
Yusuf Argantara, pria berperawakan tinggi tegap itu baru saja tiba di perusahaannya. Meeting pagi ini mengharuskannya menginjakan kaki di perusahaan lebih pagi dari biasanya. Berjalan lurus diikuti Vino di belakangnya, teriakan seseorang yang memanggil namanya membuatnya menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Tuan muda, maaf mengganggu perjalanan anda, ada hal penting yang harus saya sampaikan". Bagas, salah satu anak buahnya yang Vino perintahkan mengawasi Suci.
"Katakanlah, saya tidak punya banyak waktu". Kata Arga, ia melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Nona Suci tuan, dia.."
"Ada apa dengannya?".
Bagas menatap ke sekitarnya, ada beberapa karyawan di sana. Ia mendekat pada Arga, kemudian membisikan sesuatu pada pria itu.
Arga terkejut, tanpa mendengar lanjutan keterangan yang di sampaikan Bagas, Arga berlari menuju ke toilet belakang. Meninggalkan Vino yang tak mengerti apapun namun memilih berlari juga menyusul sang bos.
Arga mengedarkan pandanganya, terlihat jilbab instan Suci tergeletak di lantai dekat salah satu pintu kamar mandi. Arga melangkah lebih dekat, terdengar isak tangis lirih dari dalam sana. Arga menekan handle pintu yang terkunci dari dalam, ia menggedornya dan memanggil nama Suci.
"Suci apa kamu di dalam? Buka Suci".
"Tolooong".
Suara itu terdengar lirih dan menyayat.
Arga mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah, rahangnya tampak mengeras.
__ADS_1
Bruaaak
Satu kali tendangan pintu itu terbuka, tanpa aba-aba Arga menyerang Rudi, memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria yang tubuhnya nyaris telanjang, hanya menyisakan celana pendek saja. Tak ada kesempatan untuk Rudi melawan, pria tak bermoral itu terkapar lemas bersimbah darah.
"Cukup tuan, kamu bisa membunuhnya".
Suara lirih Suci menghentikan aksi kesetanannya, wanita itu meringkuk dipojok kamar mandi dengan tangis sesegukan. Rambut panjangnya terurai acak, wajahnya penuh lebam, gamis yang ia kenakan terkoyak di bagian bahunya. Resleting di bagian dadanya pun terbuka dan robek, terdapat banyak luka gigitan di leher dan dada atasnya.
Arga mengusap wajahnya kasar, ia marah, lagi-lagi wanita malang itu mendapat pelakuan seperti ini. "Aaaaagghhh". Teriaknya, Arga kembali menendang Rudi yang terkapar di lantai, pria itu terlihat menyunggingkan senyum meremehkan.
Arga mendekati Suci, berjongkok di hadapan perempuan malang itu. Tanpa di duga, Suci menghambur ke pelukannya, memeluk Arga dengan erat seolah mencari perlindungan pada dada pria itu. "Aku takut, bawa aku pergi aku mohon". Lirihnya.
Perlahan Arga membalas pelukan Suci, mengusap punggung bergetar perempuan itu. "Tenanglah, kamu aman sekarang".
Suci menganggukan kepalanya, ia semakin erat memeluk Arga, trauma, takut, jijik, gelisah, sedih, terhina, bercampur menjadi satu, hingga Suci melupakan sejenak rasa bencinya pada Arga yang baru saja menyelamatkan hidupnya.
"Aku takut, aku malu". Suci semakin terisak saat menyadari penampilanya.
Arga melepas jasnya, mengenakannya pada Suci untuk menutup bahu dan dadanya yang terbuka.
Suci mengeratkan jas yang Arga kenakan padanya, ia mencari sesuatu seraya mengusap rambutnya.
Arga mengerti, ia menoleh ke belakang di mana jilbab Suci tergeletak, sudah ada Vino dan Bagas di sana. Vino memberikan jilbab Suci kemudian kembali membalikan tubuhnya, ia tahu diri untuk tak melihat apapun yang bukan haknya.
__ADS_1
Arga memakaikan jilbabnya pada Suci, kemudian mengangkat tubuh lemah Suci dalam gendongannya. Suci menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Arga, kembali terisak saat pria itu menenangkannya.
"Tenanglah, jangan menangis lagi. Aku akan membuat perhitungan dengannya".
Suci tak menjawab, ia sibuk menangis meratapi nasib buruknya.
Arga membawa Suci keluar dari dalam toilet itu, namun langkahnya kembali terhenti saat Rudi mengucapkan sebuah kalimat yang membuatnya kembali di liputi amarah.
"Kenapa saya tidak boleh menyentuhnya sedangkan anda bisa pak presdir?".
"Karena dia istrikuuuuuu!!". Teriak Arga.
"Bohong, Saya tidak terima ini, lihat saja apa yang akan saya lakukan." Ancam Rudi.
Arga ingin kembali berbicara, tapi Suci menengadah seraya menggelengkan kepalanya. Mata sendu perempuan itu membuat amarahnya mereda.
"Urus dia Vin, hancurkan apapun yang berhubungan dengannya. Jangan biarkan dia bebas". Vino mengangguk, siap melaksanakan perintah tuan mudanya.
Arga membenarkan gendongannya agar Suci tak terjatuh, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah hatinya di liputi rasa benci pada Arga, baru kali ini ia merasakan rasa nyaman dan aman di dekat pria perampas kehormatannya itu. Ia bahkan tak menolak saat pria itu menggendongnya. Suci tahu ini salah, tapi ia butuh perlindungan saat ini.
Tatapan para karyawan yang melihatnya dalam gendongan Arga seolah menyudutkannya, membuat Suci meremas baju Arga di bagian dadanya. Ia semakin menyembunyikan wajah lebamnya di dada pria itu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lihat? Kembali bekerjaaa!!". Teriak Arga.
Teriakan itu membuat semua orang kalang kabut dan mengalihkan perhatianya dari Arga dan Suci.