
"SAH...."
Kata sakral itu terucap ramai oleh saksi-saksi pernikahan Arga dan Suci. Tak ada keraguan di mata Arga, ia benar-benar bertekad ingin melindungi Suci.
Suci berjalan pelan beriringan dengan ummi Fatimah dan nyonya Tara. Tak ada kebahagiaan di sorot matanya, yang ada hanya tatapan gelisah dan penuh kesakitan.
Setelah sampai di hadapan Arga, sesuai arahan seorang ustadz yang menikahkan mereka, Suci harus mencium tangan Arga untuk yang pertama kalinya sebagai bentuk penghormatannya pada sang suami.
Dengan tangan bergetar ia memaksakan diri menyentuh telapak tangan Arga, kemudian menciumnya. Tetesan air mata jatuh membasahi tangan Arga, entah tangisan apa yang Suci rasakan. Perempuan itu terlihat mundur selangkah ketika Arga hendak mencium keningnya.
Arga mengerti, ia pun urung melakukannya, ia mengangkat tangannya mengusap puncak kepala suci.
"Silahkan nak Arga pasangkan kalungnya". Ucap pak ustadz.
Arga menganggukan kepalanya, ia menatap Suci seolah meminta ijin pada perempuan itu untuk lebih mendekat. Suci menunduk, ia memejamkan matanya menahan rasa takut yang tiba-tiba saja kembali muncul saat Arga berdiri sangat dekat dengannya untuk memasangkan kalung yang pria itu jadikan mahar. Trauma Suci masih kerap kali ia rasakan saat ia dekat dengan pria asing apalagi itu Arga, pria yang telah menimbulkan luka fisik dan psikis yang sampai saat ini masih membekas.
Setelah rangkaian acara sederhana itu selesai, mereka menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh nyonya Tara, meski mendadak, dengan uang dan kekuasaannya, apapun bisa di dapat dan di lakukan dengan mudah dan sekejap mata.
Suci tak banyak bicara maupun menyantap hidangan meski ia sama sekali belum makan. Ia hanya duduk diam di sebelah Arga.
"Makan yah, aku bawain. kamu kan belum makan malam". Arga menatap Suci, istrinya itu terlihat menoleh sekilas kemudian kembali menunduk seraya menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus makan, supaya cepat pulih". Bujuknya lagi.
__ADS_1
"Tapi aku gak lapar". Lirih Suci, hampir tak terdengar namun masih dapat Arga dengar dengan jelas.
"Paksain, satu atau dua suap yang penting perut kamu ke isi".
Suci tetap menggeleng, Arga terdengar menghela nafas kesal. Ia harus ekstra bersabar menghadapi istrinya, Suci tak boleh banyak menerima tekanan, dokter pribadi keluarga Tara mengatakan, jika Suci ingin cepat pulih dari rasa takut dan traumanya, maka orang-orang di sekelilingnya pun harus memberikan kenyamanan untuknya. Tidak boleh ada tekanan berlebihan atau sentuhan berlebihan dari lawan jenisnya, terutama Arga.
"Makan sedikit nak, perut mu harus di isi agar kamu cepat pulih". Ummi Fatimah yang menyaksikan perbincangan singkat Arga dan Suci menimpali.
"Aku gak lapar ummi."
"Ummi tahu nak, tapi benar kata suami kamu, kamu harus makan satu atau dua suap supaya kamu cepat pulih".
Suci terdiam, bukan karena paksaan sang ummi yang menyuruhnya makan, tapi karena kata 'SUAMI' yang membuat ia tersadar bahwa kini ia akan menjalani hidupnya bersama Arga, pria yang di bencinya karena membuat masa depannya hancur.
"Ummi, biar Arga saja yang mengambilkan Suci makanan, ummi di sini saja temani Suci".
Ummi Fatimah tersenyum lembut seraya mengangguk, membiarkan Arga pergi kemudian ia duduk di sebelah sang putri.
"Putri ummi sudah bersuami sekarang". Kata ummi, ia mengusap puncak kepala Suci dengan lembut. "Jadilah istri yang Sholehah nak, gali lah pahala sebanyak-banyaknya dari suami kamu. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dan terbanyak juga pahalanya. Ridho suami adalah jalan yang akan memudahkan kamu dalam melakukan hal apapun. Berbaktilah padanya, cobalah buka hati kamu untuknya nak. Arga pria yang baik, cintailah dia karena Allah, insya Allah, luka dan rasa kecewa kamu padanya akan sembuh dengan sendirinya. Ummi sangat yakin dia akan membahagiakan kamu, dia akan melindungi kamu nak."
"Tapi rasanya berat ummi, melihatnya saja selalu membuat aku teringat kejadian itu". Lirih Suci.
"Kamu harus berusaha mencobanya, jangan biarkan kejadian itu mengurung kamu lebih lama lagi. Buka hati kamu sedikit demi sedikit, tidak baik menyimpan rasa benci terlalu lama, apalagi dia sudah menjadi suami mu sekarang, kamu harus memuliakannya."
__ADS_1
Suci terdiam, benar apa kata ummi nya, tapi apakah dia bisa? Suci mengedarkan pandangannya ke sekitar, hanya tinggal ummi dan dirinya di ruangan televisi itu, sedangkan Abi dan tuan Tara tampak tengah berbincang di ruang tamu, nyonya Tara sudah pamit beristirahat beberapa menit yang lalu.
Perhatian Suci dan ummi teralihkan pada kedatangan Arga, pria itu tampak membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih. Ummi pamit beristirahat, ia ingin memberikan waktu pada Suci dan Arga untuk saling bicara.
Arga meletakan nampannya di atas meja, kemudian mengambil piring berisi nasi dan lauk pauknya.
"Kamu mau makan sendiri atau aku suapin?". Tanya Arga, ia mencoba mencairkan suasana canggung antara dirinya dan Suci.
"Aku makan sendiri aja". Suci mengambil piring dari tangan Arga, hingga tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan. Suci menarik tangannya dengan panik, ketakutan tergambar jelas di raut wajahnya. "Jangan terlalu dekat aku mohon". Pintanya lirih.
Arga mengangguk, ia menggeser duduknya sedikit menjauh dari istrinya, memberikan jarak agar Suci tak ketakutan lagi. "Maaf". Ucap Arga.
"Aku bisa makan sendiri, pak Arga bisa beristirahat". Suci menunduk, tangannya bergetar takut.
"Aku tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini ".
"Pergilah aku mohon, aku bisa mengatasinya sendiri. Astaghfirullah aladzim ya Allah". Air mata itu bahkan kembali menetes.
Tak tega rasanya melihat keadaan Suci seperti itu, tapi ia juga tak boleh membuatnya semakin tertekan dengan keberadaannya di sana. "Baiklah, aku akan duduk di sana. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu". Arga menunjuk sofa yang berada tak jauh dari tepat mereka duduk, kemudian beranjak saat melihat Suci hanya diam saja dengan tatapan menyakitkan.
Hanya bersentuhan tangan saja efeknya sangat membuat Suci ketakutan, dan itu pun tanpa sengaja mereka saling bersentuhan. Luka psikisnya memang lebih dalam ketimbang luka raga yang bisa sembuh hanya dengan beberapa hari saja.
GAES,,mampir ke apk sebelah yuk, masih gratis kok belum Mak kunci..😂😂
__ADS_1