu. Ada mama, papa, ummi dan abi yang menginap selama dua hari. Dan selama dua hari itu, rasanya Arga sangat tenang, Suci tidak membuat hatinya naik turun seperti roller coaster.
“Maaf sayang, aku salah ngomong. Maksud aku, kamu sangat cantik. Pakai apapun kamu akan terlihat cantik, apalagi tidak memakai apapun, aku sangat menyukainya”.
Suci menghentikan tangisannya, ia menatap Arga dengan tatapan polos, matanya berbinar menggoda. “Benarkah? Kalau begitu, aku tidak akan memakai apapun”.
“Ap..apa?? Apa yang kamu katakan?”
“Kamu bilang kamu menyukaiku saat aku tidak memakai apapun, dan aku akan menurutinya.” Ucapnya polos
__ADS_1
“Oh astaga, ini bahaya!!”
Suci menyeringai, senyum jahil itu membuat Arga takut. Semenjak hamil muda, Arga jarang menyentuh Suci, karena Arga merasa tak tega dan juga khawatir dengan janinnya. Sekali menyentuh pun hanya sebentar dan sangat pelan, sisi bringasnya Arga simpan dalam-dalam, ia tahan mati-matian demi Suci dan calon anaknya.
Tapi lihatlah sekarang, Suci dengan sengaja menggodanya dengan menanggalkan semua pakainnya di hadapan Arga. Arga menelan ludahnya dengan susah payah, ia memejamkan matanya saat Suci mulai mendekat padanya.
"Ya tuhaaan, lindungi aku dari godaan besar ini".
Suci dengan sengaja berbaring di samping Arga, ia bahkan meniup mata Arga yang terpejam untuk menggoda pria itu. Tidak tidak tidak, Arga tidak kuat lagi. Ia membuka matanya dan menyerang balik Suci dengan meraup bibir manis istrinya dengan rakus.
Suci mendorong dada Arga, ia tergelak melihat mata sayu Argayang sudah diliputi gairah. Bagaimana tidak, Suci hanya mengenakan pakaian dalamnya saja dan menggodanya dengan nakal. Tubuhnya yang sedikit berisi sejak hamil membuat perempuan itu semakin terlihat seksi.
"Kamu melakukan kesalahan dengan membangunkan singa yang lapar sayang. Dan kamu harus bertanggung jawab kali ini. Aku tidak akan mengampuni mu lagi, aku sudah cukup bersabar, tapi sekarang tidak lagi".
Suci membulatkan matanya, niatnya hanya ingin menggoda suaminya, namun ternyata senjata makan tuan ia balik dis erang oleh pria itu. "Sa..sayang, Aku sepertinya ingin buang air. Aku harus ke kamar mandi mas".
"Tidak semudah itu kucing nakal," Bisik Arga, semakin membuat Suci susah bergerak bahkan untuk sekedar berkedip dan menelan ludahnya.
Akhirnya Arga menang kali ini, dan benar saja, rasa kesalnya menguar entah kemana setelah ia mendapatkan jatahnya
__ADS_1