
Suci berjalan cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang tak terlalu ramai, tujuannya saat ini adalah ingin segera keluar dan pergi dari sana.
Setelah berhasil keluar dari dalam rumah sakit, Suci menghampiri mang Ujang yang tampak tengah berdiri di dekat mobilnya. “Mang, mang Ujang tunggu disini sebentar yah, tunggu mas Arga keluar dan tolong kasih bekal makan siang untuknya”.
“Baik nyonya, tapi nyonya mau kemana?”
“Saya pulang duluan ya mang, mang Ujang tunggu mas Arga keluar dulu”.
“Iya nyonya, nyonya hati-hati. Apa gak sebaiknya saya antar saja nyonya? Saya takut tuan marah”. Mang Ujang bertanya, raut cemas tergambar jelas di wajah tuanya.
“Suami saya gak akan marah mang, mang Ujang tenag saja. Tolong kasih bekal itu ya mang. Saya pulang duluan”.
Pria berumur itu mengangguk pasrah, banyak pertanyaan dalam benaknya, seperti mengapa nyonya-nya itu tidak memberikan sendiri saja bekal makanannya? Tapi posisinya tidak cukup berani dan berhak menanyakan hal itu pada Nonya-nya, selain hanya mengangguk menurut, ia tak punya pilihan lagi.
Disisi lain, Arga baru saja beranjak setelah berpamitan pada Clara. Ia menoleh saat seseorang memanggil namanya. Wisnu tampak menghampirinya setelah Arga menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Gue kira tadi Suci sendirian disini, taunya sama lo??”
Arga mengernyit, “Suci?? Dia disini??”
“Lah, kok malah nanya? Tadi gue mau panggil dia, tapi dia jalan buru-buru keluar, jadi gak sempet gue cegah”.
“Ya Tuhan, dia bisa salah faham..” Gumam Arga
Tapi Wisnu mendengarnya dengan jelas. “Jangan bilang lo abis ketemu Clara dan Suci mergokin lo? Astaga Ga, dia bisa salah faham. Lagian kalian tuh ada apalagi sih? Bukannya udah selesai? Kenapa mesti ketemu diem-diem??” Wisnu mengomel, ia tahu tentang kisah Arga dan Clara. Mereka bertiga sahabatan sejak dulu, dan Wisnu adalah salah satu orang yang menjadi saksi kisah cinta Arga dengan Clara.
“Ini semua juga gara-gara lo Nu..”
“Kenapa lo harus bawa gue sama Suci ketemu Clara kemarin?”
“Gue kira lo udah tau Clara dokter obgyn terbaik disini, dan gue kira juga lo sama Clara udah pernah ketemu.”
__ADS_1
“Enggak Nu, gue baru tahu kemarin. Dan gue kesini juga Cuma mau menyelesaikan semuanya dan meminta maaf sama Clara”.
“Lo harus kejar Suci Ga, mungkin dia masih belum jauh”.
“Lo bener, kenapa gue malah ngobrol sama lo, siaall”.
Arga berlari menuju ke luar rumah sakit, meninggalkan Wisnu yang geleng-geleng kepala menyayangkan atas tindakan Arga.
Arga menuju parkiran rumah sakit, hendak menuju ke mobilnya dan mencari Suci, tapi langkahnya sedikit melamban saat mendapati mang Ujang disana. Arga pikir Suci juga masih berada disana, Arga sedikit lega, ia menghampiri mang Ujang yang tengah menenteng paper bag yang tadi di tinggalkan Suci dan di perintahkan Suci untuk di berikan pada Arga.
“Tuan…” Sapa mang Ujang, ia sedikit membungkukan badannya untuk menghormati tuannya.
“Mang Ujang. Dimana istri saya?”
“Itu tuan, Nyonya sudah pulang lebih dulu. Dan ini..” Mang Ujang menyodorkan paper bag coklat itu pada Arga, yang langsung di sambut Arga dengan tangannya. “Ini bekal makan siang dari Nyonya untuk tuan”.
__ADS_1
Arga terpaku menatap paper bag di tangannya, “kenapa kalian bisa di sini?”
“Tadi saya dan nyonya mau ke perusahaan tuan untuk mengantar makan siang itu, tapi tanpa sengaja nyonya melihat mobil tuan keluar area perusahaan, dan nyonya meminta saya mengikuti mobil tuan, maafkan saya tuan”. Mang Ujang menunduk takut, ia takut menghadapi kemarahan Arga, tapi ia memang di posisi yang serba salah. Bagai buah simalakama dan kanan jurang kiri jurang. Menuruti perintah Suci memang tugasnya, tapi mengikuti Arga secara diam-diam juga salah.