PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
SEBUAH NASIHAT


__ADS_3

“Suci, apa kamu yakin dengan keputusan kamu? Jangan membuat nak Arga menyesal dengan keputusannya memperjuangkan kamu nak. Kamu akan menjadi perisai untuk suami mu, kamu juga seperti pakaian untuknya, kamu tahu bukan jika pakaian itu berfungsi untuk menghangatkan, menempel dan menutup aurat? Begitupun dengan kamu nak, kamu harus menjadi kekasih yang bisa menghangatkan suamimu, kamu harus menjadi sahabat yang senatiasa menempel pada suamimu saat dia memerlukan tempat untuk berbagi, kamu juga harus menjadi penutup segala keburukannya, bukan berarti menutup kesalahannya dan menutup mata pada keburukannya nak, tapi kamu harus menutup segala permasalahan dalam rumah tangga mu agar semua orang tak mengetahui aib buruk yang tersimpan di dalamnya. Begitu juga sebaliknya”. Abi menatap Arga dengan lekat, “Itu juga berlaku untuk mu nak Arga, abi harap kalian bisa saling mengisi segala kekuranga, saling memuji dan bersyukur pada kelebihan dan saling memaafkan jika salah satu di antara kalian membuat kesalahan. Abi dan ummi doakan, semoaga rumah tangga kalian semakin kokoh, dan di limpahi kasih sayang”. Abi mengusap ujung matanya yang berair, ia bahagia melihat Suci dan Arga bersatu kembali, meski berulang kali Arga menyakiti Suci, tapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya.


“Terima kasih abi, ummi”. Arga terisak, ia bahagia dan banyak belajar dari kesabaran, keikhlasan dan kelapangan hati keluarga Suci yang sederhana. Ia merasa malu pada kebaikan keluarga Suci, ia kerap kali sombong dengan merasa dirinyalah yang terbaik, tapi ternyata ia merasa sangat kerdil jika di bandingkan dengan kebaikan hati keluarga istrinya yang jauh di bawahnya baik secara materi dan pendidikan.


Malam semakin larut, di kamar kecil yang lampunya masih menyala, Arga dan Suci tampak duduk di atas ranjang yang ukurannya hanya cukup untuk dua orang dan itupun sangat pas-pasan tidak menyisakan ruang kosong, sepertinya mereka harus tidur dengan berdempetan.


“Maaf ya mas, kasurnya sempit, gak ada AC nya lagi.” Suci menatap Arga segan, ia tahu jika suaminya merasa tidak nyaman. “Kamu tidur di sini aja, aku di bawah.” Suci hendak beranjak mengambil karpet yang akan ia jadikan alas untuk tidur yang berada di lemarinya, namun Arga menahannya.

__ADS_1


“Disini aja sayang, kamu tahu gak?” Arga menjeda ucapannya, terlihat gelengan kepala dari Suci pertanda ia tak tahu. “Baru kali ini aku merasa senang tidur di kasur yang sempit”. Ungkapnya, karena biasanya memang Arga akan marah-marah dan protes pada asistennya jika mendapati tempat yang sempit untuknya tidur jika ia tengah melakukan perjalanan bisnis atau kemana pun itu, nomor satu untuknya adalah kenyamanan tempat tidur, karena hanya di sana lah Arga akan melepas lelah dan penatnya seusai bekerja.


“Kenapa gitu??” Tanya Suci


“Karena tempat ini akan membuat kita tidur berdempetan tanpa jarak. Aku akan memelukmu sepanjang malam”. Arga terkekeh, sedangkan Suci menunduk dengan senyum malu-malunya.


Malam ini adalah malam pertama yang mereka lalui bersama setelah sekian lama berpisah. Karena di rumah Arga, mereka masih tidur terpisah.

__ADS_1


Suci terlihat ragu untuk mengangguk, ia meremas jemarinya yang saling bertaut.


“Kenapa??” Tanya Arga


“Mas, tempatnya sempit. Apa tidak apa-apa??”


Arga terkekeh, ia mencubit ujung hidung mancung Suci dengan gemas. “Memangnya kenapa sayang, aku kan udah bilang kalau aku sangat senang”.

__ADS_1


Suci melirik suaminya yang tampak tersenyum jahil. Ia pun mengangguk pelan.


Arga mengangkat dagu Suci dengan jari telunjuknya, mereka saling bersilang pandang dengan sebuah senyuman terukir manis di wajah berseri keduanya.


__ADS_2