
Deburan ombak menjadi irama dua insan yang tengah saling memandang dalam remang cahaya lampu kamar. Harum semerbak bunga mawar semakin membuat mereka terbuai suasana, tak ada percakapan di antara mereka. Mereka saling diam dengan tatapan mata saling mengunci.
Perlahan, Arga membuka pashmina yang Suci kenakan. Suci menunduk malu saat Arga membuka gelungan rambut panjangnya, terlihat indah dan hitam pekat.
Arga mengusap rambut panjang Suci, menyelipkannya ke belakang telinga perempuan itu. Debaran di jantung keduanya semakin tak terkendali saat Arga mendekatkan wajahnya, pria itu mengecup kening Suci dengan lembut.
Keduanya memejamkan mata, mengatur aliran darah yang terasa memanas naik ke ubun-ubun.
Suci meremas jarinya yang saling bertaut, ia benar-benar gugup.
"Hentikan aku jika kamu mulai tidak nyaman, jangan menahannya, kita akan mencobanya secara bertahap". Bisik Arga.
Suci mengangguk, ia mencoba pasrah saat Arga membaringkannya. Nafas mereka saling bersahutan menerpa wajah masing-masing, Suci memalingkan wajahnya saat Arga mulai membuka kancing atas pakaian Suci, ia malu.
Arga memulainya dengan mengecup seluruh bagian wajah Suci, tak terkecuali bibir ranum perempuan itu.
__ADS_1
Rasanya sangat berbeda dengan ketika mereka melakukannya dulu. Kali ini Arga benar-benar lembut dan membuat Suci nyaman.
Suci meremas sprey saat Arga mulai mencium bibirnya, ia tak memberikan balasan karena ia memang tak pernah melakukan hal itu. Ini hal baru untuknya, dan rasanya....amazing.
"Rileks Suci, jangan tegang". Bisik Arga lagi.
Suci mengangguk, ia mencoba mengimbangi permainan suaminya dengan perlahan membalas ciuman pria itu, Suci melakukan sebisanya dan mengikuti nalurinya.
Saat ini aman, Suci masih nyaman dan tak merasakan takut sama sekali.
Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, tubuhnya mulai beraksi, tubuhnya menolak apa yang Arga lakukan padanya. Bayangan kejadian itu mulai menguasai akal sehatnya, ia memejamkan matanya masih berusaha bertahan, namun saat matanya terpejam ia justru semakin merasa takut.
Arga tersentak kaget saat merasakan tubuh Suci bergetar, perempuan itu menangis terisak. Arga bangkit dari atas tubuh istrinya, ia menutup kembali pakaian atas Suci yang sudah terbuka sepenuhnya. Ia meraih tubuh bergetar itu kemudian ia dekap, Arga tahu Suci masih belum siap melakukannya.
"Maafkan aku Suci, maafkan aku". Lirih Arga.
__ADS_1
Suci membalas dekapan suaminya dengan erat. "Aku yang harusnya minta maaf mas, maaf aku belum siap. Aku masih belum bisa melaksanakan kewajiban ku". Isaknya, tubuhnya terasa lemas, ternyata ia tak sepenuhnya sembuh. Suci masih menolak tubuh suaminya.
"Aku gak akan membuat kamu takut lagi, aku gak mau kamu trauma lagi".
Suci melerai pelukannya, ia menatap Arga dengan penuh rasa bersalah. Suci memberanikan diri mengusap pipi Arga, mata pria itu terlihat memerah. "Maafkan aku, aku janji akan terus berusaha untuk sembuh, aku juga ingin menjadi istri kamu seutuhnya."
Arga menggenggam tangan Suci di pipinya, tangan yang saling menumpuk dan terasa hangat juga lembut. Pria itu tersenyum, kemudian mengecup tangan istrinya. "Kita akan sama-sama berusaha menyembuhkan trauma kamu, aku akan bersabar menunggu mu sampai kamu siap."
"Terima kasih mas, aku benar-benar minta maaf".
Dan malam itu, mereka lewatkan dengan saling mendekap. Arga dengan lembut mengusap puncak kepala Suci yang tertidur di dadanya, hingga perempuan itu benar-benar terlelap ke alam mimpi.
Berbeda dengan Suci yang kini sudah terlelap, Arga justru masih terjaga. Pria itu tenggelam dalam lamunan rasa bersalahnya, ia benar-benar menyesali perbuatannya pada Suci. Ia yang menyebabkan Suci seperti ini, ia juga yang menghancurkan segala impian perempuan itu.
Arga berjanji, ia akan mendaftarkan Suci kuliah di Universitas ternama agar istrinya itu dapat meraih cita-citanya.
__ADS_1