PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
SEDERHANA NAMUN SPECIAL


__ADS_3

Kesibukan di rumah sederhana Suci malam itu terasa sangat membahagiakan bagi ummi dan abi. Ketika Suci dan Arga memutuskan untuk bermalam di sana, ummi dan abi sangat bahagia, mereka merencanakan menghabiskan malam dengan melepas rindu dan berbincang bincang.


Dan disinilah Suci dan ummi sekarang, berkutat di ruangan yang tak begitu luas bertempur dengan peralatan masak memasak. Mereka akan menyiapkan makan malam sederhana dan membuat camilan dan makanan ringan untuk menemani perbincangan mereka malam nanti.


"Ummi senang lihat kamu dan nak Arga kembali bersama nak".


Suci menatap ummi dengan senyum mengembang, ia pun melihat binar bahagia di mata tua wanita yang telah melahirkannya itu. "Aku juga merasasangat lega ummi, aku lega bisa memaafkan mas Arga".


Ummi tersenyum lembut, mengusap lengan Suci dengan tak kalah lembut. "Itulah ajaibnya memaafkan nak, bisa mengusir beban berat yang membuat hidup kita sesak dan resah".


"Iya ummi, sekarang aku mengerti kenapa Allah tak menganjurkan hambanya bertikai lebih dari tiga hari, karena memupuk dendam itu menyesakkan dan menyesatkan. Tidak ada yang salah dengan segala larangan dan aturan Allah, semuanya baik untuk hambanya. Aku sempat merasa sesak dan memikul beban yang sangat berat ketika aku tak memaafkan mas Arga. Dan sekarang beban itu hilang ummi, hidup aku terasa sangat tenang dan langkah ku juga ringan".


"Iya nak, semua orang berhak mendapatkan ampunan dan kesempatan ke dua. Sebesar apapun kesalahannya, biarlah Allah yang mengganjarnya, kita tidak berhak menghakiminya. Allah saja yang maha segalanya bisa mengampuni dosa hambanya, sebesar apapun dosa itu. Lalu, apa hak kita yang hanya manusia biasa merampas hak orang lain untuk mendapatkan maaf dan kesempatan untuk memperbaiki diri".


Suci mengangguk dengan mata berkaca kaca, ia merasa sangat beruntung terlahir dan tumbuh di antara dua manusia yang sangat bijak dan mendidiknya dengan agama yang baik. "Terima kasih ummi, aku beruntung jadi putri abi dan ummi. Ummi dan abi tidak pernah menyudutkan ku atas segala kejadian buruk yang menimpaku".


"Kamu itu putri Ummi dan abi satu satunya, siapa lagi yang kami punya selain kamu, kamu harta paling berharga yang Allah berikan untuk kami nak, mana mungkin ummi dan abi menyudutkan mu atas kesalahan yang tak pernah sengaja kamu lakukan".


Suci menghambur ke dalam dekapan hangat wanita tua yang juga membalas dekapannya. Dari saat Suci mengalami kejadian buruk kehormatannya terenggut, abi dan umminya tidak pernah menyalahkannya atau menyalahkan Arga, mereka hanya mengingatkan dan menguatkan jika yang terjadi pada mereka adalah cobaan berupa musibah. Mereka menjadikan itu pembelajaran untuk supaya bisa lebih sabar dan ikhlas. Menyadari jika tak ada seorang pun yang menginginkan terkena musibah adalah hal yang penting, karena kesadaran itulah yang akan menumbuhkan rasa sabar dan ikhlas.


"Ayo lanjut masak, nanti para pria itu protes karena lapar". Kata ummi.


Suci terkekeh seraya mengangguk. Ia menoleh pada Arga dan abi yang sedang berbincang bincang di ruang televisi, Suci mengembangkan senyumnya ketika mendapati pria yang sangat di cintainya itu tertawa lepas dengan abi. Entah apa yang di bicarakan ke dua pria beda generasi itu, tawa menghiasi wajah berseri mereka.


Ah..betapa hangatnya perasaannya saat ini, apa yang di katakan umminya benar, memaafkan memang ajaib. Hatinya terasa lebih lapang dan tenang, dan yang terpenting, Suci kini tahu jika Arga pun mencintainya. Selalu ada hikmah di balik sebuah ujian dan musibah.

