
Suci tengah berkutat di area favoritnya, dapur. Siang ini ia berencana akan pergi ke kantornya Arga untuk makan siang bersama. Senandung kecil terdengar lirih keluar dari bibirnya yang mungil, para pelayan tak ia biarkan membantunya, mereka hanya berdiri di belakang Suci beberapa meter untuk menjaga dan memastikan jika nyonya-nya itu baik-baik saja. Dan mereka akan dengan sigap membantu jika Suci memerlukan sesuatu.
Tak ada yang mewah dengan masakan Suci, hanya masakan rumahan yang sewaktu makan di rumah ummi dan Abi Arga menyantapnya dengan lahap. Suci belum sempat memasakannya lagi untuk Arga, dan sekarang ia membuat itu dengan penuh kasih sayang. Suci berharap, dengan melakukan ini hatinya akan sedikit tenang. Tidak segelisah sekarang saat bayang bahagia di foto itu tergambar jelas di benaknya.
Setelah menyiapkan masakannya dan memasukannya ke tempat makan yang telah di siapkan oleh para pelayan, Suci beranjak untuk membersihkan diri dan berdandan sebaik mungkin untuk suaminya.
Jika beberapa saat yang lalu ia membenci bau Arga, namun sekarang ia begitu merindukan bau khas suaminya itu.
"Mang Ujang, minta tolong antar saya ke kantor mas Arga yah, bisa tidak mang??" Tanya Suci
"Siap nyonya, silahkan masuk". Mang Ujang membukakan pintu mobil untuk Suci, memastikan nyonya-nya itu duduk aman dan nyaman kemudian kembali menutup pintunya dan ia segera duduk di balik kemudi.
Perjalanan yang lancar membuat Suci tiba lebih awal, namun saat akan memasuki gerbang perusahaan milik suaminya,Suci melihat mobil mewah Arga keluar area perusahaan.
"Loh, itu bukannya mobil suami saya ya mang??"
"Sepertinya iya Nyonya, itu memang mobil Tuan". Mang Ujang tahu persis karena plat nomor mobil Tuannya berbeda, di pesan khusus oleh Arga saat membeli mobil itu.
"Coba ikutin deh mang.." Entah mengapa Suci sangat ingin tahu kemana Arga pergi, padahal bisa saja Arga pergi untuk meeting bersama dengan rekan kerjanya. Namun nalurinya sebagai seorang istri mengatakan jika ia harus mengikuti Arga.
"Baik nyonya..."
Mang Ujang mengikuti mobil Arga dari jarak aman, namun cukup melihat kemana arah mobil itu bergerak. "Sepertinya ini arah ke rumah sakit nyonya".
__ADS_1
"Rumah sakit??" Ulang Suci, hatinya semakin tak menentu, kecurigaan semakin kuat menguasai dirinya.
Suci mengusap dadanya saat perkiraannya benar, mobil Arga memasuki pelataran rumah sakit dan terparkir cantik di area parkiran sana. "Mang Ujang tunggu sebentar yah, saya gak lama kok".
"Baik nyonya.."
Suci turun dari mobil, mengikuti langkah lebar Arga dengan pelan agar tak terlalu mencolok. Dadanya semakin berdebar saat ternyata Arga menuju ruangan dokter obgyn, dan itu artinya Arga ingin bertemu dengan Clara.
Dari kejauhan Suci melihat Arga keluar kembali dari ruangan obgyn di ikuti Clara di belakangnya. Suci kembali melangkah pelan, berdiri tak jauh di belakang Arga dan Clara yang terlihat duduk di salah satu bangku taman rumah sakit.
***
Sejenak Arga dan Clara hanya saling diam, tak ada yang memulai percakapan lebih dulu. Clara mulai jengah, ia menoleh pada Arga yang duduk di sebelahnya.
Arga menatap lurus kedepan, kemudian menoleh saat Clara bertanya padanya. "Kamu apa kabar??"
"Aku baik, seperti yang kamu lihat". Jawab Clara. "Bagaimana dengan mu?"
"Baik, aku juga baik." Arga menghela nafas dalam, kemudian kembali bertanya, "Kemana saja kamu selama ini?"
Clara tersenyum masam, "Ada, aku tidak pernah kemana-mana".
"Kenapa tidak menemui ku dan meninggalkan ku begitu saja??"
__ADS_1
"Aku sudah berusaha menemui mu Ar, tapi saat yang bersamaan berita scandal tentang dirimu mencuat. Aku berusaha menampiknya, karena Arga yang aku kenal tidak sebrengsek itu. Kamu bahkan tidak pernah menyentuhku sedikitpun selama kita berhubungan. Tapi Vidio itu cukup jelas memperlihatkan dirimu. Aku mencari tahu, dan ternyata itu memang benar. Kamu tidak akan menduga betapa hancurnya aku saat itu, tapi aku berusaha kuat, aku tidak boleh lemah dan jatuh hanya karena dirimu."
"Harusnya kamu tanyakan sendiri padaku, jangan pergi menghilang begitu saja". Kata Arga
"Untuk apa Ar? Untuk mendengar jawaban menyakitkan yang mempertegas kebenarannya? Bukankah sebaiknya memang aku pergi dan membiarkan kamu bertanggung jawab pada gadis yang sudah kamu nodai? Jika aku datang menemui mu, aku yakin kamu tidak akan mau menikahinya, benar bukan??"
Arga mengangguk, membuat seorang perempuan yang berdiri tak jauh di belakangnya tersentak. Dadanya sesak, ia menyandarkan tubuhnya pada tiang yang berdiri menjulang dengan kokohnya, tak Sekokoh hatinya yang kini terasa perih. Kepalanya menengadah, berusaha menahan genangan air mata yang sudah berkumpul di balik kelopak mata sendunya. "Jadi aku telah menjadi penghalang untuk kisah cinta mereka? Ya Allah, apa aku jahat?"
"Kamu sama sekali tidak memberikanku kabar, aku sampai gila mencari mu".
"Sudahlah Ar, kalian sudah bahagia sekarang. Istri kamu sedang hamil, tidak baik kamu menemui ku seperti ini. Dan aku juga sudah bahagia dengan kehidupan ku sekarang".
"Ya, kamu benar, kita hanya sepenggal kisah di masa lalu, masa depan kita akan lebih indah jika kita saling merelakan dan melepas masa lalu kita. Maaf, aku hanya ingin tahu, kenapa kamu pergi tanpa alasan dan tanpa kabar. Tapi ternyata, itu karena kesalahan ku. Maafkan aku, aku sudah menyakitimu".
"Aku sudah melupakannya Ar, berbahagialah, aku yakin kamu sangat mencintainya".
Arga mengangguk, ia menoleh pada Clara dan tersenyum lembut, senyuman yang penuh dengan kerinduan. "Kamu benar, aku sangat mencintainya. Terima kasih sudah memaafkan ku".
"Tunggu sebentar, ada sesuatu untuk mu". Clara beranjak, saat yang bersamaan Suci pun beranjak dari sana, tak ingin terlihat oleh Clara ataupun Arga.
Hatinya tak menentu, ia bahagia karena Arga mengatakan mencintainya. Tapi entah mengapa, rasa bahagia itu juga menimbulkan rasa bersalah pada Arga dan Clara. Suci berada di ambang kebingungan, perasaannya bertolak belakang dengan akalnya.
***Guys, mampir di cerita mak yang lainnya yah,,seru² juga kok, buat nemenin rasa bidan kalian. hihi
__ADS_1
makasih banyak banyak buat jempol kalian yang udah nulis komen dan likenya...lop yuuu***