PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
SEBUAH FOTO


__ADS_3

Hari ini menjadi hari yang paling bahagia bagi Suci dan Arga. Mereka mengabari kedua orang tua mereka dengan sumringah.


Nyonya Tara dan tuan Tara bahkan langsung terbang ke tanah air untuk menyelamati Suci dan Arga. Begitu juga dengan ummi dan Abi, mereka akan datang bersamaan dengan kedatangan nyonya Tara dan tuan Tara.


Namun satu hal yang mengganjal pikiran Suci, sejak kembali dari rumah sakit, suaminya itu tak banyak bicara, cenderung diam saja dan kini Arga tak keluar dari ruang kerjanya sejak dua jam yang lalu.


Suci serba salah, ia ingin menghampiri Arga di ruang kerjanya tapi Suci terlalu takut membuat pria itu marah.


Pintu kamar Suci terdengar di ketuk seseorang, Suci beranjak dari ranjang dan membuka daun pintu di depannya. Bi Sumi, salah satu pelayan di rumah Arga tampak tersenyum segan.


"Iya Bi..."


"Maaf nyonya, makan malam sudah siap".


"Ah iya, saya dan mas Arga sebentar lagi turun".


"Baik nyonya, saya permisi".


Suci mengangguk, ia sedikit bernafas lega, akhirnya ada alasan yang membuat Suci harus menghampiri Arga dan melihat keadaan suaminya, rasa khawatir pun tak bisa Suci hindari saat sikap Arga tak seperti biasanya.


Suci menghampiri salah satu pintu yang terdapat di kamarnya, pintu yang menghubungkan antara kamar dan ruang kerja Arga. Pintu itu terletak di sebelah kanan ranjang di samping pintu penghubung ke walk in closet.


Dengan menghela nafas panjang dan mengumpulkan keberaniannya, Suci mengangkat tangannya perlahan dan mengetuk daun pintu di depannya.


"Assalamualaikum mas, apa aku bisa masuk??"


Tak ada jawaban dari dalam sana, membuat Suci semakin cemas dan kembali mengetuk pintu bercat putih di depannya.


"Mas, kamu gak papa kan? Apa aku boleh masuk??"

__ADS_1


Hening, masih tak ada jawaban dari Arga. Rasa cemas menuntun Suci untuk membuka pintu di depannya, ia melangkah pelan dan mengedarkan pandangannya setelah pintu itu terbuka. Arga tampak tertidur di atas sofa panjang yang terdapat di ruangan itu.


"Pantesan gak jawab, kamu tidur mas. Pasti kamu capek banget terus nemenin aku". Suci bermonolog sendiri, mata teduhnya awas menatap paras tampan suaminya, pria itu tertidur pulas hingga tak terbangun meski Suci berbicara.


Suci mendekat, ia tersenyum menatap wajah polos suaminya yang tertidur bak seorang bayi. Pulas, polos, dan lembut, itulah gambaran wajah tampan Arga saat tertidur, membuat Suci enggan berpaling jika saja sesuatu yang terselip di antara jemari Arga yang saling menumpuk di atas perut datarnya tak menarik perhatiannya dan membuat keningnya berkerut.


Sebuah foto, dan rasa penasaran Suci membuat tangannya terulur untuk menarik dengan pelan foto itu dari tangan Arga.


Suci mengatupkan bibirnya, dadanya terasa terguncang saat melihat gambar sepasang manusia yang ada dalam foto itu. Tampak tersenyum lebar dan saling berpelukan erat dengan mata yang saling menatap.


"Dokter Clara.." Lirih Suci, dan yang membuatnya semakin terasa sesak adalah, Arga, suaminya itu terlihat sangat bahagia dalam foto itu. Tatapan matanya menyiratkan cinta yang dalam pada Clara. "Astaghfirullah, seharusnya aku tidak melihat ini".


Suci memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Ia mengusap dadanya berkali-kali agar rasa sesak itu segera menghilang, tapi tetap saja tak merubah apapun. "Ya Allah, ada apa lagi ini? Apa aku terlalu bodoh? Aku sama sekali tidak mengetahui keadaan dan masa lalu suamiku. Apa aku harus menanyakannya dan mendengar penjelasannya. Tidak, aku akan menunggunya berbicara lebih dulu, aku yakin dia akan menceritakannya padaku".


Suci mencoba meyakinkan hatinya, menguatkan keyakinan jika suaminya akan berterus terang tentang apapun itu, termasuk tentang Clara dan foto itu.


Karena perasaan yang tak menentu, membuat Suci melewatkan makan malamnya. Ia terlalu malas dan rasa laparnya menghilang setelah melihat gambar dalam foto itu. Akhirnya Suci tertidur.


Udara yang semakin dingin membuat Arga menggeliat, kaki dan tangannya yang terbuka membuatnya semakin merasakan hawa dingin yang berasal dari pentilasi ruangan itu dan dari pendingin ruangan yang masih menyala.