__ADS_1


Setelah semua masakan tersaji di meja makan sederhana, Suci memanggil ke dua pria yang terlihat masih berbincang, entah apa topik perbincangan mereka, hingga mereka tampak asik dan sesekali tertawa.


"Abi, mas, makan malam sudah siap".


Abi dan Arga kompak mengangguk, mereka juga kompak beranjak.


"Ayo nak Arga, kita harus banyak makan, karena tertawa juga ternyata membutuhkan tenaga". Kata Abi, Abi menepuk pundak Arga beberapa kali dan mengajaknya menuju meja makan.


Ini kali pertama Arga makan malam dan menginap di rumah mertuanya, karena sejak menikah sampai mereka sempat terpisah, tak ada kesempatan untuk Arga menginap di sana, pekerjaan menuntutnya untuk selalu sibuk dan waktu bersantai berkurang.


Rumah itu memang sederhana, jauh dari keadaan di rumah mewahnya. Meja makan sederhana, ruangan yang tak terlalu luas, dan makanan yang tersaji pun hanya masakan rumahan biasa, tak seperti di rumahnya yang kerap tersedia berbagai makanan mewah, namun satu hal yang Arga dapat pelajari, meski sederhana tapi mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan, dan hal itulah yang membuat semuanya terasa cukup. Arga banyak belajar dari istri dan mertuanya.


Arga sudah pernah menawarkan untuk pindah ke rumah yang lebih luas, tapi abi dan ummi menolaknya.


"Bukan menolak rezeki, tapi banyak kenangan yang terukir di rumah sederhana ini". Begitulah jawaban sang Abi ketika Arga hendak membelikan mereka rumah yang baru.


"Maaf ya nak Arga, maknannya sederhana, jauh jika di bandingkan di rumah nak Arga". Ummi berucap segan.


"Tidak ummi, Arga belum pernah merasakan masakan rumah selezat ini. Ini sangat luar biasa, Arga suka". Jawab Arga


Suci menatap suaminya dengan kekaguman, hatinya kembali menghangat. Meski bergelimang harta dan menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih muda, Arga bisa menghargai orang lain, Arga adalah sosok pria yang bisa berbaur dengan keadaan lingkungannya, ia bisa menyesuaikan diri bahkan dengan keadaan keluarga Suci yang sangat berbeda jauh dengan keadaannya.


Namun satu kelemahan Arga, ia kerap tak bisa mengontrol emosinya jika sesuatu berjalan tak sesuai dengan aturannya. Satu hal yang sangat Arga benci adalah kebohongan dan penghianatan.


"Mau nambah mas?" Tanya Suci saat melihat piring Arga telah kosong.

__ADS_1


"Boleh??" Tanya balik Arga


"Ya boleh lah mas, mau??"


Arga mengangguk, entah mengapa ia bisa selahap itu, padahal hanya tumis kangkung, tahu goreng, ikan asin, sambal goreng dan lalap. Tapi ia sangat menyukainya.


"Alhamdulillah, ummi senang kalau nak Arga suka".


"Sangat suka ummi, ini benar-benar lezat."


Ummi tersenyum, "Lain kali kamu bisa minta istri mu memasaknya lagi. Karena ini masakan istrimu".


Arga sedikit terkejut, ia menoleh pada Suci yang tampak mengangguk. "Jadi ini kamu yang masak sayang?"


Suci mengangguk malu-malu, panggilan sayang di hadapan ummi dan abinya membuat pipinya merona.


"Kok kamu gak pernah masak ini di rumah?"


"Aku takut kamu gak suka mas, ini cuma masakan kampung". Jawab Suci


"Aku suka banget sayang, lain kali kamu harus memasaknya lagi untuk ku".


"Iya mas, aku pasti akan memasaknya lagi untuk mu. Kalau mama sama papa pulang, aku akan memasak masakan yang special buat kalian".


Arga mengangguk bahagia, sebahagia itu, padahal hanya hal yang sangat sederhana.

__ADS_1


Karena bahagia terkadang tidak membutuhkan kemewahan, hal yang sederhana pun bisa membuat kita bahagia jika kita berada di tengah-tengah orang yang menyayangi kita dengan tulus.


__ADS_2