
Pagi ini Suci tak bersemangat seperti hari kemarin, ia masih sangat merasa bersalah pada suaminya. Meski Arga berkali kali mengatakan jika ia baik baik saja, namun tetap saja Suci merasa tidak enak pada pria itu.
"Kamu mau terus kaya gini? Katanya mau jalan jalan, liat tuh, di bawah seger banget udaranya, pasti air lautnya juga masih seger kalau pagi pagi gini". Arga duduk setengah berbaring di sebelah Suci, mengusap kening Suci dengan ibu jarinya, istrinya itu masih betah bergelung di bawah selimut meski subuh tadi telah mandi dan berganti pakaian.
"Maafin aku ya mas, aku merusak semuanya". Suci menunduk, matanya tampak berkaca kaca. Ia menarik selimut menutupi sebagian wajahnya.
Arga memnghela nafas dalam, ia menyingkirkan rambut yang menghalangi sebelah mata Suci. "Aku kan sudah bilang, kita akan memulainya pelan pelan, aku yakin kamu akan sembuh, kita akan terus mencoba melakukannya lagi. Kamu siap kan? Dan kamu jangan khawatir, aku benar benar baik baik saja. Tujuan kita ke sini bukan hanya itu, tapi aku ingin mengabulkan keinginan kamu, aku ingin membuat mu bahagia Suci".
Suci mengangguk, air matanya tak dapat ia tahan lagi. Ia mengalungkan tangannya di leher Arga, memeluk pria itu dengan erat. "Terima kasih mas, aku sangat bahagia."
Arga terkekeh, ia membalas pelukan Suci. "Kalau bahagia kenapa nangis?".
Suci melepas dekapannya, ia tersenyum meski matanya masih basah. Tangannya masi mengalung di leher Arga.
"Duuh cantiknya istri aku kalau senyum gini". Arga mengusap air mata Suci, kemudian menggigit pipi putih istrinya dengan gemas.
__ADS_1
"Pagi pagi udah gombal".
"Biarin, kan sama istri sendiri. Lain ceritanya kalau aku gombal sama perempuan lain".
"Isshh, awas aja kalau berani, aku bikin hidung kamu jadi pesek loh". Suci menusuk-nusuk hidung mancung suaminya, membuat pria itu terkekeh dan kembali menggigit pipi istrinya.
"Emang berani? Idung aku ituh mancungnya paten, gak bisa di rubah-rubah lagi".
Keduanya tertawa, mereka sama-sama tidak menyangka akan sebahagia ini. Meski keduanya masih belum mengakui perasaan masing-masing, tapi mereka membiarkan semuanya mengalir apa adanya.
Di sepanjang keluar dari dalam kamar dan menuju ke pantai, Arga sama sekali tak membiarkan Suci jauh darinya, ia menggenggam erat jemari istrinya kemana pun ia melangkah.
"Kita sarapan dulu yah sebelum kita ke pantai". Ucap Arga, ia membenarkan pashmina mocca yang istrinya kenakan, kemudian memasangkan kaca matanya pada mata indah perempuan itu. "Cantik". Bisiknya.
Suci menunduk malu seraya memukul pelan dada suaminya. "Jangan gomabalin aku terus, aku malu. Gimana kalau aku sampai pingsan coba?".
__ADS_1
Arga tertawa, ia kembali menggandeng tangan Suci dan mlanjutkan langkahnya. "Emang istri aku cantik kok".
"Iya-iya terima kasih pujiannya suami ku yang tampan". Bisik Suci.
"Cieeee, udah pinter ngerayu, udah pinter ngegombal ni kamu". Arga mencolek dagu istrinya dengan gemas, yang kemudian Suci menyingkirkan jari telunjuk Arga yang masih bertengger di dagunya.
Suasana lobby hotel yang cukup ramai menghentikan percakapan mereka. Keduanya melangkah bergandengan menuju ke Resto yang terletak di hotel itu. Namun Keramaian di sana membuat Suci sedikit tak nyaman. Arga menyadari itu, "Kamu gak nyaman?". Tanya Arga.
Suci mengangguk ragu, "boleh gak kalau kita sarapannya jangan di sini?"
"Boleh lah sayang, yuk keluar, kita nyari yang deket pantai aja yah".
Suci terasa terhipnotis oleh kata SAYANG yang terlontar dari bibir suaminya. Hatinya berbunga-bunga, pipinya tampak merona. Suci berusaha menguasai dirinya, meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa kata sayang itu tidak melulu soal pernyataan perasaan, bisa saja Arga berbicara seperti itu karena Arga memang biasa mengucapkan kata itu. "Jangan percaya diri dulu Suci, kalian menikah bukan karena cinta, tidak mungkin cinta hadir secepat itu di hatinya". batin Suci.
Apapun itu, Suci merasa sangat bahagia. Arga adalah suaminya saat ini, ia berhak memiliki pria itu meski cinta belum hadir di hati keduanya.
__ADS_1