
Jalanan pagi itu cukup lengang, karena jam sudah memasuki waktu masuk kerja bagi para pejuang rupiah. Di dalam mobil yang Arga kemudikan, suasana tampak sunyi, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar juga suara klakson bersahutan dari luar sana.
Suci sudah mulai tenang meski air mata terus saja mengalir di pipinya. Ia hapus dengan kasar seakan menghapus jejak bibir pria bejat yang berusaha melecehkannya.
Ada rasa iba di hati Arga ketika melihat Suci harus kembali terperosok pada perasaan yang sama akibat permasalahan yang sama juga. Ia di perlakukan seperti itu bermula dari dirinya.
"Kamu mau pulang?". Suara tegas Arga memecah keheningan. Ia bingung harus membawa Suci Kemana mengingat perempuan itu hanya diam.
Suci meremas ujung jilbabnya, ia menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak pecah. Ia bingung harus pergi kemana dalam keadaan kacau seperti ini.
__ADS_1
"Menangis lah Suci, keluarkan apa yang menjadi ganjalan di hati kamu, luapkan perasaan mu jika itu bisa membuat kamu sedikit tenang". Kata Arga, Arga menyadari jika Suci tengah berusaha menahan tangisnya.
Tak ada jawaban dari Suci, Arga menepikan mobilnya, mematikan mesin untuk memberikan kesempatan pada Suci meluapkan perasaannya. Sesaat hening, namun kemudian Suci meraung, menangis kencang seraya memukul dadanya yang terasa sesak.
Suci menutup wajah pilunya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya begitu menyakitkan ketika harus mendapat penghinaan yang sama.
"Kenapa seperti ini ya Allah, kenapa harus aku? Kenapa kau mengujiku dengan beban yang sangat sulit aku terima? Kenapa takdir mempermainkan aku. Satu-satunya hal yang aku banggakan terampas paksa, dan hal itu akan kembali terulang pada ku." Teriak Suci, ia benar-benar meluapkan amarahnya. "Aku jijik pada diriku sendiri, aku mengerikan, aku kotoor". Teriaknya lagi. Suci menggosok-gosok tangannya dengan tangannya yang lain, hingga terlihat memerah karena lengan gamisnya tersingkap.
"Kamu yang membuat aku kotor, kamu yang membuat aku terhina, kamu yang membuat aku merasa jijik pada diriku sendiri". Teriaknya.
Arga mengangguk mengakui itu. "Iya, aku bersalah. Pukul aku, luapkan semuanya pada ku. Aku pantas mendapatkan kebencian mu".
__ADS_1
Suci melemah, ia merasa sangat lelah menjalani hidup terhina seperti ini. "Astaghfirullah ya Allah, panggil aku agar aku tak merasakan hal apapun lagi". Lirihnya.
"Maaf, maafkan aku Suci". Lirih Arga.
"Aku bahkan membenci nama ku sendiri. Nama itu mengingatkan aku pada hal yang sudah hilang dalam diriku". Suci berucap lemah, kepalanya terasa berat namun sayup-sayup masih bisa mendengar kata permintaan maaf Arga dan sesaat kemudian ia terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Suci, suci bangunlah. Jangan buat aku cemas, Suci buka matamu". Arga menepuk-nepuk pipi Suci yang terdapat memar di sana, sedikit darah mengering terdapat di ujung bibirnya.
Meski ia menodai Suci, tapi ia tidak memakai kekerasan sama sekali. Namun Rudi memberikan luka fisik yang cukup membekas di wajah syahdu perempuan itu. Amarahnya kembali mencuat, rahangnya mengeras melihat ketidak berdayaan Suci saat ini.
Arga memutuskan untuk membawa Suci ke rumahnya, setidaknya ada sang mama yang bisa merawat Suci dengan baik. Mengingat perempuan itu tak ingin di antar pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Jangan lupa like sama komentarnya loh sayang² kuuhh💜💜🙏