PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
MASIH KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Suci menggelengkan kepalanya, “gak mau mas, aku maunya sekarang aja. Aku mohon mas…”


Arga menghela nafas panjang, ia khawatir karena kondisi Suci masih lemah, tapi ia juga tidak tega melarang istrinya dan mematahkan binar bahagia di sorot mata indah istrinya. Akhirnya Arga memilih mengangguk. “Ya udah, aku mandi dulu, abis itu kita ke rumah sakit”. Arga mengusap puncak kepala istrinya yang tertutup hijab instan berwarna nude itu, kemudian mengecup keningnya dan beranjak menuju ke kamar mandi.


Selepas kepergian Arga ke kamar mandi, Suci kembali meneteskan air mata bahagianya, ia beranjak dari ranjang dan bersujud syukur atas kabar bahagia yang baru saja di dengarnya. “Alhamdulillah Ya Allah, tak hentinya hamba bersyukur atas kebahagiaan dan karunia-mu, atas segumpal daging bernyawa yang Kau titipkan pada rahimku yang menjadi pencapaian terbesar untuk hamba dan suami hamba”.


Perjalanan yang di tempuh dalam waktu Dua puluh menit itu terasa sangat begitu lama bagi Suci, ia sudah tak sabar ingin melihat janinnya. Tiba di lobby Rumah sakit, Arga segera menghubungi Wisnu dan mengabarkan jika ia dan Suci sudah tiba di rumah sakit setelah sebelumnya Arga menghubungi Wisnu dan mengatakan Suci ingin ke rumah sakit saat itu juga. Dan Wisnu mengijinkan juga akan mengantar Arga dan Suci menemui dokter obgyn terbaik di rumah sakit itu.


“Selamat ya Suci, semoga kalian sehat-sehat”. Kalimat pertama yang di lontarkan Wisnu setelah mereka bertemu.


“Terima kasih dokter Wisnu..”


“Panggil saya Wisnu saja..”


Arga mendelik mendengar percakapan Wisnu dan Suci, ia berdecak kemudian meninju lengan Wisnu. “Jangan macem-macem kamu, dia istri ku”. Omelnya


Wisnu memutar bola matanya dengan malas, “aku tahu dia istrimu, kalau dia istriku gak mungkin aku mengucapkan selamat padanya, pasti aku punya cara tersendiri untuk merayakan kebahagiaan kami”. Wisnu melirik sinis Arga yang tengah merangkul pinggang Suci dengan posesif.


“Bucin..” Gumamnya


Arga tak perduli, ia membawa Suci menjauh dari Wisnu yang justri tertawa mengejek. “Kaya tahu aja kamu ruangan obgyn dimana”. Teriak Wisnu


Arga menghentikan langkahnya, ia menatap Suci. “Kamu tahu gak sayang?”

__ADS_1


“Ruang obgyn??” Tanya Suci


Arga mengangguk-anggukan kepalanya.


“Gak tahu mas…”


Arga menepuk dahinya sendiri, kemudian kembali melangkah menghampiri Wisnu yang tampak semakin tertawa mengejek. “Dasar bodoh”. Ejek Wisnu


Arga mendengus kesal, “Cepat jalan, banyak bicara”.


Suci menggelengkan kepalanya melihat sifat kekanakan Arga dan Wisnu, ia hanya diam tak mau terlibat perdebatan yang akan semakin membuat kepalanya pening.


Sampai di ruang obgyn, Arga dan Suci segera masuk menemui dokter. Sedangkan Wisnu kembali bertugas memeriksa para pasien.


"Siang dok..." Jawab Suci, sedangkan Arga, pria itu tampak acuh.


"Mari silahkan berbaring, agar nyonya Suci bisa langsung melihat dedek nya yah.."


Suci mengikuti interupsi dokter, ia berbaring di ranjang rumah sakit yang sangat nyaman, di hadapannya ada layar besar yang akan memperlihatkan hasil USG dan pergerakan bayinya.


Arga tak hentinya mengusap tangan Suci, ia berdiri di sebelah Suci bersebrangan dengan dokter Klara yang meliriknya namun Arga tak menghiaraukannya.


Dokter Klara mulai mengolesi gel bening ke atas permukaaan perut Suci yang masih datar. tangan lembut perempuan cantik itu dengan lihai memegang alat dan bergerak lembut di atas perut istri dari Yusuf Argantara itu.

__ADS_1


Suci tersenyum saat melihat titik kecil di layar besar di hadapannya. Matanya berkaca-kaca penuh haru. Begitupun dengan Arga, pria itu tampak bahagia saat Doktrer Klara mulai menjelaskan perihal kehamilan Suci. Arga bahkan tak segan mengecupi seluruh wajah Suci saat terdengar suara detak jantung dari janinnya.


"Ini janinnya ya nyonya, masih sebesar biji kacang. Dan usianya memasuki enam minggu. Sehat, detak jantungnya normal, perkembangnnya juga bagus nyonya."


"Alahamdulillah ya Allah". Suci tersenyum lembut pada Arga yang tampak mengusap pipinya dengan lembut.


Klara berdehem, kemudian tersenyum pada pasangan di depannya setelah ia kembali menutup pakaian Suci dan mengeprint hasil USGnya.


Suci dan Arga kembali duduk di kursi pasien berhadapan dengan Klara.


"Nyonya, saya resepkan vitamin yah, perbanyak makan makanan sehat dan buah-buahan ya nyonya." Klara menjelaskan, tangannya bergerak membentuk tulisan di atas kertas kecil. Tulisan yang tak di mengerti Suci maupun Arga.


"Terima kasih dokter. kapan saya harus kembali memeriksakan istri saya?" Tanya Arga


"Bulan depan ya tuan, untuk sekarang satu bulan sekali saja. Tapi jika nanti memasuki bulan kelahiran, kita akan melakukan pemeriksaan lebih sering lagi."


Suci dan Arga mengengguk, "Terima kasih dokter".


"Sama-sama tuan, nyonya. Jika ada yang di rasakan, jangan segan hubungi saya. Saya ada dua puluh empat jam.."


"Iya dokter, sekali lagi terima kasih". Suci menyalami dokter cantik berpostur tubuh tinggi bak model itu. Ia melirik pada Arga yang hanya mengangguk dan tak menyalami dokter itu.


Setelah mengurus administrasi dan membeli vitamin yang Klara resepkan, Arga dan Suci kembali pulang. Tak ada perbincangan di antara mereka. Entah mengapa Arga hanya diam saja sejak ia keluar dari ruangan dokter itu. Suci pun enggan bertanya, mungkin Arga hanya lelah, begitu pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2