PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
KANTOR SUAMI


__ADS_3

"Kesiangan ya nak???"


Pertanyaan dari sang ummi membuat Suci kikuk, ia melirik suaminya yang hanya tersenyum saja.


"Gak apa ummi, kita harus maklum. Mereka kan terpisah lama, pasti butuh banyak waktu untuk berbincang-bincang".


"Iya ummi, berbincang-bincang". Ulang Suci, ia menyikut lengan Arga yang terlihat menahan tawanya. Pria itu sama sekali tak membantunya mencari alasan.


"Ummi, Abi, tak apa kan kalau aku ajak Suci pulang hari ini??". Tanya Arga, ia sedikit tak enak pada mertuanya, tapi ia juga butuh waktu banyak dengan istrinya, kamar di rumah Suci berdempetan, Arga tak bisa melakukan hal bebas seperti di rumahnya. Ia terlalu malu.


"Tak apa lah nak, ummi juga udah baikan kok". Jawab ummi.


"Iya, ada Abi juga yang jagain ummi kalian, kalian tenang saja. Fokus saja untuk segera memberikan kami cucu nak". Timpal Abi.


"Uhuk uhuk uhuk".


Suci terbatuk, mendengar ucapan Abi membuatnya teringat kejadian semalam. Apa Abi nya itu mengetahui sesuatu, mengingat semalam Suci sangat berisik.


"Pelan-pelan sayang, kok bisa kesedak sih?". Arga menyodorkan air pada Suci, perempuan itu terlihat menunduk malu dan meminum air yang Arga sodorkan padanya.


Ummi dan Abi hanya bisa menahan tawanya, semalam mereka memang mendengar sesuatu, suara-suara yang membuat otak tua mereka Travelling ke masa mudanya.


"Sudah-sudah, terusin makan nak. Nanti suami kamu terlambat kerja loh".


"Iya Abi". Suci kembali melanjutkan makannya, ia mencubit tangan sang suami yang mencolek-colek pinggangnya di bawah meja. Pria itu niat sekali menggodanya.

__ADS_1


💜💜💜💜


"Ikut aku ke kantor ya sayang, ada yang harus aku tanda tangani, abis itu kita pulang. Cuma sebentar kok".


Suci diam, ia terlihat ragu. Terakhir kali menginjakan kaki di kantor suaminya, ia mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari semua karyawan Arga.


Arga menyadari ketakutan Suci, ia menggenggam jemari Suci dan ia bawa ke pangkuannya, sementara sebelah tangannya lagi memegang kemudi. "Ada aku, tidak akan ada lagi yang memperlakukan mu seenaknya Suci. Kamu istriku, mereka akan berhadapan dengan ku jika mereka berani berbuat buruk pada mu".


"Aku takut mas".


"Percaya pada ku, semua akan baik-baik saja sayang". Arga meyakinkan Suci.


Suci mengangguk pasrah, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Arga, ia serahkan semuanya pada suaminya.


"Aku tunggu di mobil aja ya mas".


"Masa aku tinggalin kamu sendirian. Percaya pada ku, mereka tidak akan berani menyakiti kamu lagi".


Akhirnya, Suci benar-benar pasrah. Ia mengikuti langkah Arga dan menggenggam erat tangan pria itu.


Sampai di lobi, semua tampak menyambut ramah. Tak ada lagi perlakuan mengerikan seperti yang terakhir kali ia dapatkan.


Sesekali Suci hanya tersenyum membalas sapaan para karyawan. Terlihat jelas jika mereka melakukan itu karena Arga, buka karena ketulusan dari hati mereka, tapi tak apa. Suci tak akan mempermasalahkan itu, ia sudah cukup tenang ketika mereka tak memperlakukannya dengan buruk.


Sampai di depan lift, seorang petugas keamanan menghampiri Arga. "Maaf pak Presdir, lift anda sedang dalam perbaikan. Jika tidak keberatan, anda bisa menggunakan lift karyawan. Saya akan menyuruh karyawan menunggu terlebih dahulu".

__ADS_1


"Tidak usah menunggu, mereka bisa bergabung bersamaku dalam satu lift." Ucap Arga.


Petugas keamanan itu mengangguk, memberi tahu para karyawan jika Arga tak keberatan saru lift dengan mereka.


Arga tak mau ribet, perkara lift saja tak akan membuatnya merasa risih jika harus satu lift yang sama dengan para karyawannya.


Arga di persilahkan masuk lebih dahulu. Baru setelah itu ada sekitar enam orang karyawan yang juga ikut memasuki lift. Lift itu cukup luas, masih tersisa untuk sekitar empat orang lagi. Namun mereka tak mau membuat Presdir mereka merasa tak nyaman dengan berdesak-desakan di dalam lift.


Arga dan Suci berdiri di tengah-tengah, sedangkan yang lainnya berdiri di sisian lift.


"Pusing gak?". Arga mengusap kening Suci yang tampak berkeringat.


Suci menggelengkan kepalanya, ia terus menggenggam tangan Arga. Arga melepaskan genggaman tangannya, beralih merengkuh bahu Suci dan membawa istrinya itu ke dalam dekapannya.


Perlakuan Arga tak luput dari perhatian mereka yang berdiri di sana. Meleleh rasanya melihat perlakuan manis Arga pada Suci. Mereka merasa Suci sangat beruntung menjadi istri pria tampan dan kaya raya seperti Arga. Siapa pun pasti akan berfikir seperti itu ketika melihat perlakuan manis Arga pada Suci.


Entah kebaikan apa yang di lakukan Suci di masa lalu, hingga Suci sangat beruntung bisa bersanding dengan pria berparas tampan seperti Arga.


**Gaes, Jan lupa like komennya yah. Follow juga akun aku.


IG @savanagunawan


FB Savana Alifa


NT/MT Savana Alifa**

__ADS_1


__ADS_2