
Mereka memasuki rumah beriringan. Sampa di ruang tamu, Suci menahan langkah Arga untuk menaiki anak tangga. “Mas, aku mau bicara”.
Arga menjawab meski tanpa menoleh sedikitpun. “Tidurlah, kamu pasti lelah”.
__ADS_1
“Tidak mas, banyak yang harus aku jelaskan pada mu.”
“Tidak perlu menjelaskan apapun, aku mengijinkan mu pergi kemana pun atau dengan siapapun itu asal hal itu membuat mu bahagia, tapi aku harap lain kali kamu memberikan ku kabar agar aku tidak mencemaskan mu”.
__ADS_1
Arga menghela nafas dalam, memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya berbalik dan duduk di sofa ruang tamu terlebih dahulu dan di ikuti Suci di belakangnya.
Suci duduk di sebelah Arga, meraih kedua tangan pria itu kemudian ia genggam. “Mas, pertama aku mau minta maaf, aku pulang selarut ini. Aku tadi pergi untuk menenangkan diriku, awalnya aku marah mas, aku kecewa saat kamu terkesan sama sekali tidak menahan ku dan mempertahankan aku, kamu malah menyuruhku pergi dengan mas Justin padahal kamu tahu aku sangat mencintai kamu. Tapi kemudian aku sadar mah, jika aku menempatkan diriku di posisi mu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama tapi sebelumnya aku akan bertanya dulu pada mu apa aku bahgia bersama mu atau tidak. Dan kamu tidak menanyakan itu pada ku, aku kecewa. Aku marah. Tapi aku tidak mau lagi hidup terpisah dengan mu dengan sebuah penyesalan yang akan aku tanggung seumur hidup ku. Aku tidak mau lagi jauh dari mu, aku sungguh tersiksa mas. Mas Justin itu Cuma masa lalu ku, dan kamu masa sekarang dan masa depan ku. Hubungan ku dengan mas Justin dulu, tidak seperti hubungan pasangan kekasih pada umumnya mas, saat itu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya saat dia mencoba mengakhiri hidupnya karena sebuah permasalahan di masa lalunya. Aku membujuknya untuk mengurungkan niatnya, aku mencoba berkomunikasi dengannya hingga akhirnya ia tersadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Kami sering beetemu karena pada saat itu mas Justin ingin mendekatkan dirinya pada allah, dari mulai belajar Sholat, mengaji dan mendengarkan pencerahan lainnya di tempat pengajian yang biasanya aku datangi. Mas Justin mulai bangkit, dan seiring berjalannya waktu, kami cukup sering bertemu. Bukan bertemu untuk memadu kasih seperti orang lain, tapi untuk mendiskusikan apapun yang berhubungan dengan ilmu agama.”
__ADS_1
Suci mengehela nafas dalam, kemudian melanjutkan ucapannya. “Saat itu, niat ku tulus karena allah, ingin membuatnya kembali ke jalan Allah dan membuatnya kembali bangkit dari luka di masa lalunya. Dan maaf mas, aku tidak bisa menceritakan pada mu apa permasalahan yang dia hadapi dulu, kerena itu bukan ranahku. Ustad di tempat kami mengaji menyarankan kami untuk menikah, agar jika kami berjalan berdua tidak menimbulkan dosa dan fitnah, saat itu aku menolak, karena aku pun tahu jika mas Justin masih terikat dengan masa lalunya. Tapi siapa sangaka Justu dialah yang ingin mengkhitbah ku dan menerima saran dari ustad kami. Awalnya aku terkejut, aku menolak. Tapi mas Justin berhasil meyakinkan ku jika dia sudah melupakan masa lalunya dan mulai jatuh cinta pada ku. Mungkin karena seringnya kami bertemu, atau apapun itu aku tidak tahu alasan apa dia mencintai ku. Walau aku ragu, atas saran dari umi dan abi juga ustad yang menjadi guru kami, maka aku menerima lamarannya.