
Malam yang semakin larut tak menimbulkan rasa kantuk sama sekali pada empat netra yang masih betah duduk di sofa dan saling mendekap hangat.
Setelah Suci meluruskan kesalahfahamannya pada Arga, keduanya tampak enggan saling menjauh meski hawa dingin mulai terasa karena malam menunjukan pukul 24.15 WIB.
“Kamu udah ngantuk??” Tanya Arga, pria itu dengan lembut membelai pipi kiri Suci yang kepalanya tengah menyandar pada bahunya.
Suci mengangguk, “sedikit”. Jawabnya, “Tapi aku masih mau kaya gini”. Lanjutnya lagi.
Arga terkekeh, “di kamar aja yuk. Kamu pasti lelah”.
“Ya, kamu benar mas. Aku sangat lelah”.
Arga lebih dulu beranjak, membuat kepala Suci otomatis menjauh dari bahunya. Kemudian mengulurkan tangannya dan di sambut senang oleh Suci. Mereka menaiki anak tangga dengan tangan yang saling menggenggam.
Sampai di pintu kamar Arga, Suci menahan langkahnya, membuat Arga menoleh dengan sebelah alis terangkat penuh heran. “Kenapa sayang??”
“Kamar ku di sana mas”. Lirihnya
__ADS_1
Arga menghela nafas dalam, kemudian meraih ke dua bahu Suci dan menatap lembut tepat di mata cokelat perempuan itu. “Mulai sekarang, tidurlah kembali di kamar kita sayang. Aku tidak akan sanggup tidur tanpa kamu lagi”.
Suci menggigit bibir bawahnya, membuat Arga menelan ludah dan memalingkan tatapannya dari bibir ranum penuh magnet itu. Dan anggukan dari Suci membuat ia tersenyum lebar.
“Terima kasih sayang”.
“Tapi mas, baju aku masih di kamar sana, aku ambil dulu.”
Arga menahan Suci yang hendak kembali melangkah. “Udah aku pindahin, tinggal kamunya aja yang pindah.”
Suci terkekeh, “niat banget kamu mas”.
Keduanya memasuki kamar beriringan, Suci ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sementara Arga memilih menunggu Suci dengan duduk di atas ranjang dan menyalakan televisi untuk mengusir bosan.
Arga menutup bibirnya dengan sebelah tangannya saat ia menguap lebar, Arga melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, waktu begitu lambat di rasakan Arga saat ini. Dan Suci tak kunjung keluar dari dalam sana, ia sangat merindukan Suci, ingin menyalurkan rasa rindunya dengan perempuan itu tapi sepertinya Suci masih lama di dalam sana. Hingga tanpa terasa kantuknya datang, Arga merebahkan dirinya, sesekali mata sayunya menatap ke arah kamar mandi, dan akhirnya ia tertidur membawa serta rasa rindunya yang belum tersalurkan pada istrinya.
CEKLEK
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, Suci menyembul dari dalam sana dengan menggosok rambutnya yang basah. Bibirnya yang ranum mengulas senyum tipis saat melihat Arga sudah memejamkan matanya, “dia pasti lelah mengkhawatirkan aku”. Gumamnya
Setelah mengeringkan rambutnya, Suci menyimpan kembali handuknya ke kamar mandi, kemudian ikut merebahkan diri di samping Arga dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Arga terbatuk dalam tidurnya, kerongkongannya terasa kering. Ia mendudukan dirinya dan mencari gelas di atas nakas. Bibirnya berdecak saat mendapati gelas itu kosong, sepertinya pelayannya lupa mengisi kembali airnya karena mereka pun ikut mengkhawatirkan Suci yang belum pulang hingga larut malam.
Ngomong-ngomong tentang Suci, Arga baru ingat jika saat ini Suci berada di dekatnya. Arga mengulas senyum tipis, semuanya terasa mimpi ketika Suci memaafkannya dan mau kembali lagi padanya, memberikannya kesempatan ke dua dan kembali memulai semuanya dari awal. Lagi-lagi di balik sebuah musibah ada hikmah yang bisa ia ambil, dan ia sangat bahagia saat ini. Meski jika teringat kembali dengan kesalahannya, rasanya ia ingin menampar dirinya sendiri untuk mengurangi rasa bersalahnya, tapi ia akan tampak seperti orang gila.
Arga menurunkan dua kakinya ke atas lantai, bergerak dengan hati-hati agar ia tak mengganggu istrinya yang terlelap sangat damai. Namun di luar dugaannya, Suci terlonjak kaget saat ada pergerakan di sampingnya, nafasnya naik turun dan tersengal di tenggorokan. Tremor di tangannya menandakan jika Suci benar-benar kaget bercamput takut.
"sayang, kenapa?? Maaf akalau aku membangunkan mu". Arga mengusap keringat dingin yang tiba tiba saja mengalir dari dahi istrinya.
"Enggk mas, aku yang minta maaf mengagetkan mu, maafkan aku. Aku memang selalu merasakan kaget yang berlebihan setelah kejadian itu".
"Ya tuhan sayang...kenapa kamu selalu mengalami hal buruk". Arga membawa Suci ke dalam dekapannya, mengusap puncak kepalanya dengan lembut. "Aku ambilkan air minum buat kamu ya sayang, tunggu sebentar".
Suci mengangguk, membiarkan Arga meninggalkan kamar untuk mengambilkannya air minum, karena saat ini Suci memang merasa sangat membutuhkan air untuk sedikit menenangkannya.
__ADS_1
Kejadian demi kejadian buruk yang menimpanya tak satu pun bisa di tangani Suci dengan mudah, setiap kejadian buruk itu menyisakan luka fisik dan psikis dalam dirinya. Suci harus berusaha keras memerangi dirinya sendiri dan berusaha keras untuk keluar dari zona mengerikan yang tercipta dari kejadian mengerikan yang di alaminya. Suci selalu berusaha mengalihkan fikirannya dari kejadian buruk itu dengan hal lain yang akan membuatnya tenang dan bahagia. Salah satunya dengan memperbanyak dzikir dan mengaji. Dan hal lainnya adalah Arga, kebahagiaan Suci ada pada Arga, pria itu mampu membuatnya tenang dan nyaman juga merasa aman dalam waktu bersamaan.