PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
JANGGAL


__ADS_3

Matahari mulai meninggalkan singgasananya, cahaya senja mulai menghiasi langit, menimbulkan semburat kuning keemasan yang memanjakan mata.


Seorang pria berparas tampan namun gusar itu tengah menunggu seseorang yang sangat di cintainya tak jauh dari tempat perempuan itu bekerja.


Kedua jari telunjuknya mengetuk ngetuk kemudi mobil, mengalihkan fikirannya dari kecemasan ancaman yang beberapa jam yang lalu ia dapatkan dari musuhnya.


Tak lama, raut kecemasan itu mulai terlihat lega saat perempuan yang di tunggunya muncul dari balik pintu kaca cafe tempatnya bekerja.


Suci, perempuan lugu itu tampak lelah. Tergambar jelas di raut wajahnya dan kedua alis yang saling bertaut tajam.


"Harusnya kamu masih istirahat sayang, kenapa kamu memaksakan bekerja?" Lirih Arga, matanya tak berkedip mengawasi setiap pergerakan istrinya yang tampak menaiki sebuah mobil dengan seorang perempuan.


Arga bernafas lega, setidaknya Suci aman bersama dengan temannya. Ia memutuskan untuk berbalik arah kembali ke kantornya, ada hal penting yang harus ia bahas dengan Vino, asistennya.


Ekor matanya menangkap bayangan perempuan yang tak asing di parkiran cafe, namun ia abaikan begitu saja mengingat Suci juga telah meninggalkan cafe itu.

__ADS_1


***


Di sisi lain...


"Mbak tahu adri mana saya bekerja di cafe itu?" Tanya Suci, ia tengah berada di mobil milik wanita yang menjemputnya yang katanya tetangganya di komplek, padahal seingat Suci ia tak pernah melhat wanita itu ada di sekitaran komplek. Namun ia abaikan karena mungkin saja selama ia tinggal bersama Arga, ia tak mengetahui dengan detail tetangga yang baru datang atau dekat dengan ummi dan abinya. Dan kabar yang di bawa wanita tersebut sangat membuat Suci cemas dan mengesampingkan hal hal yang janggal menurutnya.


"Panggil aku Vivi Suci, nanti kita bahas itu. Yang penting sekarang kita harus segera ke rumah sakit. Ummi sedang menunggu mu".


Suci mengangguk membenarkan, yang terpenting sekarang ia harus segera melihat keadaan umminya yang katanya kembali terjatuh dari tangga dan di larikan ke rumah sakit.


"Ini, minumlah dulu, biar kamu sedikit tenang. Jangan cemas, kita akan segera sampai".


"Sama sama, kalau kamu lelah, tidur saja dulu. Nanti setelah kita sampai aku bangunkan kamu. Sepertinya kamu sangat lelah". Vivi tersenyum titpis, menoleh sekilas pada Suci kemudian kembali fokus menyetir.


"Terima kasih mbak, aku memang sangat lelah. Pekerjaan ku banyak". Suci menyandarkan punggungnya pada sandaran jok, kemudian memejamkan matanya untuk sejenak beristirahat sebelum sampai ke rumah sakit.

__ADS_1


Musik yang mengalun pelan di dalam mobil semakin membuatnya nyaman, terbuai kemudian terlelap, Suci tertidur pulas.


Senyum seringai terukir di bibir perempuan berambut pendek itu.


***


Arga berjalan tergesa memasuki kantor, namun langkahnya terhenti saat ia mengingat sesuatu.


"Oh ****!!!" Umpatnya


Arga berlari, kembali keluar dari kantornya menuju mobil yang baru saja terparkir di parkiran khusus para peringgi perusaan.


Arga mulai panik, tangannya merogoh saku celana dimana ponselnya tersimpan disana, mencari kontak Vino yang mendadak menghilang di saat ia tengah panik seperti ini.


"Vin, kamu ke rumah istriku sekarang. Cari tahu apa dia sudah sampai rumah atau belum. Cepetan Vin!!!"

__ADS_1


Kalimat yang terucap dari Arga setelah sambungan telponnya tersambung dengan Vino. Tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan dari Vino, Arga menutup sambungan telponnya.


Mobil Arga melesat meninggalkan gedung perusahaannya dengan kecepatan tinggi, meski ia harus menerima berbagai umpatan dari pengendara lain karena ugal ugalan, yang terpenting baginya sekarang adalah memastikan keselamatan istrinya.


__ADS_2