
Setelah merasa tenang, Suci membersihkan dirinya di bantu oleh nyonya Tara. Perempuan yang menginginkan di panggil mama oleh Suci itu tampak sangat telaten dan lembut dalam mengusap tubuh Suci yang sebagian penuh luka.
Nyonya Tara meneteskan air matanya saat melihat banyak bekas gigitan di leher dan dada Suci. "Ya Allah nak". Lirihnya.
Suci bergeming, membiarkan nyonya Tara membersihkan tubuhnya. Tatapannya lurus dan kosong, hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti yang menggambarkan betapa ia sangat tersakiti.
Berkali-kali nyonya Tara memeluk Suci, mengecup keningnya. Istighfar terus terucap dari bibirnya, ia saja yang hanya melihat tak kuat, hatinya terasa di iris-iris sembilu melihat hancurnya Suci.
"Mama mohon nak, menikahlah dengan putra mama, agar dia bisa menebus dosanya padamu dengan menjaga mu".
Suci menoleh, menatap nyonya Tara yang tengah mengelap tubuhnya di bagian lengan.
"Mama". Lirihnya.
Nyonya Tara terkejut mendengar Suci memanggilnya mama, gerakan tangannya sampai terhenti. Ia menatap Suci dengan lembut, kemudian memeluk Suci dan mengecupi puncak kepalanya. "Iya sayang, ini mama, putri ku, ini mama nak". Nyonya Tara menangis haru, ia bahagia, ia akan memastikan Suci akan benar-benar menjadi putrinya.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Suci kembali berbaring di atas ranjang. Nyonya Tara mengatakan, jika kedua orang tua Suci tengah di jemput oleh sopir keluarganya. Ia takut menatap dunia luar, baginya dunia luar terlalu kejam.
Pukul tujuh malam, keluarga Arga dan Suci makan malam bersama, kecuali Suci yang menolak ikut bergabung. Kedua orang tua Suci belum memgetahui apa yang terjadi dengan putrinya hingga perempuan itu terlihat muram, tak ada senyuman seperti biasanya ketika Suci dan ummi nya berbicara. Matanya tampak menatap kosong, raut wajahnya menyiratkan beban yang sangat berat hingga wajah berserinya tertutup.
Setelah makan malam, semua berkumpul di kamar yang di tempati Suci. Suci masih diam dengan tatapan kosong, hanya sesekali air matanya menetes. Makanan yang sengaja di antar ke kamarnya pun utuh tak tersentuh. Kepulan asap yang menandakan jika makanan itu masih hangat tak terlihat lagi, menandakan jika makanan itu telah dingin.
__ADS_1
Arga menghela nafas dalam, kemudian pria itu mulai menceritakan apa yang terjadi pada Suci pagi tadi.
Ummi Fatimah tak dapat lagi menahan tangisannya, Wanita tua itu menghambur memeluk putrinya yang juga tampak menangis dalam diam.
Tuan Tara dan Abi Abdullah menunduk dalam, begitu tragisnya nasib yang Suci alami. Padahal Suci gadis pendiam yang Sholehah, taat ibadah juga berbudi baik, berbakti pada kedua orang tua dan mempunyai tutur kata yang lembut. Allah tengah menguji keimanannya, agar kesabarannya juga bertambah lapang.
"Ya Allah nak, berat sekali ujian yang kamu alami. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga mu". Ummi Fatimah mengeratkan pelukannya pada sang putri, Suci tampak tak berdaya dengan semua kepedihannya.
"Ummi, Abi, ijinkan Arga menjaga Suci, ijinkan Arga menikahinya". Ucap Arga tegas.
Semua orang terkejut, semua mata tertuju pada Arga yang tampak bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
Kini semua orang menatap Suci, menunggu jawaban darinya.
"Nak, kamu putri mama kan?". Nyonya Tara mendekat pada Suci, duduk di hadapannya dengan menggenggam tangan Suci yang terasa dingin.
Suci menoleh pada Ummi Fatimah yang duduk di sebelahnya. Wanita berwajah teduh itu tampak tersenyum lembut. Kemudian Suci kembali menatap nyonya Tara, ia mengangguk dengan tetesan air mata yang semakin deras.
Nyonya Tara tersenyum dengan jawaban Suci, ia mengusap pipi lebam Suci dengan lembut, "Kalau begitu, jadilah putri mama yang sesungguhnya. Menikahlah dengan putra mama nak."
Suci menunduk, ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia tak ingin hidup dengan pria yang menghancurkannya. Tapi di sisi lain, ia juga sedikit terenyuh dengan perlindungan Arga dan niat baiknya.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, Dengan menyebut nama Allah, saya terima niat baik Pak Arga." Dengan bibir bergetar Suci akhirnya memberikan jawabannya. Ia mengesampingkan rasa takutnya pada Arga, mendengar niat baik Arga membuat hatinya tiba-tiba yakin dengan rencana Allah di balik musibah ini. "Tapi saya ingin akadnya malam ini juga pak Arga". Ucap Suci dengan tertunduk.
Arga terkejut, tapi tidak dengan para orang tua. Mereka tampak mengangguk setuju.
"Abi setuju nak Arga, lebih baik niat baik tidak usah di tunda-tunda lagi". Kata Abi Abdullah, yang di iya kan oleh yang lainnya.
"Tapi saya belum mempersiapkan mahar dan yang lainnya Abi".
"Saya tidak akan meminta mahar pak Arga, seadanya saja". Suci berucap dengan gemetar. "Ya Allah, semoga ini jalan ku". Batinnya.
Arga melepas kalung perak kesayangannya, "Untuk sekarang, saya hanya punya ini".
"Tak apa pak, yang penting pak Arga ikhlas". Ucap Suci lagi.
"Alhamdulillah". Sahut para orang tua berbarengan.
Dalam waktu singkat, Arga menyiapkan keperluan pernikahannya. Pernikahan itu di laksanakan secara agama terlebih dahulu, baru nanti Arga akan mengurus berkas-berkas agar pernikahan mereka bisa tercatat secara hukum juga.
Nyonya Tara dan ummi Fatimah menyiapkan Suci agar perempuan itu terlihat segar dan mengganti gamisnya dengan gamis putih dan jilbab putih dari nyonya Tara.
Tak hentinya Suci beristighfar, agar kegundahan di hatinya berkurang juga niatnya di mudahkan. "Ya Allah, mudahkan niat kami, semoga aku tidak salah melangkah, ampuni aku jika pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalahan".
__ADS_1