Matanya perlahan terbuka, ia mengedarkan pandangannya dan mulai beranjak duduk untuk mengumpulkan kesadarannya. "Kenapa aku bisa ketiduran disini sih". Gerutunya.


Ia teringat, karena terlalu asik mengingat masa lalunya, Arga sampai tertidur. "Foto, mana foto itu". Arga mengangkat tubuhnya dari sofa, karena seingatnya, ia tengah menggenggam foto itu saat ia tertidur tadi. Arga bernafas lega saat menemukan foto itu di atas meja, namun kemudian ia tersadar akan sesuatu. "Kok bisa di meja? Aku ingat betul, aku memegangnya. Tapi kenapa sekarang malah di sofa??"


Tak mau ambil pusing, ia kembali memasukan foto itu ke dalam laci meja kerjanya. Ia tak mau jika sampai Suci melihatnya dan salah faham. Suci? Astaga, Arga melupakan Suci. Arga melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, artinya jam makan malam sudah lewat. Tapi ia tak mendengar Suci membangunkannya.


Dengan langkah terburu-buru, Arga keluar dari ruangan kerjanya melalui pintu yang lain, bukan pintu penghubung antara ruang kerja dan kamarnya. Arga menuruni anak tangga dan menuju ke meja makan. Para pelayan tampak tengah membereskan meja makan dan memasukan makanan yang telah tersaji ke lemari dapur.


"Bi, apa istri saya sudah makan malam?" Tanya Arga, ia duduk di salah satu kursi dan membuat para pelayan menghentikan kegiatannya dan menunduk segan pada sang tuan.

__ADS_1


"Tadi saya sudah memberi tahu nyonya, bahwa makan malam sudah siap, dan nyonya mengatakan akan turun bersama tuan, tapi sampai sekarang nyonya tidak turun tuan".


Arga mengerutkan dahinya, mungkinkan Suci membangunkannya dan masuk ke ruangan kerja tapi ia yang terlelap tidur tak menyadarinya.


"Hangatkan lagi makanannya, saya akan melihat istri saya dulu."


"Baik tuan".


Arga menaiki anak tangga dengan perasaan tak menentu, antara cemas, takut dan merasa tidak enak karena telah mengabaikan Suci. Dan lebih cemasnya lagi, Arga takut Suci melihat foto itu.


Sampai di depan pintu kamar, Arga menggelengkan kepalanya, mengusir rasa takut yang belum tentu keadaannya seperti yang ia duga. Pelan pintu itu terbuka, Arga semakin merasa bersalah saat melihat Suci tertidur meringkuk tanpa memakai selimutnya.


Arga berjalan pelan, duduk di sisi ranjang dimana Suci berbaring. Ia mengusap lengan Suci dengan lembut, "Sayang, bangun. Kamu belum makan malam". Ucapnya


Suci menggeliat, perlahan matanya terbuka. Dan senyuman Arga menyambutnya.


"Bangun dulu, kita makan malam. Kenapa kamu melewatkan makan malam hem?" Suara lembut Arga membuat Suci menatap mata tajam Arga dengan lekat, kemudian menunduk dan berucap. "Bagaimana aku bisa makan, sementara kamu sendiri gak makan?"


"Maafkan aku, aku ketiduran tadi. Kita makan dulu yah?"


Arga menggenggam tangan Suci, namun Suci menariknya kembali dengan pelan. "Mas makan saja, aku gak lapar. Aku mau tidur lagi, aku sangat lelah".


Suci kembali berbaring membelakangi Arga, pria itu mengehela nafas dalam. Ia mulai merasakan sikap berbeda istrinya. "Sayang, kalau kamu gak makan, anak kita gimana? Dia nunggu-nunggu makanan dari kamu loh. Kami gak lapar, tapi aku yakin anak kita sangat lapar".


Suci terdiam, iya, Arga benar. Suci tidak boleh egois, hanya karena ia merasa cemburu, tapi ia mengabaikan janin yang sangat memerlukan asupan gizi darinya. Ia pun kembali beranjak duduk. "Maaf, aku melupakan itu. Baiklah, aku mau makan".


Arga tersenyum, ia meraih tangan Suci dan menuntunnya turun dari ranjang. Meski masih terasa mengganjal, tapi Suci berusaha memendamnya, demi janinnya, hanya demi calon anaknya.


**Guys, mampir di cerita mak yang lain yah. Klik aja profil Mak, kalian akan bisa menemukan cerita2 mak yang lain.

__ADS_1


Mampir juga ke apk Kuning sama Ijo. ada cerita mak yang lain juga...


Makasih banyak banyak buat kalian yang selalu setia mengikuti cerita² receh Mak dan nyempetin like sama komennya.🙏🙏**


__ADS_2