
Hubungan Arga dan Suci semakin membaik, kini mereka semakin dekat dan Suci pun tak terlihat takut lagi pada Arga, Arga selalu menemani kemana pun Suci pergi, jika Arga tak bisa pun ia akan mengutus Vira dan Mira menemani Suci.
Bayangan Rudi berkeliaran bebas masih menjadi momok menakutkan bagi Suci, imbasnya, Arga melarang Suci bekerja atau keluar rumah tanpa pengawasannya.
Pagi ini, kediaman Tara kembali hangat dan ramai karena nyonya Tara dan tuan Tara sudah kembali sejak semalam. Mereka tengah sarapan bersama, Nyonya Tara sangat bahagia melihat perubahan pada hubungan putra dan menantunya, ia berharap cinta akan tumbuh di hati keduanya.
"Arga, apa kalian tidak mau berbulan madu? Jalan-jalan kemana gitu, sejak kalian menikah kan kalian tidak pernah pergi kemana pun".
Arga menoleh pada Suci, namun perempuan itu terlihat menunduk menghindari tatapan Arga. Dan menurut Arga Suci belum siap jika berada di suatu tempat hanya berdua saja dengannya.
"Mama, papa rasa tidak perlu. Arga juga masih banyak kerjaan. Suci pasti belum siap jika harus berdua saja dengan Arga". Jawaban sang papa mewakili keduanya, namun entah mengapa Suci maupun Arga ingin menyanggah pernyataan papanya itu.
"Papa, biarkan mereka yang menjawabnya". Protes mama.
Arga kembali menoleh pada Suci, kali ini Suci terlihat balas menatapnya. Senyum tipis terukir di bibir ranumnya.
"Aku terserah Suci aja ma, pa".
Papa dan Mama menatap Suci, meminta jawaban atas usul yang mama berikan.
"Kalau tidak mengganggu pekerjaan pak Arga, aku gak keberatan ma, pa". Suci menunduk malu atas jawaban yang baru saja terlontar dari bibir manisnya.
Atas sikap baik yang selalu Arga tunjukan pada Suci, Suci pun mulai nyaman dan percaya pada pria itu. Meski rasa cinta itu belum tumbuh, tapi dengan mengakui pernikahan mereka sudah cukup membuktikan jika ke duanya saling menerima status mereka kini.
Arga tersenyum simpul, ia tak menyangka jika Suci akan bersedia pergi berdua saja dengannya. Rasanya senang, seperti ada seekor kupu- kupu yang terbang di perutnya dan menggelitiknya dari dalam sana hingga menimbulkan sensasi luar biasa dan tergambar lewat senyumannya yang semakin melebar.
"Boleh, aku punya waktu kosong tiga hari. Kamu mau jalan-jalan kemana?".
"Yang deket-deket aja, misalnya pantai??". Obrolan mereka semakin intens, melupakan dua orang tua yang tengah senyam senyum menatap interaksi pasangan muda itu.
"Boleh, kita berangkat sore ini yah. Kamu siap-siap aja".
Arga mengkhiri percakapan mereka dengan senyuman tampan, Suci mengangguk semangat. salah satu impiannya adalah pergi ke pantai, karena keterbatasan ekonomi membuatnya harus mengubur keinginannya itu, dan kini Arga mengabulkannya, rasanya ia sangat bahagia.
__ADS_1
Arga memutuskan untuk tak pergi ke kantornya, ia menyerahkan pekerjaannya pada Vino dan sekretarisnya.
"Aku titip kantor ya Vin. Tiga hari ini aku mau menemani istri ku ke pantai". Arga menjelaskan tanpa Vino minta, Arga seperti anak kecil yang baru mendapatkan uang jajan, tingkahnya girang dan aneh.
Di seberang sana, Vino menahan senyumnya. Baru kali ini Arga bertingkah seperti itu, dan ini karena Suci. Sebagai orang yang terbilang dekat dengan Arga, Vino ikut bahagia akan perkembangan pernikahan tuan mudanya.
"Baik tuan muda, selamat bersenang-senang". Jawab Vino.
"Hey, aku hanya menemaninya, apa maksudmu dengan bersenang-senang. Jangan berfikir macam-macam kamu". Arga terdengan sewot.
