
Sayup-sayup suara adzan terdengar berkumandang, merdu mengusik telinga seorang perempuan yang sudah hampir empat jam ini tak sadarkan diri. Sepoi-sepoi angin sejuk masuk melalui jendela kaca besar yang terbuka, membuat gorden putih tipis yang menjuntai seolah menari-nari mengikuti irama hembusannya.
Perempuan itu menggeliat, sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh kepalanya yang terasa pening, tubuhnya seolah remuk, di bagian leher dan dada atasnya terasa perih, pipinya pun terasa kebas. Dan yang ia rasakan itu membuatnya seketika tersadar atas kejadian yang menimpanya beberapa jam yang lalu. Bulir air kesedihan mulai menganak sungai di balik kelopak matanya, ia menolak menangis, ia lelah, tapi air bening itu tanpa permisi kembali menetes di pipinya yang sedikit memar.
Matanya mulai terbuka sempurna, ia mengenali ruangan ini, ruangan yang sama ketika dulu ia tak sadarkan diri. "Aku di rumahnya?". Lirihnya.
Derap langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Suci mengeratkan jas Arga yang masih ia pakai. Tak lama pintu di depannya terbuka, pria berparas tampan pemilik kehormatannya tampak muncul dengan gaya khasnya, siapa saja akan terpana menatapnya, terbuai oleh pesona kharismatik seorang Yusuf Argantara, tapi tidak dengan Suci. Perempuan itu sangat membencinya, bahkan enggan menatap paras rupawan itu.
"Kamu sudah sadar?". Tanyanya, Arga berdiri di ujung ranjang, menatap iba perempuan yang telah ia hancurkan masa depannya.
__ADS_1
Suci hanya mengangguk sebagai jawaban. Sesaat hening, keduanya tenggelam dalam fikiran masing-masing. Sampai suara lirih Suci yang hampir saja tak terdengar membuat Arga terpaku.
"Terima kasih". Lirih Suci, ia tetap menunduk, sebelah tangannya memegang erat jas Arga di bagian dadanya, sebelah tangannya lagi mengusap air mata yang lagi-lagi mengalir memperlihatkan sisi lemahnya.
Arga tak menjawab, sepertinya pria itu tengah sibuk menghitung seberapa banyak air mata yang menetes dari mata sendu Suci yang membuatnya semakin merasa bersalah.
Hening kembali, mereka sama-sama terdiam. Namun kehadiran nyonya Tara membuat keduanya mengangkat kepala menoleh pada perempuan lembut itu.
"Jangan sentuh saya nyonya, saya kotor, saya menjijikan. Jangan kotori tangan anda dengan menyentuh sampah seperti saya. Biarkan saya seperti ini, saya tidak ingin membuat anda ikut terkena kotornya". Suci terisak, ia menunduk dalam.
__ADS_1
Nyonya Tara dan Arga terkejut mendengar penuturan Suci, kalimat itu terlalu menyakitkan untuk di dengar. Bahkan nyonya Tara tak sanggup menahan air matanya. Perempuan paruh baya itu menghambur memeluk Suci, mereka menangis bersama dengan saling mendekap, seolah berbagi rasa sakit dan perih yang di rasakan Suci.
Saat mendengar musibah yang di alami Suci dari Arga, membuat nyonya Tara semakin merasa bersalah pada Suci, bagaimana pun semua itu berawal dari kesalahan putranya. Tapi terus menyalahkan pun percuma, itu hanya akan membuat Arga tertekan, waktu tidak akan pernah bisa terulang dan menghilangkan kejadian buruk itu.
"Menangis lah nak, menangis lah, mama di sini. Ada mama di sini, kamu putri mama, kamu putri ku". Nyonya Tara mempererat pelukannya pada Suci, tangisan mereka terdengar pilu dan penuh luka.
"Kenapa aku seburuk ini? Kenapa aku sehina ini?". Suci menenggelamkan wajah sendunya di dada nyonya Tara, dada hangat seorang ibu yang mempunyai hati tulus.
Arga hanya bisa mematung, sudut hatinya terasa ikut nyeri mendengar tangisan ke dua wanita itu. Namun ia bingung harus melakukan apa, ingin menikahi pun Suci tolak, terbersit rasa ingin melindungi di hati Arga pada Suci, karena setelah kejadian ini, Suci pasti akan sulit menata kembali hidupnya, ia akan semakin tertekan. Tawa, senyum, binar bahagia, keceriaan, kini seolah menjadi musuh bagi Suci, hal yang tak mungkin dengan mudah akan ia lakukan. Semua terkubur bersamaan dengan mentalnya yang terguncang hebat.
__ADS_1