
BRAK
Sebuah surat kabar melayang di atas meja setelah sang empunya melemparkannya.
"Apa ini Arga? apa yang kamu lakukan pada gadis itu??!!". Tara, pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya itu terlihat menahan amarah, dengan mata memerah dan rahang mengeras menatap tajam sang putra yang duduk di seberangnya, terhalang meja kaca yang menjadi tempat lemparan surat kabar yang baru saja ia baca.
Sesaat setelah menyelesaikan sarapannya, Tuan Tara menerima kabar dari asisten pribadinya jika ada berita tentang putranya di halaman depan surat kabar pagi ini. Tak tanggung-tanggung, berita itu menyuguhkan tentang scandal yang Arga lakukan malam itu.
Arga hanya menunduk, tak berani menyanggah ataupun mengelak karena itulah kenyataannya, kejadian beruntun yang menimpanya membuat ia mengerti, jika ada seseorang yang dengan sengaja menciptakan scandal besar ini, dan Arga berhasil masuk kedalam perangkapnya.
"Papa gak ngerti sama kamu Arga, yang papa tahu, papa dan mama mendidik kamu sebaik mungkin, tapi lihatlah sekarang? Kamu menghancurkan semuanya". Tuan Tara melemah, ia menunduk sedih. Tak menyangka jika putranya akan menghancurkan hidup seorang gadis, dan imbasnya, nama keluarga pun tercoreng karena scandal itu, saham perusahaan terancam anjlok jika seluruh pemegang saham tahu apa yang terjadi.
"Maafkan Arga pa, Arga gak sadar. Arga dalam pengaruh obat".
Tuan Tara menatap tajam putranya, kekecewaan, kemarahan, terpancar dalam sorot mata pria tua itu. "Apa maksud kamu Arga? Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat-obatan hah??". Tuan Tara memegang dadanya yang terasa nyeri, menahan emosi bukanlah perkara mudah. Jika tak meredamnya, mungkin saja Arga telah babak belur di tangannya.
"Mas, tahan emosi mu. Jangan sampai mengganggu kesehatan mu". Nyonya Tara, yang sedari tadi hanya diam seraya menangis kini mulai khawatir melihat sang suami yang terlihat sesak seraya meremas dadanya.
Orang tua mana yang tak kecewa jika putranyamelakukwn perbuatan bejat seperti itu? Putra yang di gadang-gadang menjadi penerus kerajaan bisnisnya, menjadi harapan satu-satunya kini menghancurkan segalanya.
"Arga di jebak pa". Arga mulai menceritakan semua kejadian di malam itu, dari mulai makan malam bersama rekan bisnisnya, hingga ia kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang saat itu sang papa butuhkan. Dan terjadilah kejadian memalukan itu.
Tuan Tara memejamkan matanya, mencoba menerima penjelasan dari putranya. Kesuksesan yang mereka raih membuat segelintir orang merasa iri dan mencari celah kesalahan mereka untuk meruntuhkan pondasi usaha yang telah mereka bangun dari nol dan kini mencapai puncak kesuksesan ketika Arga mengambil alih menjadi CEO menggantikan tuan Tara.
Nyonya Tara mengusap lengan suaminya, mencoba menenangkan pria yang tengah berperang dengan emosinya itu.
Arga menundukan wajahnya, tak berani menatap mata tajam sang papa yang biasanya terlihat teduh, namun kini pancaran kekecewaan terlihat jelas di sana.
"Nikahi dia Arga, bertanggung jawablah atas apa yang ku perbuat padanya. Kamu menghancurkan hidupnya".
Arga mengangkat kepalanya, menatap sang papa dengan penuh harap, agar papanya tak menghukumnya dengan harus menikahi gadis yang sama sekali tak di kenalnya. "Papa gak bisa lakukan itu pa, Arga tidak mengenalnya. Bagaimana mungkin Arga menikahinya?".
__ADS_1
"Lalu bagaiman kamu melakukan itu padanya Arga? Sementara kamu juga tidak mengenalnya??". Sentak tuan Arga.
"Bisa saja dia gadis kiriman yang sengaja di siapkan untuk penjebakan itu pa". Arga masih mengelak, menutupi kesalahan dengan menyudutkan orang lain yang sama sekali tak bersalah.
"Lihat penampilannya Arga, dia muslimah berhijab. Mana mungkin perempuan itu selicik itu. Jangan mencari pembenaran atas perbuatan kamu Arga."
Arga terdiam, sudut hatinya yang lain membenarkan ucapan papanya, apalagi ia tahu betul jika gadis itu masih perawan saat ia sentuh.
"Nikahi dia nak, mama juga seorang perempuan. Mama bisa merasakan apa yang dia rasakan. Lihatlah mama, apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi pada mama??". Nyonya Tara menangis, amat kecewa dengan yang putranya lakukan.
"Mama, kenapa mama berbicara seperti itu?!".