Bukannya takut, Vino justru tertawa, "Maaf tuan muda, saya keceplosan tertawa".
"Ah sudahlah, kamu ini, sapu tuh fikiran kamu pakai sapu lidi biar bersih gak ngeres terus!!".
Arga menutup sambungan telponnya, ia menggerutu pada ponsel yang terlihat masih menyala menampilkan durasi bicaranya dengan Vino. "Dasar somplak, bisa-bisanya menggoda bosnya sendiri".
Pintu kamar terdengar di ketuk, suara Suci mengiringi suara ketukan itu. "Assalamualaikum pak, apa pak Arga di dalam?."
"Ya, Suci. Masuk aja".
Suci membuka pintu, ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu. "Apa aku mengganggu. Aku mau menyiapkan keperluan kamu untuk tiga hari ke depan".
"Gak ganggu kok, masuk aja."
Suci mengangguk seraya tersenyum manis, senyuman yang entah mengapa terlihat berbeda bagi Arga, membuat dadanya berdesir dan salah tingkah. Arga sering melihat senyuman itu, tapi kali ini terlihat lebih manis menurutnya.
"Aku ke ruang ganti yah, pak Arga mau bawa baju berapa?".
"Gak usah banyak-banyak, lagian cuma tiga hari kan?".
Suci mengangguk, ia hendak kembali melangkah, namun ucapan Arga kembali membuat langkahnya terhenti.
"Satu lagi Suci, jangan panggil aku PAK lagi, aku kurang nyaman mendengarnya."
__ADS_1
Suci mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasa aneh dengan perkataan Arga. "Terus aku harus panggil apa? Kemaren-kemaren kamu gak masalah kan aku panggil PAK? Kenapa sekarang mendadak gak nyaman?".
"Jangan banyak bertanya, turuti saja apa yang aku katakan".
"Tapi aku bingung harus memanggil apa".
"Terserah kamu, yang pasti aku bukan bapak kamu ataupun bos kamu lagi. Aku suami kamu".
Ketegasan suara Arga membuat Suci mengangguk, meski ia masih bingung harus menyematkan panggilan apa pada pria itu.
Suci kembali melangkah, ia menyibukkan dirinya dengan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk Arga kenakan nanti, meski kenyataannya pria itu selalu terlihat cocok dan tampan saat memakai pakaian seperti apapun.
Sementara Arga, ia masih termenung dengan permintaan konyolnya pada Suci, tapi jujur saja ia memang tak nyaman ketika Suci masih memanggilnya dengan sebutan PAK. Di tengah lamunannya, suara Suci kembali membuatnya tersadar.
"Pak, tolong aku, apa bisa kamu mengambilkan koper itu".
"Ah, ya sebentar".
Arga mengekori Suci memasuki ruang ganti. Ia sedikit berjinjit untuk mengambil koper yang terletak di atas salah satu lemarinya.
"Ada lagi??". tanya Arga.
"Apa ini cukup? Atau kamu mau menggantinya sesuai apa yang kamu inginkan?". Suci menunjukan tumpukan baju Arga yang telah ia pisahkan.
"Itu sudah cukup, dan aku pasti menyukai apapun yang kamu siapkan".
"Tapi aku belum menyiapkan...eemm..itu..." Suci menunduk menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, sementara sebelah tangannya yang lain menunjuk bagian rak tempat pakaian dalam Arga tersimpan rapi. Karena meski setiap harinya Suci menyiapkan pakaian kerja untuk Arga, tapi ia selalu melewatkan bagian itu.
Arga mengerti, pria itu ikut menunduk dengan wajah memerah malu. "Itu bagian ku, kamu bisa pergi setelah menyiapkan ini".
Suci mengangguk-anggukan kepalanya. Ia memasukan pakaian Arga ke dalam koper, kemudian terburu-buru keluar dari kamar itu. "A..aku keluar dulu, aku akan menyiapkan keperluanku".
Arga mengangguk, membiarkan Suci keluar dari kamarnya. Perempuan itu membuat kinerja jantungnya bekerja tidak benar dan membuat suhu di ruangan itu terasa panas.
__ADS_1