
Matahari semakin naik, hawa panas mulai terasa menyengat. Angin di sisian pantai pun mulai menggebu, Arga mengajak Suci untuk kembali ke hotel sebelum sore nanti mereka akan kembali berjalan-jalan menikmati matahari tenggelam di pinggir pantai. Atau lebih dikenal dengan sunset.
“Udah mulai panas, kita ke kamar aja ya sayang. Nanti sore kita ke sini lagi”. Kata Arga.
Suci menganggukan kepalanya, ia meraih tangan Arga yang terulur karena pria itu sudah beranjak lebih dulu. Ia membersihkan pasir yang menempel di roknya, kemudian melepaskan kacamata milik Arga yang masih bertengger di matanya.
“Kok di lepas?” Tanya Arga.
“Aku gk PD mas, malu”.
“Malu kenapa sih? Padahal kamu cantik pakai itu”.
Suci tetap mengembalikan kacamata itu pada Arga, dan Arga pun mengambilnya lalu memakainya sendiri. “Gak PD mas”.
“Nanti aku beliin yang bagus buat kamu, lain kali kita belanja bareng ya sayang”.
“nanti uang kamu abis loh”. Canda Suci.
“Gak bakal, suamimu ini kayaraya, apa kamu lupa? Lagian kalau uang aku abis pakai ngebahagiain kamu gak masalah buat aku, itu kan tugas aku”.
Suci tertawa gemas, “Iya iya orang kayaaaaa”.
Arga pun ikut tertawa, ia mencubit pipi Suci dengan gemas. “Malah ngeledek suaminya”.
Suci melingkarkan kedua tangannya di lengan Arga dengan manja, ia mendongak menatap suaminya yang parasnya tak bosan di pandang itu, hidung mancung pria itu terlihat mendominasi dari pada bagian wajah lainnya.
“ganteng kan aku”. Bisik Arga.
“Ih enggak, biasa aja”.
__ADS_1
“Beneran biasa aja? Akuin aja kenapa sih? Gak usah gengsi sama suami sendiri”.
Suci tersenyum malu, ia memukul lengan suaminya pelan namun juga mengeratkan pegangannya di lengan kokoh itu.
Arga dan Suci memasuki lift, ada empat orang gadis seusianya yang juga memasuki lift yang sama. Mereka tampak tertawa dan berbincang. Terlihat jelas di mata Suci jika para gadis itu mengagumi paras tampan suaminya, dan Suci tidak suka. Bahkan satu di antara mereka dengan berani meminta nomor ponsel suaminya.
“Hai, boleh kenalan gak?” Kata seorang gadis berpakaian seksi dengan rambut sebahu berwarna coklat.
Arga melirik Suci yang tampak biasa saja, pria itu tidak tahu jika Suci sedang mati-matian menampilkan ekspresi biasanya agar rasa cemburunya tak sampai terlihat. Timbul ide konyol di benak Arga untuk menggoda istrinya.
“Tentu boleh”. Jawab Arga.
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Arga, Arga pun melakukan hal yang sama.
“Aku Loly, kamu siapa?”
“Nama yang bagus, manis”.
“Terima kasih”. Jawab Arga.
“Boleh minta nomor ponselnya gak?” Tanya gadis yang lain. Mereka pun bergantian menyalami Arga dan menyebutkan nama masing-masing.
“Mika”
“Puput”
“Risa”.
“Arga”. Jawab Arga.
__ADS_1
Arga mengambil ponsel gadis bernama Mika, mengetikkan nomor di sana. “Itu nomor istri saya, kalau mau telpon ijin sama dia dulu. Tapi siang aja, kalau malam kita gak bisa di ganggu”.
TING
Arga dan Suci hendak keluar setelah pintu lift terbuka, namun sebelum pintu lift tertutup dan mereka benar-benar keluar, Suci kembali menoleh pada empat gadis yang kini terlihat menganga karena terkejut. “Suka sama suami saya ya mbak? Maaf, dia milik saya, kaliat telat.” Suci melirik Arga yang tampak menahan tawanya. “Yuk sayang, aku udah gak tahan gerah, mau mandi bareng sama kamu”. Suci tersenyum sinis pada empat gadis yang kini terlihat semakin menganga kaget, dan meraih tangan Arga dan menariknya untuk pergi dari sana.
Setelah cukup jauh dari lift, Suci melepaskan tangannya dari tangan Arga, namun Arga tak membiarkan itu, ia menggenggam tangan Suci dengan Erat dan sebelah tangannya yang lain mencolek dagu Suci. “Manis banget sih cemburunya”. Kata Arga.
Suci menepis tangan Arga, “Siapa yang cemburu? Aku biasa aja, aku gak suka aja ada cewek kaya gitu”.
“Yaaaah boongnya keliatan, idung kamu panjang kaya pinokio tuh gara-gara gak ngakuin kamu cemburu”.
"Isssh mana ada begitu".
"Jangan marah dong, aku kan cuma milik kamu. Mereka juga gak ada apa-apanya di bandingkan kamu".
"Bohong, kamu suka kan lihat cewek seksi kaya gitu? Siapa itu tadi namanya? Lolipop kan? Kamu mau-mau aja di ajak salaman terus kenalan sama mereka".
Arga menahan senyumnya, "Seksian kamu lah, aku aja tergoda banget kalau kamu lagi gak pakai baju".
Suci terbelalak, ia menutup mulut Arga dengan tangannya, sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk memukul lengan pria itu. "Ihhhh ngomongnya, malu tauuu!!"
Arga menyingkirkan tangan istrinya dari mulutnya, ia tertawa. Arga berhasil menggoda istrinya. "Gemes banget sih, pipinya merah". CUP, Arga mengecup sebelah pipi Suci, membuat wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna, ia semakin malu saat ini.
"Ini tempat umum mas, seenaknya aja main cium-cium. Kalau ada yang lihat gimana?"
"Kalau gitu, biar gak ada yang lihat kita ke kamar aja".
Suci memekik tertahan saat Arga menggenedong tubuh mungilnya, pria itu meminta Suci membuka pintu kamarnya dengan kartu yang berada di saku bagian belakang celananya. Setelah pintu terbuka, Arga menutupnya kembali dengan kakinya, tangannya masih sibuk menggendong tubuh mungil istrinya.
__ADS_1