"Jika kamu menyayangi mama, mama mohon nikahi dia. Bertanggung jawablah padanya".
Arga masih diam bergeming, menunduk menatap lantai yang ia pijak. Helaan nafas gusar terdengar beberapa kali dari bibirnya.
"Siapa dia Arga? Kenapa dia berada di kantormu?". Setelah sedikit tenang, tuan Tara kembali menatap putranya.
"Dia salah satu OB di kantor pa".
"Maafkan Arga pa, Arga tidak...."
"Permisi tuan". Vino muncul menghentikan sidang rawan yang tengah keluarga itu lakukan. Dan Arga mengutuk itu, Vino muncul di saat yang tidak tepat, Arga yakin vino akan melaporkan hasil dari pekerjaan yang Arga perintahkan.
"Vino, kamu tahu apa yang terjadi?". Tanya tuan Tara, Vino menoleh pada Arga yang tampak menatapnya dengan tajam.
"Jawab Vino, jangan menyembunyikan apapun lagi dari ku!!". Teriak tuan Tara.
Vino tersentak kaget, selama ia bekerja pada Arga dan keluarganya, baru kali ini ia melihat tuan Tara semarah itu, dan itu sangat menakutkan. Vino reflek mengangguk, tak perduli dengan Arga yang kini tampak menunduk pasrah.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari anda".
__ADS_1
"Kalian berdua sama saja, jika itu tidak muncul di surat kabar, aku tidak akan pernah tahu kelakuannya karena kalian menyembunyikannya dari ku".
"Maafkan saya tuan."
"Bantu dia untuk mengurus pernikahannya Vino, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Pinta tuan Vino.
"Tapi pa, aku sudah menyuruh Vino memberikan gadis itu uang".
"Dan dia menolaknya tuan muda". Sanggah Vino.
Tuan Tara dan nyonya Tara membulatkan matanya, tak menyangka jika putranya akan bertanggung jawab dengan cara merendahkan orang lain.
Nyonya Tara beranjak, menghampiri sang putra yang juga berdiri menghampiri sang mama.
"Mama, Arga hanya..."
Plak
Satu tamparan mendarat mulus di pipi sebelah kanan Arga, dengan bergetar nyonya Tara menurunkan kembali tangannya. Wanita itu terisak, merasa sangat kecewa dengan apa yang di lakukan putranya.
"Apa yang salah dari kami nak? Apa mama salah mendidik kamu? Sehingga kamu seperti ini? Kamu melakukan kesalahan yang sangat besar, dan menumpuk kesalahan itu dengan kesalahan yang lain. Kenapa kamu tidak menghargai perempuan nak? Kamu mengukur kehormatannya dengan sejumlah uang? Ya Tuhan nak, mama bisa membayangkan betapa hancurnya gadis itu, kehormatannya kamu rampas, dan harga dirinya ku injak-injak dengan cara membayarnya?? Mama benar-benar kecewa sama kamu. Nak, kesucian seorang gadis adalah segalanya bagi dirinya, kebanggaannya yang kelak bisa ia berikan pada pria yang halal baginya, dan kamu rampas paksa lalu kamu membayarnya begitu saja. Pikirkan jika mama mu ini yang mengalaminya, mama benar-benar tidak menyangka kamu bisa melakukan itu".
Nyonya Tara beranjak meningglkan ruangan itu, hatinya sakit mengetahui sang putra menghancurkan kehidupan orang lain, dan kini lebih sakit lagi karena mendapati putranya menghargai kesucian seorang gadis dengan sejumlah uang.
"Mama tunggu ma, maafkan Arga ma. Mama tolong ampuni Arga". Arga berlari mengejar sang mama, meraih tangannya lalu bersimpuh di hadapan wanita yang telah melahirkannya itu. Selama dua puluh enam tahun ia hidup, tak pernah mamanya semarah ini sampai memberikan tamparan di pipinya. Itu artinya tingkat kekecewaan wanita itu sangatlah dalam, berada di level puncak hingga wanita itu menyalurkan kekecewaannya lewat tamparan.
"Minta maaflah pada gadis itu, bertanggung jawablah atas perbuatan kamu. Baru mama akan memaafkan mu Arga."
Nyonya Tara kembali melangkah, menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Meninggalkan Arga yang masih bersimpuh dan setetes air bening menetes tanpa ia sadari. Arga mengusapnya, menatapnya dengan penuh penyesalan. Sakit rasanya mendapatkan kekecewaan dari wanita yang paling di sayanginya. Karena perbuatannya semua jadi kacau, kecewa berujung rasa sakit yang bukan hanya kedua orang tuanya saja yang merasakannya, tapi juga dirinya.
__ADS_1
KASIH VOTE LEWAT KOMENTAR DONG, YANG MANA YANG COCOK JADI BABANG YUSUF ARGANTARA....🙏🙏🙏